Di bulan Ramadhan, Barongko menjadi salah satu menu takjil yang kerap dijajakan oleh pedagang kue tradisional di destinasi Pariwisata Indonesia di Makassar (Foto : Kanya)

Barongko

Kue Kejujuran untuk Takjil Ramadhan

Kue Kejujuran untuk Takjil Ramadhan

Halo, Pecinta Wisata Kuliner!

Bulan Ramadhan gini, bukan berarti kegiatan berburu kuliner terhenti, kan? Apalagi kalo lo melakukannya saat menunggu waktu berbuka. Ada banyak takjil (kudapan saat berbuka puasa) khas Nusantara yang menanti buat lo cicipi. Salah satunya adalah Barongko.

Di bulan Ramadhan, Barongko menjadi salah satu menu takjil yang kerap dijajakan oleh pedagang kue tradisional di destinasi Pariwisata Indonesia di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kudapan yang satu ini emang jadi salah satu kuliner khas kebanggaan masyarakat Suku Bugis dan Makassar.

Sebenarnya, Barongko merupakan singkatan dari kalimat barangku mua udoko (Bahasa Bugis) yang bermakna barangku sendiri yang aku bungkus. Istilah ini emang cocok banget, Gaes, karena Barongko adalah kuliner berbahan dasar pisang yang dibungkus dengan daun pisang.

Karena bagian isi dan pembungkusnya berasal dari satu tanaman, yaitu pisang, Barongko juga sering disebut Kue Kejujuran, loh. Bagi masyarakat Suku Bugis dan Makassar, kuliner ini memiliki nilai filosofis bahwa kata-kata seseorang harus selaras dengan tingkah lakunya.

Sebenarnya, Barongko merupakan singkatan dari kalimat barangku mua udoko (Bahasa Bugis) yang bermakna barangku sendiri yang aku bungkus. (Foto : pikiranrakyat)

Ada juga yang mengatakan bahwa makna filosofis kudapan yang satu ini adalah apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan manusia, harus sama dengan apa yang dilakukan. Pokoknya, kalo aku like aku like, kalo tak aku swipe. Gitu, Gaes!

Untuk membuat Barongko, ada beberapa bahan yang diperlukan di antaranya santan, telur, gula pasir, sedikit garam, dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu pisang kepok (Musa Paradisiaca L) yang sudah dilumatkan. Semua bahan-bahan ini dicampur lalu dibungkus daun pisang dengan bentuk seperti segitiga atap rumah. Kemudian adonan pun dikukus selama sekitar 30 menit. Barongko pun siap disajikan.

Memiliki tekstur lembut dan manis, Barongko emang cocok banget buat disajikan saat berbuka. Kandungan glukosanya yang tinggi bisa mengembalikan stamina lo setelah seharian berpuasa. Teksturnya yang lembut juga membuat Barongko aman untuk organ pencernaan.

Gue, sih, ngerekomendasiin lo untuk menyantap Barongko yang sudah didinginkan di kulkas. Cita rasa manis, tekstur lembut, dan sensasi yang dingin bakal bikin lo kembali segar.

Sst! Di masa lalu, lo mungkin enggak bisa bebas menikmati Barongko, loh. Pada masa Kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar, Barongko merupakan dessert yang hanya disajikan untuk para raja dan bangsawan. Penyajiannya pun cuma ada di waktu-waktu tertentu, seperti saat diselenggarakannya upacara adat.

Tapi seiring perkembangan zaman, Barongko pun mulai dikonsumsi oleh masyarakat umum. Selain di Bulan Ramadhan, Barongko menjadi kuliner yang wajib ada saat acara-acara adat, seperti khitanan, mappanre temme (tradisi megkhatamkan atau menamatkan Qur’an sebelum seseorang menikah), dan pesta pernikahan.

Di masyarakat Kabupaten Bone, biasanya Barongko yang disajikan dalam pesta pernikahan akan ditambahkan irisan buah nangka matang atau yang disebut panasa. Penambahan ini menjadi simbol pengharapan agar kedua mempelai menjalani rumah tangga yang langgeng.

Fyi, pada tahun 2017 Barongko sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, loh. Kalo sedang berkunjung ke destinasi Pariwisata Indonesia di Sulawesi Selatan, jangan lupa untuk mencicipi kuliner yang satu ini, ya Gaes ya.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023