Senjata Tradisional Kujang

Pusaka dari Tanah Pasundan
pariwisata indonesia

Jika pernah berkunjung ke Cisarua, Bogor, Sobat Pariwisata mungkin pernah melihat Tugu Kujang. Seperti namanya, puncak tugu kebanggan masyarakat Bogor ini berbentuk seperti Kujang, salah satu senjata tradisional Jawa Barat.

Tidak hanya di tugu tersebut, beberapa wilayah di Jawa Barat menggunakan gambar Kujang dalam logo wilayah, seperti Kota Depok, Kota Bogor, Kota Sukabumi, hingga lambang pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Apa sih hubungan Kujang dengan Jawa Barat? Simak ulasannya di bawah ini, ya.

pariwisata indonesia

Kujang berasal dari kata kudi (senjata sakti) dan hyang (dewa). Bagi masyarakat Jawa Barat, senjata yang memiliki panjang 20 hingga 25 centimeter ini memang menjadi satu kebanggaan tersendiri. Simbol kekuatan Kerajaan Pajajaran yang saat itu kekuasaannya mencangkup berbagai wilayah di Nusantara.

Kujang terbagi menjadi beberapa jenis. Pertama, Kujang Pamangkas yang digunakan sebagai alat untuk bertani dan berladang. Kedua, Kujang Pakarang yang digunakan sebagai senjata perang. Ketiga, Kujang Pangarak yang digunakan untuk eklengkapan upacara. Dan terakhir Kujang Pusaka yang digunakan sebagai lambang keagungan.

pariwisata indonesia

Kujang merupakan salah satu senjata tajam tradisional khas Provinsi Jawa Barat. Senjata berbentuk celurit ini diyakini telah ada sejak abad ke-8 atau ke-9 Masehi. Pada masa itu, Kujang hanya dipergunakan sebagai perlengkapan bertani mastarakat. Hal ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M).

Seiring perkembangan zaman, Kujang mulai mengalami penambahan fungsi. Pada abad ke-14, tepatnya pada masa kepemerintahan Prabu Bunisora (Prabu Kuda Lalean) dari Kerajaan Sunda Galuh, Kujang mulai dipergunakan untuk kepentingan lain.

Pada masa itu, Prabu Kuda Lalean juga mendapat ilham untuk merubah bentuk Kujang menjadi bentuk yang mirip dengan Pulau ‘Djawa Dwipa’ atau Pulau Jawa. Ia meminta Mpu Windu Supo, seorang pandai besi keluarga kerajaan untuk mendesain ulang bentuk Kujang.

Kujang pun dibuat seperti bentuk Pulau Jawa. Hal itu sesuai dengan cita-cita Sang Prabu untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Jawa di bawah kepemerintahan Kerajaan Padjajaran Makukuhan. Selain itu, pada bilah Kujang juga dibuat tiga buah lubang sebagai simbol trinitas dalam agama Hindu, yaitu Siwa, Brahma, dan Wisnu.

pariwisata indonesia

Material untuk membuat Kujang berasal dari besi, baja, dan pamor. Konon, pamor sendiri adalah benda yang tidak berasal dari bumi, misalnya batu meteor.  Namun, pamor juga bisa diartikan sebagai permukaan bilah Kujang yang bisa membawa manfaat baik (keselamatan bagi pemiliknya) atau manfaat buruk (membawa sial serta ingin membunuh musuh atau bahkan pemiliknya).

Pada masa Kerajaan Padjajaran, Kujang dibuat oleh seseorang yang disebut Guru Teupa. Dalam proses pembuatannya, Guru Teupa harus dalam keadaan suci dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan, seperti menunggu waktu yang tepat yang ditandai dengan munculnya salah satu bintang di langit.

Guru Teupa juga harus memiliki kesaktian tianggi agar bisa memasukan kekuatan magis dalam Kujang. Kekuatan itu bisa berasal dari roh para leluhur, siluman, roh binatang (harimau, ular), dan sebagainya.

Dalam perkembangannya kemudian, Kujang kembali mengalami perubahan bentuk. Saat pengaruh Islam masuk ke Tanah Sunda, tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Kian Santang (abad ke-15), mata pisau Kujang diperlebar dan dibuat berlekuk menyerupai huruf Arab ‘syin’, huruf pertama dalam lafaz syahadat.

Hal itu ditujukan agar para pemegang Kujang senantiasa mengingat Allah. Kujang juga dibuat dengan lima lubang sebagai tanda rukun Islam. Seiring perkembangan zaman, jumlah lubang Kujang pun bervariasi, antara 5 hingga 9 lubang.

Keberadaan Kujang sempat hilang sejak Kerajaan Pajajaran runtuh, sekitar tahun 1579 Masehi. Para kokolot atau orang-orang dulu, menyembunyikan kujang-kujang milik mereka karena kedaulatan Kerajaan Pajajaran dianggap tidak lagi eksis.

Namun, belakangan ini Kujang kembali disosialisasikan oleh para budayawan Sunda, sebagai salah satu kekayaan Provinsi Jawa Barat serta warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan.

Sobat Pariwisata bisa melihat berbagai jenis Kujang di Museum Prabu Siliwangi ya!  Berada di Komplek Pesantren Dzikir Al-Fath, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat.(Nita/RPI)