PariwisataIndonesia.id mewawancarai pengamat media di tengah kesibukan dan padatnya jadwal Dhoni Kusmanhadji yang akrab disapa Dhoni. Selain itu, ia juga dikenal publik sebagai ‘news anchor’ di Televisi Republik Indonesia (TVRI).
Baca Juga: Pengamat: Sea Today Promosikan Indonesia ke Mancanegara, Mari Didukung
Karier Dhoni di dunia TV termasuk yang melesat cepat bak pesawat supersonik sampai akhirnya dipercaya sebagai Produser Berita di TVRI Nasional.
Baca Juga: Maestro Fotografi: Sea Today Masa Depan Televisi
Menyoroti peluncuran tv Sea Today, PariwisataIndonesia.id meminta tanggapan pria dengan perut six pack yang suka mengoleksi baju batik kekinian.
Sosok Dhoni sebagai pengamat media, tentu akan mewarnai sudut pandang tersendiri dalam menyikapi tv digital yang dikelola oleh anak perusahaan Telkom, yaitu PT. Metra Digital Media (MDM).
Mengawali wawancaranya, ia menegaskan, TVRI tidak mungkin menganggap Sea Today sebagai kompetitor (pesaing, red).
Sebab, platform TVRI adalah bersiaran tv digital gratis ‘free to air’, juga merupakan siaran analog yang menggunakan saluran uhf melalui antena yang dipancarkan lewat menara telekomunikasi atau tower.
“TVRI adalah tv gratis, tentu berbeda dengan Sea Today yang jelas-jelas ‘cable tv’ atau tv berlangganan. Dari format kedua tv ini saja sudah jelas berbeda,” sebut Pengamat Media, Dhoni Kusmanhadji kepada PariwisataIndonesia.id, pada Kamis (5/11) kemarin.
“Bahkan, secara ‘nature’ TVRI 100% adalah tv pelat merah. Tugas dan kelembagaan TVRI tertuang dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP), yaitu lembaga penyiaran berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara, bersifat independen, netral, tidak komersial, dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat,” sambungnya.
Lebih lanjut, katanya, tidak begitu dengan Sea Today, tv itu milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyasar profit.
Sementara, peran TVRI dipaksa oleh undang-undang dan mendapat mandat dari negara untuk menayangkan konten edukasi 30%, entertainment 30%, dan informasi 40%.
Untuk itu, TVRI, menurutnya, memang harus bertindak independen.
“Sebagai contoh, Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK) atau Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK). Lembaga ini mendapat mandat negara berdasarkan peraturan perundangan. Apakah KPK dan BPK bisa dicampuri dan tunduk melayani negara?,” terangnya.
Kemudian, katanya lagi, jika TVRI terkesan melayani pemerintah itu bukan melayani tapi menginformasikan ke masyarakat.
“Misal, ada program swab gratis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk masyarakat. Publik perlu tahu. Tapi buat tv lain bisa saja tidak seksi diberitakan, TVRI harus siarkan itu,” ungkapnya.
Pria berpenampilan parlente, juga menyampaikan soal TVRI yang pernah mengkritik pemerintah.
“Kritik dialamatkan untuk membangun. Bukan sensasi, apalagi mendongkrak rating. Jika tv lain cari rating untuk memperoleh banyak iklan, bagi TVRI utamanya bukan fokus di situ. TVRI akan melakukan yang dipandang perlu terkait apa saja yang sudah dilakukan pemerintah untuk bangsa ini,” tegasnya.
PariwisataIndonesia.id kembali bertanya, menanyakan
Saat ditanyakan sikapnya sebagai Produser TVRI, apabila diajak oleh tv Sea Today menjalin kerja sama kemitraan, pertukaran berita atau kerja sama produksi?
“Perkembangan tv di tanah air memang datanya menumbuhkan sedang tumbuh subur, dan TVRI bisa melakukan kerja sama dengan siapa saja. Terbuka luas kerja sama baik itu bersifat profit atau non profit. TVRI dengan senang hati menyambut tawaran tersebut. Silakan, tawaran dilayangkan ke kantor. Monggo!,” pungkasnya.
Sebelum mengakhiri wawancara, Dhoni mengingatkan agar ucapannya mesti digarisbawahi dan diwanti-wanti jangan sampai salah paham.
“Saya menyambut baik diluncurkannya TV Telkom bernama Sea Today dan Layak Didukung,” tutup Dhoni Kusmanhadji, selaku pengamat media yang juga sekaligus merupakan produser berita TVRI Nasional.
Profil Dhoni Kusmanhadji
Dhoni merupakan lulusan kampus Gunadarma, yang sempat bercita-cita menjadi rocker (musisi). Namun, usai menamatkan gelar sarjananya, ia pun menyadari jika bakat dan kemampuan untuk itu, terbatas.
Walhasil, mimpinya tersebut dikuburnya dalam-dalam, dan berusaha untuk hidup realistis hingga berlanjut kedunia kerja formal menggeluti pertelevisian.
Karir
News anchor
TVRI
Des 2001 – Saat ini 19 tahun, Jakarta, Indonesia
2012
Team Leader of the Indonesian press delegation (Kompas, Antara, Jakarta Post, Detik.com, TVRI), prior to, the state visit of President Susilo Bambang Yudhoyono to China. Registered as Journalist of the Presidential Palace covering state events, and International conferences
2006
Head of post production, translator and narrator of the ABU Special Jury Award winning “Tsunami on the day”
2004
TVRI – Sport presenter’s coordinator
TVRI anchors coordinator for special programs.
2003
TVRI satellite coordinator SEA Games Hanoi Vietnam
2002
Reporter/anchor for State events and special interviews for TVRI English News Service
Pendidikan
ORG Hegelgasse, Vienna
1991 – 1993
International Visitor Leadership Program USA
Public Broadcasting
2009 – Saat ini

TVRI Training Center
Television Broadcasting Technology
2002 – Saat ini
University of Gunadarma
Strata 1 Business, Management, Marketing, and Related Support Services.





































Leave a Reply