Keindahan Ranu Pani dan Ritual Leluhur Kepercayaan Masyarakat Suku Tengger

PariwisataIndoneaia.id – Desa Ranu Pani masuk dalam kategori 50 desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf. Sebelumnya, desa ini telah melewati berbagai seleksi dan penilaian, termasuk aspek penilaian sosial, lingkungan, dan pengembangan ekonomi.

Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, mengatakan nominasi itu menjadi bukti bahwa ragam pesona Ranupane selalu memikat perhatian. Dengan dinobatkannya Desa Ranu Pani jadi bagian dari 50 desa wisata terbaik ini, pihaknya akan terus melakukan terobosan meningkatkan daya tarik desanya.

Dalam waktu dekat, ia akan bergerak untuk melakukan pembenahan, mengintervensi pembangunan infrastruktur yang belum tuntas, dan tak lupa menyelesaikan segala dinamika persoalan termasuk sampah dan sedimentasi.

Saat berkunjung ke Desa Ranu Pani, di sana pengunjung dapat melihat tiga danau yang terkenal, yaitu Danau Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo. Secara keseluruhan, Ranu Pani menawarkan pemandangan berupa pedesaan dengan suasana tenang, udara sejuk, pepohonan hijau rimbun, dan aliran air yang jernih.

Keunikan lain yang bisa ditemukan di desa ini ialah fenomena salju pada musim kemarau. Sekitar Juli hingga Agustus, biasanya di Ranu Pani terjadi kondisi ekstrem yang membuat pepohonan dan rumput di sana tertutup oleh embun beku. Bahkan, suhunya bisa mencapai minus empat derajat.

Desa Ranu Pani dihuni oleh masyarakat asli Suku Tengger. Nama Tengger agaknya mengingatkan kita pada cerita rakyat Roro Anteng dan Joko Seger yang dipercaya masyarakat setempat sebagai leluhurnya.

Setidaknya ada tiga teori di balik nama Tengger. Pertama, tengger berarti berdiri tegak yang melambangkan watak orang Tengger yang berbudi pekerti luhur dan tercermin dalam setiap aspek kehidupan. Kedua, tengger berarti pegunungan, sesuai dengan kondisi daerah kediaman suku tersebut. Ketiga, namanya berasal dari sang leluhur yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.

Kebanyakan masyarakat Suku Tengger menganut agama Hindu atau kepercayaan peninggalan zaman Majapahit. Secara rutin, mereka melakukan berbagai upacara untuk mengharapkan keselamatan untuk manusia dan lingkungan sekitar, seperti yadnya kasada, upacara pujan, galungan, unan-unan, entas-entas, tugel kuncung, walagara, barikan, mayu desa, dan pembaron.

Hampir sepanjang tahun, masyarakat asli Suku Tengger melakukan berbagai ritual yang menarik dan pada akhirnya ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk melihat langsung upacara yang dilakukan secara adat ini.

Akses dan fasilitas

Ada banyak cara untuk mengunjungi Ranu Pani. Dari keterangan resmi Kemenparekraf disebutkan bahwa desa ini bisa dicapai dari Lumajang menuju Senduro dan melewati Alas Burno. Sementara itu, wisatawan yang datang dari Malang bisa melewati Pasar Tumpang dan melewati Jalan Nasional III dengan kendaraan pribadi. Jika menggunakan kendaraan umum, bisa menyewa mobil jip.

Untuk fasilitas, sebenarnya Desa Ranu Pani sudah terbilang menunjang kegiatan wisatawan. Di sana terdapat tempat parkir yang luas, warung-warung yang menjual makanan dan minuman, toilet bersih, penginapan, penyewaan perlengkapan berkemah, hingga pemandu.

Di sana pun baru diresmikan sebuah amphitheater atau gelanggang terbuka untuk tempat pertunjukkan hiburan, seni, dan budaya masyarakat setempat. Salah satu atraksi yang dipertontonkan adalah penampilan jaran kepang.