Melodi Merdu dari Halmahera

Yangere, Musik Tradisional Maluku Utara

Sebagai kepulauan yang kaya akan rempah-rempah, Maluku Utara menjadi salah satu incaran bangsa penjajah. Selama lima ratus tahun lebih, kepulauan tersebut dijajah oleh bangsa Portugis dan Belanda. Setengah milennium di tangan bangsa Eropa membuat Maluku Utara mengadopsi beberapa kesenian yang akhirnya membuahkan satu kesenian lokal, seperti Yangere atau Tali Dua.

Pariwisata Indonesia

Yangere atau Yanger merupakan alat musik khas Maluku Utara, yang diyakini merupakan adaptasi dari alat musik bangsa Portugis. Alat musik ini terbuat dari kayu Telur atau pohon Pulai (Alstonia scholaris) atau yang dikenal oleh penduduk lokal dengan nama kayu Yangere. Material pembuatnya inilah yang menjadi asal muasal penamaan alat musik Yangere.

Pemilihan kayu Yangere dikarenakan kayu ini banyak tumbuh di daerah Maluku Utara. Kayu ini juga terkenal ringan dan mudah diukir. Selain itu, kayu Yangere juga dapat menghasilkan suara yang merdu. Pembuatan alat musik Yangere dilakukan saat kayu Yangere masih dalam keadaan basah atau mentah, karena kayu yang kering akan mudah pecah.

Pariwisata Indonesia

Yangere atau Tali Dua (Bas Kasteh) merupakan alat musik dengan ruang resonansi berbentuk persegi dengan ukuran besar yang dilengkapi dengan sebuah gagang di atasnya. Alat musik ini memiliki senar dan dimainkan dengan cara dipetik dan dipukul. Untuk memukul Tali Dua dibutuhkan sebuah tongkat gogohara, yaitu pemukul yang terbuat dari rotan atau kayu berukuran kecil.

Sebagai pelengkap, Yangere dilengkapi dengan berbagai alat musik yang kemudian dinamakan Musik Yangere. Hampir seluruh alat musik ini terbuat dari bahan kayu yangere. Alat-alat musik tersebut terdiri dari:

  1. Kolole, merupakan alat musik berbentuk gitar kecil dengan tiga senar. Alat musik yang berfungsi sebagai pengiring satu ini dimainkan dengan cara dipetik.
  2. Koroncongan, yaitu alat musik petik yang serupa dengan kolole, tapi dengan ukuran yang lebih besar.
  3. Hitaara lamoko, merupakan alat music yang serupa dengan gitar dan memiliki lima buah senar. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik.
  4. Loca-loca atau ceker, yaitu alat musik yang dimainkan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan suara. Tidak seperti alat musik yang lainnya, loca-loca terbuat dari batok kelapa yang dikeringkan. Bagian isi kelapa dikeluarkan kemudian diisi dengan tasbih kering.
  5. Tam-tam, merupakan alat musik perkusi yang dimainkan dengan cara ditabuh seperti drum.

Pariwisata Indonesia

Selain kelima alat musik tersebut, Yangere biasanya juga dilengkapi dengan tifa (alat musik seperti gendang) dan suling bambu, sehingga menghasilkan perpaduan melodi yang merdu.

Pada awalnya, musik Yangere dimainkan saat malam hari atau saat beristirahat dari aktivitas berkebun. Lalu, alat musik ini mulai ditampilkan dalam pesta kebun saat panen. Dalam perkembangannya, musik Yangere dimainkan dalam berbagai acara, misalnya pernikahan, pertunjukan seni, maupun festival budaya. Musik Yangere juga dijadikan instrumen untuk mengiringi berbagai acara keagamaan, seperti kebaktian di gereja.

Lagu-lagu yang dibawakan dengan musik Yangere umumnya adalah lagu-lagu daerah. Uniknya, alat musik ini tidak menggunakan sound system.

Keberadaan alat musik yang pernah hits di tahun 1980-1990an ini, terus terkikis seiring dengan hadirnya berbagai alat musik modern. Meskipun demikian, berberapa pihak terus berusaha agar alat musik ini terus lestari. Pada tahun 2018, Yangere menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Maluku Utara.