‘Lorek’ Kebaya Jeng Sri, Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Indonesia
Gelaran 'Lorek' Kebaya Jeng Sri

‘Lorek’ Kebaya Jeng Sri, Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Indonesia

Kebaya merupakan salah satu gaun tradisional yang selalu menarik perhatian saat dikenakan oleh wanita Indonesia. Gaun yang anggun dan elegan ini, menjadi simbol keindahan dan identitas budaya Indonesia.

Lenggak lenggok 4 model cantik yang diiringi musik ‘Bagaikan Puing’ besutan musisi senior Damon Koeswoyo, menggetar panggung mode tanah air, memukau lewat busana yang tak lekang oleh waktu, ‘kebaya’.  Mengusung tema ‘Lorek’, busana kebaya karya keren desainer Lisna Subianto yang akrab dengan sebutan Kebaya Jeng Sri ini, memikat Pakuwon Mall, Bekasi, pertengah Februari 2026 lalu.

Lorek adalah garis atau batas dalam Bahasa Jawa. Di koleksi ini, Lisna berkolaborasi dengan Sari Koeswoyo, seniman visual yang juga penyanyi cilik tahun 1970an dan 1980an. Liesna menampilkan kebaya-kebaya artsy dengan gaya Kartinian, Kutu Baru dan Kebaya Janggan yang terlihat unik dengan paduan warna natural dan merah.

‘Lorek’ Kebaya Jeng Sri, Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Indonesia
Unik, Paduan Warna Natural dan Merah

Pada tema ini, Kebaya Jeng Sri berkreasi dengan kain-kain lurik dan sisa-sisa kain (yang sengaja tidak dibuang) dari Sari Koeswoyo, untuk didaur ulang dan menjadi sesuatu yang baru, cantik dan menarik! Dari bahan-bahan kain lama menjadi baru. Kebaya-kebaya bahan floral dengan garis tegas pada bagian depan berwarna merah, memberikan arti dari tema ‘Lorek’ ini. Bahwa hidup itu adalah kebahagiaan, cinta kasih dan penuh damai, yang semuanya ada di dalam diri kita.

Koleksi ini juga menggunakan bahan lurik dari ‘wardrobe’ Sari Koeswoyo, yang disulap menjadi wrap skirt. Terdapat beberapa patches bahan-bahan lain yang disulam menjadi satu dan membuat koleksi ini menjadi ‘stand-out’. Yaitu dengan asiknya bahan-bahan dipadu padan, antara lain bermotif bunga-bunga, polcadots, garis-garis dan bahan batik juga.

‘Lorek’ Kebaya Jeng Sri, Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Indonesia
Gelaran ‘Lorek’ Kebaya Jeng Sri

Dengan adanya penggunaan bahan-bahan sisa, Kebaya Jeng Sri bertekad untuk terus mendukung sustainability dan melakukan up-cycle dalam fashion. Pendekatan produksi dan konsumsi pakaian kebaya yang ramah lingkungan, etis dan bertanggung jawab sosial menjadi patokan pada koleksi ini.

Melestarikan Budaya Melalui Mode

Busana Kebaya merupakan busana tradisional perempuan Indonesia yang sudah ada sejak abad ke-15 atau 16 Masehi. Nama kebaya diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu kata ‘kaba’ yang diartikan ‘pakaian’ atau ‘abaya’ (jubah longgar).  Hal ini juga dipengaruhi dari perdagangan dan pengaruh Portugis, Belanda, Cina (Peranakan), dan India di Nusantara. Pengaruh budaya Cina dan India dapat dilihat dalam desain dan motif kebaya.

‘Lorek’ Kebaya Jeng Sri, Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Indonesia
Dahulu, kebaya milik bangsawan

Salah satu jenis kebaya yang paling terkenal di Indonesia adalah kebaya Jawa. Namun, sebelum abad ke-15, wanita Jawa mengenakan kain kemben. Setelah masuknya pengaruh Islam, kebaya mulai diadopsi sebagai pakaian penutup tubuh bagian atas yang lebih sopan.  Kemudian di era tahun 1600-an, kebaya dikenakan oleh keluarga kerajaan Islam Jawa, yang merupakan simbol keanggunan, emansipasi, dan identitas nasional. Perlahan, busana ini menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bangsawan, istri petani, hingga noni Belanda, terutama pada abad ke-19.

Ciri khas kebaya Jawa memiliki detail bordir yang rumit dengan kain batik yang halus serta aksen ukiran pada bagian bahu. Kebaya juga berkembang di daerah-daerah lain di Indonesia, seperti kebaya Bali yang terkenal dengan detail bordiran yang cantik dan motif kain batik khas Bali. Juga ada kebaya Palembang yang memiliki desain yang lebih sederhana namun tetap memikat perhatian dengan pemilihan warna-warnanya yang lebih berani.

Meskipun kebaya sudah ada sejak zaman dahulu, namun pakaian tradisional ini tak hilang. Dari masa ke masa, perkembangan kebaya mengalami transformasi yang signifikan. Tak hanya desainnya yang semakin modern, namun variasi warna dan bentuknya juga semakin beragam, menjadikan kebaya tidak hanya dikenakan pada acara-acara formal, tetapi juga acara kasual lainnya. Beberapa perancang busana terkemuka juga menciptakan konsep kebaya dengan sentuhan modern, membuatnya semakin diminati oleh masyarakat.

‘Lorek’ Kebaya Jeng Sri, Menjaga Eksistensi Warisan Budaya Indonesia
Desainer Lisna Subianto

Untuk itu, melalui peragaan ini, Kebaya Jeng Sri kembali membuktikan komitmennya dalam melestarikan budaya Jawa, menghadirkan kebaya dan kain sebagai bagian dari gaya hidup yang cantik dan nyaman. Hadirnya koleksi ‘Lorek’ bukan sekadar pakaian, melainkan sebuah ungkapan nyata bahwa garis-garis tradisi akan terus mengalir, menghubungkan masa lalu dengan masa depan dalam setiap jahitan yang elegan.

“Koleksi Kebaya Jeng Sri bertekad untuk terus mendukung sustainability dan melakukan up-cycle dalam fashion. Pendekatan produksi dan konsumsi pakaian kebaya yang ramah lingkungan, etis dan bertanggung jawab sosial menjadi patokan pada koleksi ini,” ungkap Lisna.

Kebaya bukan hanya sekadar pakaian, tetapi juga merupakan warisan budaya penting yang menggambarkan keindahan dan keberagaman Indonesia. Kebaya juga merupakan simbol keberagaman budaya yang indah dalam identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Dan tahun 2024, kebaya resmi masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO, bersama dengan Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, dan Thailand.(*)