Menengok Sejarah Kampung Pecinan di Solo Jelang Perayaan Imlek

Pariwisata Indonesia, Perayaan Imlek
Atraksi Barongsai / Ilustrasi foto: shutterstock

PariwisataIndonesia.id –¬†Kampung pecinan di Kota Solo, Jawa Tengah yang terletak di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres Solo, jadi salah satu destinasi perjalanan ketika perayaan Imlek.

Kampung pecinan di belakang kawasan Pasar Gede ini merupakan kampung pecinan terbesar di Solo.

Ketua Solo Societeit, Dhani Saptoni, mengatakan Solo dibangun dari berbagai entitas dan keberagaman menjadi fondasi utama perjalanan sejarah Solo.

“Jauh sebelum adanya Keraton Solo, saat masih menjadi Desa Sala, terbangun menjadi kota negara, lalu menjadi Kota Solo. Selalu ada riak konflik yang dalam sejarah perkotaan selalu bisa diredam dengan semangat harmoni,” jelas Dhani, seperti dikutip dari situs Detik.com.

Dalam catatan Solo Societeit, merujuk pada buku Kehidupan Dunia Kraton Surakarta dari 1830 hingga tahun 1939 karya Darsiti Soeratman terbitan tahun 1989, mengatakan etnis Tionghoa di Solo, mendiami tempat tersendiri yang telah diatur sejak masa kolonial.

Di bagian tengah kota Surakarta, didiami oleh beberapa etnis, yakni Tionghoa, Arab dan Eropa. Masing-masing menempati daerah tertentu secara terpisah.

Jika hunian Eropa terpisah dari perkampungan etnis lain berdasarkan ras, maka penunjukkan Kampung Pecinan untuk orang-orang Tionghoa kala itu ditujukan agar gerak-gerik mereka mudah diawasi.

Pecinan di Kota Solo, terletak di sekitar atau area Pasar Gede. Etnis Arab, sebagian besar tinggal di Pasar Kliwon dan bumiputera tinggal tersebar di seluruh kota.

Pada abad ke-19, etnis Tionghoa dibatasi ruang geraknya oleh pemerintah kolonial Belanda. Mereka dilarang tinggal di tempat tertentu tanpa memiliki surat izin (wijkenstelsel).

Selain itu, etnis Tionghoa juga dilarang berpergian bila tanpa surat jalan (passenstelsel).

Muara dari pembatasan ini agar pemerintah kolonial Belanda lebih leluasa dalam mengeksploitasi ekonomi Hindia Belanda karena bagi pemerintah Belanda, adanya etnis Tionghoa akan merugikan mereka.

Sejarah inilah yang membuat Belva Aulia (17) tertarik untuk gabung dan berjalan keliling wilayah di sekitar Pasar Gede Solo.

Bersambung ke halaman berikutnya
Ini mendekati Tahun Baru Imlek .. “

× Hubungi kami