Tari Tanduak

Tari Penyambutan Tamu Kerajaan

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, selain memiliki alam yang indah, Sumatra Barat merupakan salah satu provinsi yang kaya akan budaya. Tidak heran, jika wisata budaya ala Minangkabau menjadi salah satu hal yang dicari oleh para wisatawan. Salah satu budaya yang bisa ditemukan di provinsi ini adalah Tari Tanduak.

Tari Tanduak diyakini berkembang sejak abad ke-14 Masehi. Tari ini adalah tari tradisional yang berkembang di anak Nagari Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, dan juga merupakan warisan Kerajaan Jambu Lipo. Tari Tanduak menceritakan tentang awal mula berdirinya Nagari Lubuk Tarok, yang merupakan perpaduan dari Kerajaan Jambu Lipo dan Kerajaan Koto Tuo.

Pariwisata Indonesia
Foto: sultankurnia.blogspot.com

Sesuai namanya, Tari Tanduak merupakan tari tradisional yang menggunakan properti berbentuk tanduk kerbau. Terdapat dua set tanduk yang masing-masing terdiri dari dua tanduk. Jumlah empat tanduk melambangkan empat pemimpin besar Kerajaan Jambu Lipo dan Koto Tuo. Tanduk ini pulalah yang menjadi sejarah lahirnya nama Minangkabau.

Tari Tanduak dibawakan oleh 8 orang penari yang mempunyai tugas masing-masing. Kedelapan penari ini mengenakan kostum sarawa tapak itiak (celana gombrong warna hitam), baju taluak balango (baju kurung khas Melayu untuk kaum laki-laki), dan deta (ikat kepala).

Empat orang penari memegang merawa (umbul-umbul) berwarna hitam kuning, dan merah. Warna-warna ini merupakan warna khas budaya Minang yang memiliki arti tersendiri. Merah melambangkan cendikiawan, kuning melambangkan para ulama, sedangkan hitam melambangkan kaum adat (ninik mamak). Hal ini menjadi simbol persatuan antara tiga penguasa tanah Minang.

Selanjutnya, dua penari bertugas untuk memegang payung dan dua penari lainnya adalah pemain inti. Kedua pemain inti inilah yang memegang properti berbentuk tanduk kerbau. Mereka akan melakukan gerakan-gerakan seperti silat sambil menggoyang-goyangkan properti tanduk.

Pada zaman kerajaan, Tari Tanduak kerap dipentaskan saat penyambutan tamu-tamu kehormatan kerajaan. Jika tari ini belum disajikan, maka para tamu tersebut tidak akan masuk ke istana. Setelah masa kemerdekaan, selain dipentaskan dalam acara penyambutan tamu penting seperti gubernur hingga presiden, Tari Tanduak juga dibawakan dalam berbagai upacara adat, seperti Upacara Bakawua (upacara adat yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Allah).

Sobat Pariwisata, pada tahun 2016, Tari Tanduak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Sumatra Barat.(Nita)