Rumah Adat Dalam Loka, NTB

Mengenal lebih dekat istananya para raja Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penasaran? Ini ulasannya.
Umi Kalsum Founder PVK Grup dan CEO Media GRUP,BERITA PARIWISATA INDONESIA,DALAM LOKA,DESTINASI WISATA SEAJARAH,HALO INDONESIA,INDONESIA CULTURE AND TOURISM,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIAN TOURISM WEBSITE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA,MEDIA PVK GRUP,PARIWISATA INDONESIA,RUMAH ADAT DALAM LOKA,RUMAH ADAT NTB,RUMAH ADAT DAERAH,RUMAH ADAT NUSA TENGGARA BARAT,RUMAH ADAT NUSANTARA,RUMAH ADAT RAJA RAJA SUMBAWA,SITUS MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA,SITUS PARIWISATA INDONESIA,SITUS RESMI PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,WISATA SEJARAH SUMBAWA,ISTANA DALAM LOKA,NTB,PARIWISATA INDONESIA

PariwisataIndonesia.id – Rumah adat yang ada di setiap daerah di Indonesia memiliki bentuk dan makna serta keunikan tersendiri, rumah juga mempunyai posisi penting dalam sendi kehidupan, yaitu sebagai tempat individu dan keluarganya berlindung secara jasmani dan memenuhi kebutuhan akan spiritualnya.

Baca juga :  Blusukan Menteri Sandiaga di Mandalika, Protokol CHSE dan #Gercep MotoGP

Mengenal lebih dekat rumah adat “Dalam Loka” yang ada di kabupaten Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), ini ulasannya.

Salah satu destinasi wisata sejarah populer di NTB ini, masih berdiri kokoh hingga kini, yakni rumah adat “Dalam Loka” adalah bukti sejarah di masa lampau dari kerajaan Sumbawa. Lokasinya berada di tengah kota Sumbawa Besar.

Baca juga :  NTB “Ngegas” Pariwisata di s021, Yuk Jadwalkan

Bangunan istana terbuat dari bahan kayu berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 meter persegi. Di dalam istana, terpampang rapih foto para sultan dan silsilah para raja Sumbawa.

 

Baca juga :  Kemenparekraf #Gercep! Papa Online Datangi Menteri PUPR, Bahas Apa, ya

Istana Dalam Loka dibangun tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalalludin Syah III (1983-1931) merupakan sultan ke-16 dari Dinasti Dewa Dalam Bawa. Konon katanya, dibangun memakan waktu sembilan bulan 10 hari, sama seperti usia bayi dalam kandungan.

Baca juga :   Mandalika Bersolek untuk Dunia, Memesona dan Eksotik

Makna dan nilai filosofis “Dalam Loka”

Makna dan nilai filosofis istana yang dibangun digambarkan sebagai “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah” yang berarti semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan ajaran Islam.

“Dalam Loka” berasal dari 2 kata dalam bahasa Sumbawa, yakni “Dalam” yang berarti istana dan “Loka” artinya dunia.

Menelisik fungsi rumah adat sang raja berdiri dengan ditopang oleh 99 tiang, melambangkan 99 sifat Allah (asmaul husna) dalam ajaran Islam.

Struktur dan Arsitektur “Dalam Loka”

Saat memasuki rumah adat ini, arsitekturnya dihiasi ukiran-ukiran khas daerah pulau Sumbawa yang disebut Lutuengal. Bermotifkan bunga atau dedaunan. Beratapkan kembar, Ini maknanya!

Diperhatikan dari struktur dan arsitektur istana, mencerminkan keseluruhan bangunan memadukan budaya melayu dan kental nuansa simbol-simbol religius.

Pesan yang disampaikan, tidak cuma istana, bahkan semua sendi kehidupan masyarakat kala itu, dan roda pemerintahan raja Sumbawa, seperti aspek adat istiadat, dan kesukuan mengandung nilai-nilai Syariah.

Ciri khas lain istana, saat memasuki tangga depan, akan merasakan perbedaan dari kebanyakan rumah panggung yang ada di kerajaan-kerajaan nusantara, yaitu:

Pertama, pada lantai kayunya ditempeli sejumlah potongan kayu sebagai penahan pijakan dengan tiang-tiang penyangga yang mampu menopang tegaknya rumah yang terbagi menjadi 2 ukuran sama besar (kembar) bernama Bala Rea atau Graha Besar.

Dimana istana ini memiliki satu pintu akses yang besar, baik untuk masuk dan keluarnya. Satu tangga di tengah beralaskan lantai kayu tapi dimiringkan hingga menyentuh tanah.

Tangga tersebut memiliki 17 undakan anak tangga, merujuk pada salah satu bagian dari rukun salat yakni “attahiyat” juga mengingatkan kepada Sultan beserta segenap rakyatnya untuk melaksanakan sholat 5 waktu sebanyak 17 raka’at sehari semalam.

Kedua, Bangkung di bagian atap istana menggambarkan bangunan “dalam loka” menghadap ke selatan, tidak berhadapan dengan Masjid Kesultanan. Lebih tepatnya berdiri mengarah ke arah bukit Sampar dan alun-alun kota. Dimaknai sebagai pesan toleransi bagi penghuni istana jika tidak sempat salat berjamaah di masjid.

Ditinjau arah mata angin, “selatan” dipahami akan memberikan suasana “senap semu nyaman nyawe” (sejuk, damai, nyaman dan tenteram) bagi penghuni bangunan istana. Dari teknik arsitektur mengajarkan, arah selatan bermakna “berpijak pada masa lalu” artinya Sultan harus arif mengambil hikmah dari kejadian masa lalu untuk kebaikan masa kini.

Ketiga, terdapat arsitektur berbentuk buah nanas yang menggambarkan simbol-simbol religius “Habluminannas” (hubungan antar manusia).

Terakhir, arsitektur bangunan untuk seni ukir kayu, melukiskan flora dan dedaunan. Penyebabnya, akulturasi Islam dalam budaya lokal. Seni ukir, seni patung dan seni lukis makhluk hidup (hewan dan manusia) tidak diperbolehkan. Di zaman itu, seni ukir kayu tersebut sudah berkonsep Syariah. (Kusmanto/Ayu)

Halaman berikut:
1)    2)