Tari Seudati Aceh

Tari tanpa Alat Musik
Pariwisata Indonesia
Foto: theinsidemag.com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, pernah membayangkan sebuah tarian tanpa iringan alat musik? Mungkin terdengar tidak biasa ya? Di Aceh punya satu tari unik tanpa iringan alat musik apapun. Namanya Tari Seudati.

Tari Seudati merupakan tari tradisional yang berasal dari daerah Pidie. Namun, sumber lain menyatakan bahwa tari ini berkembang di daerah Aceh Utara. Meskipun belum ditemukan catatan pasti kapan pertama kali diciptakan, tapi tari ini diyakini telah dikembangkan sejak Islam masuk ke Aceh atau sekitar abad ke-16 Masehi.

Pariwisata Indonesia
foto: encyclopedia,jakarta-tourism,go,id

Sedati berasal dari kata syahadat (Bahasa Arab) yang artinya bersaksi. Dalam ajaran agama Islam, syahadat merupakan kesaksian dan pengakuan terhadap Allah dan Nabi Muhammad S.A.W. Pada awalnya, tari ini memang digunakan sebagai media dakwah atau penyebaran agama Islam di daerah Aceh. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa seudati berasal dari kata seurasi yang berari kompak atau harmonis.

Pada masa penjajahan Belanda, tari ini sempat dilarang karena syair-syairnya dianggap mampu menumbuhkan semangat para pemuda Aceh sehingga akan menimbulkan pemberontakan dan perlawanan. Namun, setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Tari Seudati mulai dipentaskan kembali. Tari ini pun tidak hanya dipentaskan sebagai media dakwah. Berbagai acara seperti pernikahan, festival budaya, hingga promosi pariwisata juga kerap menyajikan tari tradisional ini.

Seperti yang telah disinggung di atas, Tari Seudati sama sekali tidak menggunakan alat musik sebagai pengiringnya. Sebagai gantinya, dua orang aneuk syahi (pelantun syair) akan menyanyikan syair-syair yang berisi ajaran agama dan nasehat kehidupan. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, para penari juga ikut menyanyikan syair tersebut. Selain alunan syair, Tari Seudati juga dimeriahkan dengan jentikan jari, tepukan telapak tangan di dada dan perut, serta hentakan kaki ke tanah yang akan menambah irama.

Keunikan Tari Seudati bukan hanya tidak adanya alat musik pengiring, tapi juga pada kekhasan gerakannya. Gerakan Tari Seudati berfokus pada gerakan kaki dan tangan. Seluruh gerakan dibawakan dengan gagah, enerjik, lincah, dan penuh semangat. Di bagian tertentu, para penari akan bergerak secara bersamaan dengan tempo yang sangat cepat. Bagian ini merupakan yang paling ditunggu-tunggu oleh para penonton dan mampu menghasilkan decak kagum.

Tari Seudati dipentaskan oleh kaum laki-laki yang berjumlah delapan orang. Para penari ini terdiri dari satu syeh, satu pembantu syeh, dua apeetwie (pembantu di sebelah kiri), satu apeetbak (pembantu di belakang), dan tiga pembantu biasa. Namun, dalam pagelaran yang lebih besar, penari bisa berjumlah lebih banyak.

Saat pentas, penari Seudati mengenakan pakaian berwarna putih yang terdiri dari baju lengan panjang dipadu dengan celana panjang. Agar lebih menarik, sebuah songket pendek dililitkan di pinggang hingga paha. Pakaian tersebut juga dilengkapi rencong di bagian pinggang dan tangkulok (ikat kepala) berwarna merah.

Pada  tahun 2014, Tari Seudati ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Nangrow Aceh Darussalam. Selain itu, tari ini juga tengah diusulkan kepada UNESCO sebagai Warisan Seni Budaya Tak Benda Dunia. Semua usaha itu dilakukan demi menjaga kelestarian Tari Seudati, tari tanpa alat musik dari Tanah Rencong.(Nita)