Pos Indonesia Bertransformasi, Sediakan Layanan PosAja! dan Pos Pay Bidik Milenial

PARIWISATAINDONESIA.ID – PT Pos Indonesia (Persero) berupaya bertransformasi mengikuti perubahan zaman. Perseroan yang hampir berumur 276 tahun ini, sekarang menyediakan layanan digital demi bangkit setelah dilanda pandemi Covid-19.

Direktur Bisnis Kurir dan Logistik Pos Indonesia Siti, Choiriana mengatakan, tansformasi digital menjadi roda pendorong bisnis perseroan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Salah satu caranya dengan menyediakan aplikasi PosAja! dan Pos Pay.

Choiriana merinci, aplikasi PosAja! melayani pelanggan di bidang jasa kurir atau pengiriman surat dan paket. Aplikasi ini juga telah terintegrasi dengan market place yang ada di Tanah Air.

Seperti di dunia online seperti sekarang, kemudahan tersebut akan sangat terasa oleh masyarakat yang memiliki kegiatan online shop. Soalnya fitur dalam aplikasi tersebut telah dirancang untuk melayani pelanggan dengan lebih cepat lagi.

Sementara untuk aplikasi Pos Pay melayani pembayaran melalui digital. Pelanggan hanya perlu mendaftar akun, setelah itu bisa menggunakan sejumlah fitur mulai dari pembayaran listrik, tagihan air, isi pulsa, kurir, tagihan premi BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, hingga pengiriman uang bagi para pensiunan.

“Jadi masyarakat nggak perlu repot dan capek untuk bepergian, tinggal mengakses aplikasi PosAja! dan Pos Pay untuk kegiatan transaksinya,” kata Choiriana saat jumpa pers di Mal Sarinah, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (29/7/2022).

Menurut dia, aplikasi ini dapat diunduh secara gratis melalui gawai masyarakat berbasis Android maupun iOS. Untuk gawai berbasis Andriod dapat mengakses melalui Play Store, sedangkan iOS melalui App Store.

Kata dia, fitur-fitur yang tersedia sangat memudahkan pelanggan karena hampir semua layanan yang ada di kantor telah dipindah ke dalam gawai yang biasa disimpan di kantong. Karena itu, aplikasi ini sangat cocok bagi kaum milenial dan generasi Z yang terbiasa dengan teknologi.

Selain memudahkan masyarakat, kata Choiriana, transformasi digital ini untuk menepis paradigma di masyarakat mengenai Pos Indonesia yang melekat dengan para orang tua. Dia memaklumi perspektif itu, karena Pos Indonesia hampir berusia tiga abad.

“Dulu Pos Indonesia sering dipakai oleh orang tua untuk berkirim surat, namun di era digitalisasi sekarang generasi milenial dan gen Z juga tetap bisa menggunakan pelayanan Pos Indonesia melalui Pos Aja! dan Pos Pay,” imbuhnya.

Dia mengatakan, aplikasi PosAja! yang dibentuk pada pertengahan tahun lalu tersebut bertujuan untuk menjawab tantangan layanan kurir digital yang menuntut serba cepat, murah, mudah, dan sederhana.

Dulu sebelum ada transformasi digital, produk pos hanya tersedia pengiriman reguler yang membutuhkan waktu lebih lama.

Namun, sekarang Pos Indonesia sudah memiliki layanan premium instan untuk pengiriman paket dan surat dalam kota dengan batas waktu maksimal tiga jam, serta layanan pengiriman sameday dan next day.

Selain itu, perseroan juga sudah bekerja sama dengan beberapa e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak terkait jasa pengiriman barang.

Aplikasi PosAja! awalnya diperuntukkan untuk kurir digital Pos Indonesia, lalu berkembang menjadi aplikasi yang juga bisa dipakai oleh masyarakat umum yang ingin merasakan kemudahan berbelanja. Layanan ini juga sudah kami masukkan ke aplikasi kurir PosAja! yang terhubung dengan marketplace.

“Aplikasi ini bisa beli sembako, produk fesyen, hingga buku Gramedia. Jadi layanan yang diberikan Pos Indonesia itu semakin mudah, dan layanan kami itu termurah, terpercaya dan terluas,” tuturnya.

Bersasarkan catatannya, PosAja! kini telah terhubung dengan delapan marketplace, yaitu Bazara, Beemarket, Bhinneka, Brayamart, Belibenih, Indonesia in Your Hand, Padi UMKM, dan Gramedia.

Layanan ini baru bisa diakses oleh masyarakat yang bermukim di 20 kota besar di Indonesia, di antaranya Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan lainnya.

Dalam waktu dekat, perseroan juga akan bekerja sama dengan toko daring DJ.ID agar bisa bergabung ke dalam ekosistem kurir Pos Aja! dan memperluas jangkauan aplikasi tersebut ke berbagai daerah.

“Tanpa digitalisasi di Pos Indonesia ini, kami tidak bisa melakukan pembaharuan. Sekarang mau melakukan apapun sudah bisa tracking dan tracing melalui aplikasi,” pungkasnya.

Selain digitalisasi layanan kurir, Pos Indonesia juga memiliki layanan keuangan digital bernama Pospay. Layanan ini dapat memudahkan masyarakat dalam melakukan berbagai kegiatan transaksi keuangan mulai dari transfer uang ke berbagai rekening bank, kirim wesel instan, transfer giro, membayar beragam tagihan, token listrik, tagihan PDAM, pulsa, hingga membeli paket data.

Layanan Pospay juga ada yang syariah dengan menyediakan fitur pembayaran zakat, infak, sedekah. Ke depan, layanan ini juga akan dilengkapi dengan banyak fitur, seperti pembayaran haji atau umrah, pembayaran syariah, pembiayaan syariah, asuransi syariah, investasi syariah, e-commerce syariah, hingga tabungan emas yang juga menganut prinsip syariah.

Dia menambahkan, PT Pos Indonesia terus berbenah dengan memetakan dan mengaplikasikan setiap peluang bisnis. Tujuannya untuk merawat simbol kekuatan layanan pos yang kini telah berlangsung selama hampir tiga abad.

“Perusahaan ini harus bangkit karena usianya pada tahun ini akan menginjak 276 tahun. Kami terus memikirkan fundamental bisnis Pos Indonesia, salah satunya digitalisasi,” jelasnya.

Choiriana menjelaskan bahwa transformasi digital menjadi pemicu adanya pembaruan mulai dari layanan kurir, produk dan kanal, teknologi, hingga kultur di Pos Indonesia. Program ini merupakan salah satu cara Pos Indonesia bersaing dengan perusahaan-perusahaan logistik lain.

Siti mengungkap, ada tiga cara cepat dalam mendorong pertumbuhan sebuah perusahaan, yakni build, buy, dan borrow. Pos Indonesia memilih strategi borrow melalui aksi kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengembangkan bisnis dan menjalankan program transformasi.

Secara umum Pos Indonesia bukan perusahaan digital, karena sumber daya manusia dulunya direkrut untuk menjadi petugas. Saat itu mereka dijadikan sebagai petugas administrasi yang mencatat pengiriman surat.

“Strategi build itu kalau kami punya kapabilitas dan buy kalau kami punya uang, tapi kedua hal ini kami tidak punya, sehingga kami memilih borrow,” ucapnya.

“Kalau borrow, kami tinggal pilih partner yang mau bekerja sama dengan pos. Kami open dan ambil yang tercepat,” tutupnya. (Ben)

× Hubungi kami