Tari Para Bidadari

Radap Rahayu, Tari Tradisional dari Kalimantan Selatan

Kesenian tradisional termasuk tari-tarian menjadi salah satu warisan nenek moyang yang harus dilestarikan untuk bisa menjaga kekayaan bangsa. Tantangan untuk pelestarian itu semakin besar terutama di era globalisasi ini.

Tari Radap Rahayu diyakini sebagai tarian para bidadari. Tari ini merupakan salah satu tari tradisional yang nyaris punah. Namun, masih ada pihak-pihak yang terus berusaha menjaga dan melestarikan tari yang berasal dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini. Yuk, kita mengenal lebih jauh tari tradisional ini.

Pariwisata Indonesia

Pada zaman dahulu, Tari Radap Rahayu merupakan salah satu tari sakral. Menurut cerita, tari ini pertama kali tercipta pada masa Kerajaan Dwipa di Banjarmasin. Pada satu ketika, Patih Lambung Mangkurat dari kerajaan tersebut pulang dari kunjungan ke Majapahit dengan menggunakan Kapal Prabu Yaksa. Saat melewati Sungai Martapura, kapal rombongan tersebut kandas dan oleng di Lok Baintan, serta nyaris membuat kapal terbalik dan tenggelam.

Patih Lambung Mangkurat dan rombongannya pun segera melakukan puja Bantam atau permohonan kepada Tuhan agar terlepas dari bahaya tersebut. Setelah pemujaan tersebut, dikisahkan bahwa tujuh orang bidadari turun dan mulai melakukan upacara beradap-adap di atas kapal. Kemudian, keadaan pun kembali normal dan kapal bisa kembali berlayar.

Pariwisata Indonesia

Gerakan dalam upacara adap-adap para bidadari kemudian dijadikan tarian dengan nama Radap Rahayu. Semenjak peristiwa tersebut, Tarian pun dimainkan sebagai tari tolak bala. Tari ini biasanya dimainkan saat upacara-upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, bahkan kematian.

Ketika kekuasaan Kerajaan Dwipa berakhir, Tari Radap Rahayu pun berangsur menghilang dari masyarakat. Dikisahkan, Pangeran Hidayatullah dari Kesultanan Banjar menghidupkan ulang tari tradisional tersebut. Tari yang sempat hilang itu pun kembali dimainkan oleh masyarakat Banjar.

Ketika perang Banjar untuk mengusir penjajah Belanda, Tari Radap Rahayu kembali terlupakan dan mulai menghilang. Hingga pada tahun 1955, Kiai Amir Hasan Bontan, pendiri Perpekindo (Perintis Peradaban dan Kebudayaan Indonesia) membangkitkan kembali tari para bidadari ini. Melalui sanggarnya, tokoh Banjar ini pun mulai memublikasikan Tari Radap Rahayu pada masyarakat luas hingga saat ini.

Pariwisata Indonesia

Radap Rahayu dibawakan oleh perempuan dewasa dengan jumlah penari ganjil, bisa 1, 3, 5, atau 7. Para penari ini akan membawakan gerakan tari yang indah dengan ciri umum dada tegap dan langkah-langkah yang terukur. Setiap gerakan dibawakan dengan halus dan stabil.

Tari tradisional ini dimulai dengan gerakan terbang layang yang menggambarkan para bidadari yang turun dari kayangan. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai gerakan lain seperti limbai kibas, dandang manngapak, mandoa, mambunga, alang manari, lontang penuh, lontang setengah, gagoreh srikandi, mantang, tapung tawar, puja bantam, dan angina tutus. Tari ini ditutup dengan gerakan terbang laying yang melambangkan para bidadari yang pulang ke kayangan.

Salah satu bagian penting dalam tari ini adalah gerakan tapung tawar yang diyakini sebagai salah satu prosesi untuk menolak bala. Pada bagian ini, para penari akan menaburkan beras sebagai simbol pengusiran segala mara bahaya.

Selain gerakan-gerakan yang indah, Tari ini juga diselingi dengan syair-syair yang isinya konon untuk mengundang kedatangan para mahluk halus. Tari ini diringi dengan instrumen dari alat musik panting (gitar kecil dengan empat senar), rebana, biola, seruling, gong, serta babun.

Penari Radap Rahayu menggunakan baju layang berwarna kuning cerah yang merupakan busana remaja putri Kesultanan Banjar. Sebagai pelengkap, para penari juga mengenakan ragam aksesoris seperti mahkota gunungan, kembang goyang, kalung samban barangkap, anting-anting barumbai, gelang keroncong, bunga gogam, dan catik sirih.

Selain itu, para penari juga dilengkapi dengan properti berupa selendang dan membawa mangkuk kecil berisi beras kuning, bunga mawar merah, dan mawar putih yang akan ditabur saat gerakan tapung tawar.

Pada masa sekarang, fungsi tari ini telah bergeser. Tari Radap Rahayu tidak lagi sekedar menjadi tarian para bidadari untuk menolak petaka dalam upacara-upacara adat tertentu. Tari tradisional yang hampir punah ini juga dimainkan saat penyambutan tamu maupun festival-festival budaya dengan berbagai modifikasi gerakan. Yuk, terus  lestarikan tarian tradisional Nusantara.(Nita)