Tong Ting Tang

Nada Merdu Kolintang, dari Bumi Nyiur Melambai

Indonesia memiliki ragam alat musik tradisional yang tidak hanya dikenal di dalam negeri, bahkan juga dunia internasional. Salah satunya adalah kolintang, alat musik pukul dari Provinsi Sulawesi Utara. Kolintang sering digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti upacara adat, pengiring tarian, pengiring nyanyian, pertunjukan seni, hingga pemujaan arwah nenek moyang. Yuk, kita kenal lebih jauh alat musik ini!

Pariwisata Indonesia

Kolintang memiliki nada rendah yang disebut tong, nada tinggi yang disebut ting, dan nada sedang yang disebut tang. Konon, dari sinilah nama kolintang berasal. Pada masa lalu, masyarakat saling memanggil temannya untuk bermain kolintang. Panggilan itu berupa kalimat ‘maimo kumolintang’ yang berarti ‘ayo kita ber tong ting tang’. Kalimat tersebut pun disederhanakan menjadi kolintang.

Menurut cerita penduduk lokal, kolintang berasal dari kisah antara Makasiga dan Lintang. Makasiga merupakan seorang pemuda tampan yang memiliki keahlian di bidang ukir-ukiran. Sedangkan Lintang adalah gadis cantik, pandai menyanyi, dan bersuara merdu yang tinggal di desa To Un Rano (saat ini bernama Tondano). Pada satu pesta muda-mudi, Makasiga dan Lintang bertemu dan berkenalan. Makasiga jatuh hati pada Lintang, dan meminang sang pujaan hati. Namun, Lintang meminta satu syarat yaitu Makasiga harus menemukan alat musik yang suaranya lebih merdu dari suling emas.

Pariwisata Indonesia

Makasiga pun pergi keluar masuk hutan untuk mencari ide alat musik yang diinginkan Lintang. Untuk menghangatkan tubuh di malam hari, Makasiga menebang pohon, memotong, dan mengeringkannya, untuk dijadikan bahan bakar. Saat sedang mengumpulkan kayu yang sudah mengering, Makasiga melempar-lempar kayu tersebut. Lemparan kayu yang menyentuh tanah menghasilkan bunyi-bunyi yang merdu.

Bunyi-bunyian yang berasal dari kayu tersebut juga didengar oleh dua orang pemburu. Dengan berlalunya hari, Makasiga masih belum menemukan alat musik yang diminta Lintang. Ia pun jatuh sakit karena lupa makan dan juga minum. Kedua pemburu itu lalu membawa Makasiga ke desa. Namun, kondisi Makasiga semakin parah dan akhirnya meninggal dunia.

Mengetahui kabar kematian Makasiga, Lintang pun mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Gadis itu terus bersedih hingga akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia.

Pariwisata Indonesia

Kolintang merupakan alat musik tradisional yang mirip dengan gamelan Jawa. Namun, material untuk membuat kolintang berasal dari kayu bukan logam. Kayu-kayu yang digunakan merupakan kayu yang memiliki struktur kuat, ringan, serta memiliki serat rapi membentuk garis horizontal. Beberapa kayu yang sesuai dengan krilteria tersebut di antaranya kayu telur (Alstonia sp), kayu wenuang (Octomeles sumatrana miq), kayu cempaka (Elmerrillia tsiampaca), dan kayu waru (Hibiscus tiliaceus).

Kayu-kayu tersebut kemudian jemur hingga benar-benar kering, kemudian dibelah menjadi bilah-bilah kecil dengan ukuran tidak sama panjang, sehingga menghasilkan nada yang sesuai. Kayu pun disusun berjajar dari ukuran paling panjang hingga paling pendek.

View this post on Instagram

KOLINTANG POLTEKKES MANADO #kolintang #traditionalmusic

A post shared by KolintangSulut (@kolintang_sulut) on

Pada zaman dahulu, bilah-bilah kayu kolintang diletakan di atas kaki yang terjulur di tanah. Seiring perkembangan zaman, dua batang pisang digunakan sebagai penyangga dan tempat resonansi. Sejak Pangeran Diponegoro datang di Minahasa, tepatnya tahun 1830, penyangga berupa peti kayu mulai digunakan sebagai resonator dan tempat untuk menyusun bilah-bilah kolintang.

Seperti gamelan, cara memainkan kolintang yaitu dipukul dengan tongkat kayu. Bagian ujung tongkat diberi bantalan dari kain untuk membuat denting kolintang lebih nyaring. Tongkat pemukul yang digunakan biasanya berjumlah dua. Namun, untuk menghasilkan nada yang lebih kompleks, pemain harus menggunakan tiga buah tongkat. Jika berjumlah tiga, tongkat kayu pertama yang berfungsi dipegang oleh tangan kiri, sementara tongkat kayu kedua dan ketiga yang dipegang tangan kanan, yang diletakkan di sela-sela jari.

Jumlah tongkat yang banyak menjadi tantangan bagi pemain kolintang. Diperlukan latihan khusus untuk bisa memegang tongkat dengan benar, dan menghasilkan nada-nada merdu dari bilah-bilah kayu tersebut.

Meskipun merupakan alat musik kuno, kolintang cukup diminati oleh generasi muda. Kolintang kerap dimainkan baik secara tunggal maupun kolaborasi dengan berbagai jenis musik, seperti jazz, pop, hingga rock.

Seiring perkembangan zaman, kolintang pun ikut berkembang. Saat ini, terdapat setidaknya sembilan jenis kolintang yang menghasilkan suara yang beragam, yaitu loway (bass), cella (cello), karua (tenor 1), karua rua (tenor 2), uner (alto 1), uner rua (alto 2), katelu (ukulele), ina esa (melodi 1), ina rua (melodi 2), dan ina taweng (melodi 3).

Sobat Pariwisata! Sejak tahun 2013, Kolintang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Sulawesi Utara.(Nita)