3 Bangunan Peninggalan Belanda di Jakarta Tetap Berdiri Kokoh, Ini Bukti Sejarah Indonesia Pernah Dijajah ‘Kompeni’ dan Urutan ‘Buncit’ Jadi Istana Presiden

Pariwisata Indonesia, Foto Museum Fatahillah
Ilustrasi gambar: Museum Fatahillah atau dikenal juga dengan “Museum Sejarah Jakarta” atau “Museum Batavia” adalah sebuah museum tua yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. (Foto Media PI/Sumber: Dokumen Pribadi)

PariwisataIndonesia.id – Belum genap sebulan HUT ke-495 DKI Jakarta, yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.

Masih dalam konteks perayaan hari ulang tahun Kota Jakarta yang puncak acaranya sudah digelar beberapa waktu lalu, berlangsung di ‘Jakarta Internasional Stadium’ (disingkat JIS), sejak tanggal 24 Mei 2022 – 26 Juni 2022, dimulai pukul 09.00 – 21.00 WIB.

Sejalan dengan hal tersebut, PariwisataIndonesia.id menyematkan pantun sebagai pengantar atau pembuka dalam artikel kali ini.

“Pergi ke hutan mencari rotan
Jangan lupe mencari ubi kayu
Jika abang dan nona sudah sampai di Tanah Betawi
Jangan lupe tengok bangunan peninggalan kompeni yang tiga ini”.

Merespons pantun tersebut, maka tak lengkap rasanya bila Anda belum mengenal tiga bangunan tua dan bersejarah yang ada di Ibu kota Indonesia.

Mengingat, sejumlah peninggalan Belanda itu sudah tentu bagian dari peradaban Kota Jakarta. Sekaligus menyimpan banyak nilai historis, ilmu pengetahuan, dan memiliki seni sangat tinggi sebagai saksi bisu yang masih berdiri kokoh hingga sekarang, yuk simak ulasannya!

1. Museum Fatahillah

Museum Fatahillah atau dikenal juga dengan “Museum Sejarah Jakarta” atau “Museum Batavia” adalah sebuah museum tua yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat.

Kala itu, gedung ini selain difungsikan sebagai Balai Kota Batavia (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn.

Di sisi lain, terdapat pula ruang pengadilan, ruang-ruang bawah tanah yang kerap dipakai sebagai penjara, hingga lainnya yang digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

Tatkala memerhatikan bentuk museum ini, yang luasnya diperkirakan lebih dari 1.300 meter persegi, tak ubahnya dengan Istana Dam di Amsterdam.

Selanjutnya, Ali Sadikin atau biasa dipanggil “Bang Ali” merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta ke-7, meresmikan bangunan tersebut sebagai Museum Sejarah Jakarta, pada 30 Maret 1974.

2.  Stasiun Tanjung Priok

Stasiun ini tak bisa dilepaskan dari Pelabuhan Tanjung Priok yang dibangun pada akhir abad ke-19 oleh Gubernur Jendral Johan Wilhelm van Lansberge.

Pada masa itu, Pelabuhan Tanjung Priok menjadi pintu gerbang Kota Batavia serta Hindia Belanda menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa yang tak lagi memadai.

Melansir laman KAI, peran stasiun ini dibangun mengakomodir perdagangan dan wisatawan Eropa di Batavia -karena pada masa lalu- wilayah Tanjung Priok terletak di bagian utara Jakarta, di mana sebagian besarnya berupa hutan dan rawa-rawa.

Lantaran hal tersebut, butuh sarana transportasi yang aman guna menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan pusat kota melalui Batavia Centrum (Stasiun Jakarta Kota).

Sementara, Stasiun Tanjung Priok dibangun tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916), dan terciptanya stasiun ini berkat rancangan Ir. C.W. Koch, yakni seorang insinyur utama dari Staats Spoorwegen (SS-Perusahaan Kereta-api Negara Hindia Belanda).

