Potensi Wisata Bahari Nasional Masih Terbuka Luas, DPP INSA Gandeng Kadin Indonesia dan Bertekad Lakukan Hal Ini

PariwisataIndonesia, Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto, Potensi Pariwisata Bahari Indonesia Menggiurkan
Ilustrasi gambar: Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto saat ditemui di Menara Kadin, Selasa (18/2/2020) / (Foto: Media PI/Dok. BISNIS/Rinaldi M. Azka)

PariwisataIndonesia.id, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia angkanya meningkat pesat pada April 2022, hingga mencapai 172,27 persen (mom) atau 111,1 ribu kunjungan.

Sementara, pada Maret 2022 hanya bertengger 40,8 ribu kunjungan. Begitu pula penanganan Covid-19 di tanah air, terus menunjukkan pemulihan yang kian hari makin membaik.

Seiring dengan hal tersebut, Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners Association (DPP INSA) menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk bersama-sama mempromosikan wisata bahari nasional.

Merespons data itu, Ketua Umum DPP INSA, Carmelita Hartoto dalam penjelasannya mengatakan, bahwa sudah semestinya bila sektor ini harus mulai digenjot lagi karena sangat potensial di Indonesia.

Sejalan dengan hal tersebut, pihaknya merencanakan akan menggelar mini gathering INSA Yacht Festival (IYF), guna mendukung dan mempromosikan serta mengenalkan kapal pesiar yacht di Indonesia.

Carmelita menambahkan, perhelatan itu akan dilangsungkan di Benoa Marina, Bali, pada September 2022.

“Potensi pariwisata bahari di Indonesia cukup terbuka. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak sekali spot untuk wisata bahari,” kata Carmelita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/6/2022).

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum III DPP INSA, Nova Mugijanto menguatkan yang disampaikan Carmelita, dengan menegaskan, bahwa potensi wisata bahari di Indonesia masih terbuka luas.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak sekali spot untuk wisata bahari.

Sambungnya, ditambah lagi, Pemerintah juga tengah mempersiapkan lima destinasi pariwisata super prioritas (DPSP), yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

“Untuk itu, INSA menilai perlu ada ajang agar kita bertemu untuk membedah peluang dan tantangan sekaligus mempromosikan pariwisata bahari kita kepada dunia,” terangnya.

Kendati demikian, ia mengaku, pengembangan wisata bahari di Indonesia masih memiliki beberapa tantangan. Salah satu tantangan yang dialami sekarang ini adalah pengembangan infrastruktur marina.

Dia menerangkan, secara keseluruhan total marina di Indonesia masih sangat terbatas jumlahnya. Kondisi ini-lah yang membuat kapal-kapal pesiar asing maupun lokal, termasuk yang dimiliki secara pribadi atau perseorangan.

Menyinggung soal itu, ia memastikan, masih sulit mendapatkan tempat yang aman melabuhkan kapal. Terbatasnya jumlah marina, kata dia, disebabkan karena belum ada aturan khusus untuk pembangunan marina.

Sebagai catatan, masih terpaut kendala hal dimaksud, saat ini payung hukum pembangunan marina menggunakan regulasi terminal khusus (Tersus) yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan.

Dijelaskan dalam peraturan tersebut, kapal yacht masih dikategorikan sebagai barang mewah untuk pribadi, namun tatkala difungsikan guna menunjang usaha pariwisata, maka dimungkinkan memperoleh Surat Keterangan Bebas (SKB) PPnBM.

Di sisi lain, dalam pengembangan bisnisnya sendiri, model bisnis marina sangat padat modal dan membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan modal investasinya.

“Kita harap segala tantangan ini bisa dicarikan solusinya, sehingga potensi wisata bahari benar-benar tergarap optimal untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Selepas menyampaikan hal tersebut, ia juga menjelaskan rencana kerja DPP INSA lainnya, ini pun masih dalam agenda untuk mendukung promosi pariwisata bahari nasional.

INSA akan melancarkan program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan melakukan pelestarian dan transplantasi terumbu karang di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Di mana, cakupan pelestarian terumbu karang seluas 377 meter persegi dan pembuatan 188 unit substrat dengan memberdayakan masyarakat setempat.

Perihal tersebut, sebagai wujud dari kepedulian pengusaha pelayaran nasional terhadap lingkungan dalam pelestarian terumbu karang.

“Terutama terhadap pemulihan ekosistem terumbu karang, yang diketahui telah rusak di beberapa spot-spot seperti misalnya di wilayah Kepulauan Seribu,” tuturnya.

Menyoroti hal itu, DPP INSA Carmelita mengungkapkan tujuan dari upaya pelestarian terumbu karang ini, akan berdampak pada kelangsungan hidup berbagai jenis ikan maupun rumput laut, yang bisa dimanfaatkan untuk objek wisata atau dikonsumsi serta dijual sebagai sumber pendapatan dan ekonomi masyarakat.

Lebih lanjut, katanya, selain memberi manfaat dari segi lingkungan, pelestarian terumbu karang pada gilirannya juga berdampak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi setempat. Karena, keindahan biota laut terjaga, dapat dijadikan objek wisata yang menarik bagi wisatawan di wilayah tersebut.

“Acara ini tidak semata seremonial CSR, tapi juga merupakan bentuk komitmen INSA untuk ikut menjaga dan melestarikan lingkungan khususnya laut kita,” tandasnya. (Eny)

× Hubungi kami