Seni ukir atau seni pahat, bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah, menjadi bagian dalam hidup mereka yang tidak bisa dipisahkan, merupakan wujud mahakarya seni rupa ukir kayu Dayak yang sarat akan makna simbolis, spiritual, serta estetika visual yang tinggi.
Salah satu seni ukir atau seni pahat suku Dayak yang paling dikenal adalah Luhing Munduk atau juga disebut Pahatan Sandung. Biasanya berupa patung kecil yang berbentuk miniatur manusia, miniatur rumah, binatang, bangunan kecil menyerupai sandung, tarian, tokoh agama, dan lainnya. Bahkan beberapa patung menggambarkan beberapa orang anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Hasil seni pahat ini memiliki makna magis yang sangat kuat terutama bagi agama lokal Dayak Kaharingan dan menjadi simbol penting dalam kebudayaan Dayak.

Luhing Munduk tampil indah dengan ukiran yang menggambarkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Dayak. Perpaduan motif yang harmonis antara alur garis dan lekukan yang sangat dinamis. Pahatannya memadukan kelembutan motif vegetasi (sulur-suluran) dengan ketegasan bentuk-bentuk geometris serta figuratif khas alam Kalimantan. Ada juga menampilkan motif yang memperlihatkan ilustrasi tarian adat yang dianggap sakral atau cerita figur penting.
Luhing Munduk bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan menjadi sebuah media komunikasi spiritual dan penghormatan terhadap leluhur. Istilah nama Luhing dalam konteks ukiran atau perhiasan Dayak, diasosiasikan dengan taring, tajam, keindahan hiasan, atau simbol perlindungan. Kata Mundung merujuk pada puncak, gundukan, atau bentuk vegetasi pucuk tanaman yang tumbuh menjulang.
Dahulu, ukiran Luhing Munduk dibuat oleh para pemahat (tukang seni/pantak) yang memiliki keahlian lebih dari sekedar pemahat, yaitu juga memahami tata cara adat dan ritual. Sehingga ukiran tersebut dipercaya memiliki daya magis perlindungan (penolak bala) serta penanda status sosial dan spiritual pemiliknya.

Yang membedakan pahatan Luhing Munduk dengan karya seni pahat lainnya yaitu:
- Adanya motif lengkung dan sulur tumbuhan yang terinspirasi dari tanaman pakis, tunas keladi atau tanaman jenis sulur Hutan Hujan Kalimantan. Hal ini melambangkan pertumbuhan kehidupaan yang berkesinambungan dan kesuburan.
- Gaya pahatannya menggunakan tekhnik ukir tembus (krawangan) atau ukir timbul (relief) sehingga menciptakan ukiran yang tiga dimensi.
- Kerap mengkombinasikan motif flora dan fauna secara abstrak. Misalnya motif bintang/taring yang melambangkan kekuatan, burung Enggang yang melambangkan alam atas/kesucian, atau naga/batu sebagai symbol alam bawah/perlindungan).
- Hasil ukiran atau pahatannya terlihat organic, karena setiap lekukan mengikuti alur alami letak serat kayu.
Karya seni pahat Luhing Munduk mengandung pesan filsofi yang sangat mendalam. Setiap jalinan sulur dan tajamnya pahatan melambangkan hubungan harmonis antara manusia, alam (rambang) dan Sang Pencipta. Memadukan simbolisme alam atas (keberkahan/keindahan) dan alam bawah (kekuatan/perlindungan) dalam satu komposisi pahatan yang utuh.

Dengan menggunakan jenis kayu keras khas Kalimantan seperti kayu ulin (ironwood) atau jenis kayu garu yang tahan hingga puluhan tahun. Pemilihan kayu ini melambangkan ketahanan dan keteguhan masyarakat Dayak.
Setiap karya pahatan selalu dikerjakan secara manual dengan menggunakan pahat tradisional tanpa mesin modern sehingga menghasilkan karya yang unik dan tidak ada dua pahatan yang persis sama.
Hasil karya seni pahat Luhing Munduk menjadi sebuah manifestasi dari jati diri tingginya peradaban, yang mengandung nilai jembatan antara masa lalu, nilai spiritual, dan keindahan alam Kalimantan Tengah.(*)

