Menyoroti peruntukannya, tak hanya sebagai stasiun tetapi juga menyediakan penginapan bagi para penumpang berkebangsaan Belanda dan Eropa selama menetap di Jakarta saat menunggu kedatangan kapal laut guna melanjutkan perjalanan mereka.

Bahkan, stasiun ini juga difasilitasi ruang bawah tanah yang disinyalir berfungsi sebagai gudang logistik.

Stasiun Tanjung Priok diresmikan penggunaaannya tepat pada ulang tahun ke-50 Staats Spoorwegen (SS) tanggal 6 April 1925, atau bertepatan dengan pembukaan jalur Tanjung Priuk – Beos Jakarta Kota, yang terbentang mulai dari Tanjung Priok – Bogor, dan jalur lingkar sekitar Jakarta.

Sejak Indonesia merdeka, perusahaan kereta api pemerintah Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia yang pada saat itu bernama DKA (Djawatan Kereta Api).

Stasiun Tanjung Priok ini sempat dihentikan operasionalnya sejak Juni 1999 ketika terjadi pergantian status PT KA menjadi Persero dan baru dioperasikan kembali pada 13 April 2009.

Selepas bangunan ini direnovasi, tak lagi diperuntukkan sebagai keperluan transportasi namun juga bertujuan melestarikan bangunan stasiun sebagai cagar budaya, sebagai pusat studi, hingga wisata sejarah.

Oleh karena itu, pemugarannya tetap mengedepankan keaslian bentuk bangunan stasiun, termasuk mempertahankan bentuk gedung pengatur perjalanan kereta api (PPKA) atau rumah sinyal, juga ruang bawah tanah -karena dimakan usia dan dipenuhi genangan lumpur- akhirnya ikut pula dipercantik.

Stasiun Tanjung Priuk dikelompokkan sebagai stasiun kereta api kelas II yang terletak di seberang Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

3. Istana Merdeka

Bangunan bersejarah terakhir, yakni Istana Merdeka adalah tempat resmi kediaman dan kantor Presiden Indonesia yang letaknya menghadap ke Taman Monumen Nasional di Jl. Medan Merdeka Utara No.3, Jakarta Pusat.

Dulunya eks kediaman pribadi seorang warga negara Belanda bernama J.A. van Braam, dibangun tahun 1796 – 1804. Namun, pada tahun 1816 bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Hindia-Belanda digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jenderal Belanda.

Melansir laman Kementerian Sekretariat Negara, Istana Negara tempo dulu dijuluki “Hotel Gubernur Jenderal” atau “Hotel van den Gouverneur-Generaal”. Di samping untuk penginapan Gubernur Jenderal, gedung bekas rumah Braam ini juga menampung sekretariat umum pemerintahan.

Gedung peninggalan Belanda ini, luasnya mencapai 68.000 meter persegi, terdiri atas sejumlah bangunan seperti Kantor Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, hingga Museum Istana Kepresidenan.

Pasca Indonesia merdeka, persisnya tanggal 25 Maret 1947, Istana Negara menjadi saksi bisu terjadinya penandatanganan Persetujuan Linggajati. Saat itu, Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan Belanda diwakili oleh Dr van Mook.

Setahun kemudian atau tepatnya 13 Maret 1948, Istana Negara kembali menjadi tuan rumah untuk pertemuan empat mata antara Wakil Presiden RI ke-2 Mohammad Hatta dan Letnan Gubernur Jendral Dr Hubertus J van Mook.

Hingga akhirnya, Tahun 1957 silam, Istana Negara yang dulunya bernama Hotel Gubernur Jenderal atau Istana Rijswik resmi menjadi kantor Pemerintah Indonesia yang pertama kali ditempati oleh Presiden ke-1 RI, Ir. Soekarno.

Ciri lain dari bangunan ini, kental dengan gaya arsitektur Eropa yang terinspirasi oleh desain arsitek Andrea Palladio (1508–1580) dari Venesia.

Ditandai dengan ikon saka-saka bercorak Yunani. Begitu pula pda bagian depan Istana Negara, juga terlihat menonjolkan 14 saka dengan laras sama. (Rizki)

Editor: M. Ridwan

× Hubungi kami