Sandiaga Uno Beri Contoh Baik Soal Gratifikasi

PariwisataIndonesia
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno
PariwisataIndonesia.id – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno adalah sosok pria berzodiak Cancer dipercaya berkarakter welas asih, setia dan cinta keluarga.

Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, sempat viral di media sosial serta diberitakan di media massa diduga membayar mahar Rp500 miliar saat mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto maju sebagai Cawapres.

Politikus Partai Gerindra ini, juga dicintai para emak-emak dan milenial, yang dianugerahi wajah innocent menjawab rumor kala itu, mengelus dada sambil tersenyum-senyum.

Dibalik senyumnya tersebut, tersembunyi raut wajah kesedihan yang ia tutupi.

Sebelumnya, Menteri Sandiaga Uno bercerita soal pengalamannya saat menerima gratifikasi ketika masih menjabat di pemerintahan. Cerita disampaikan, usai menandatangani dan menetapkan SK Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) di kantornya.

“Ini harus dicatat. Saya pernah berpengalaman di pemerintah,” kata Sandi dalam acara pengawasan dan sosialisasi anti korupsi di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin, 15 Februari 2021.

Papa Online disebut-sebut ada dalam daftar sepuluh besar kepatuhan gratifikasi 2015-2018. Nama Sandiaga Uno diperoleh informasi, peringkat kelima pelapor gratifikasi terbanyak ke KPK.

Dari data yang redaksi himpun, per Maret 2018, telah melaporkan 21 dugaan gratifikasi. “Sesuai dengan klasifikasi gratifikasi, semua akan kami laporkan,” katanya menanggapi pertanyaan awak media, Jakarta, Senin, 16 April 2018.

Sandiaga Uno berujar, pelaporan itu merupakan bentuk kepedulian dan kesadarannya akan potensi gratifikasi selama menjadi pejabat publik.

Selain itu, dia ingin memberi contoh kepada semua anak buahnya di pemerintahan DKI ihwal ketaatan pelaporan gratifikasi ke KPK.

Sikap tegas Sandiaga Uno sangat wajar. Ketika, Muhammad Taufik terjerat kasus korupsi saat menjabat Ketua KPU DKI Jakarta. Divonis 18 bulan penjara pada 27 April 2004 karena merugikan negara Rp 488 juta dalam kasus korupsi pengadaan barang dan alat peraga Pemilu 2004.

Berikutnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, pada Rabu (25/11/2020) dini-hari. Edhy ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Bandara Soekarno-Hatta setibanya dari dinas ke luar negeri.

Sikap tegas Menteri#Gercep tentunya mengisyaratkan pengalaman pahit yang pernah mencoreng wajah Partai Gerindra, diharapkan tidak terulang kepada siapapun di negeri ini. “Semangat terus Pak Menteri#Gercep, gaspol!”