Ambung

Tas Ramah Lingkungan dari Jambi
Pariwisata Indonesia
Foto: arcgis.com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, plastik bekas menjadi salah satu masalah bagi dunia. Pengunaan yang berlebihan ditambah pembuangan yang tidak tertib, menjadikan plastik sebagai salah satu sumber polusi yang berbahaya bagi bumi.

Dewasa ini masyarakat dunia dihimbau untuk ikut serta melakukan aksi penyelamatan lingkungan, misalnya mengganti wadah plastik menjadi wadah kertas, mengganti sedotan plastik ke sedotan besi, hingga mengganti tas plastik ke tas berbahan lain yang lebih ramah lingkungan.

Pariwisata Indonesia
Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Namun, tahukah Sobat Pariwisata sejak beradab-abad silam, nenek moyang masyarakat Jambi telah lebih dulu melakukan aksi penjagaan lingkungan ini? Salah satunya dengan penggunaan Ambung.

Dalam KBBI, Ambung memiliki tiga arti yang berbeda-beda, salah satunya adalah keranjang atau karung untuk menggendong barang-barang. Wadah ini cukup populer dalam kehidupan masyarakat rumpun Melayu, termasuk masyarakat Jambi. Meskipun demikian, setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri baik dari bentuk maupun penggunaannya.

Bahan baku pembuatan Ambung antara lain batang Daemonorops sp 2 atau rotan sego putih, serta Korthalsia sp atau rotan siuh. Jenis rotan ini memiliki batang yang bersifat mudah dianyam dan kuat. Sebuah Ambung dapat menampung beban hingga 25 kilogram lebih.

Pembuatan Ambung dimulai dengan membuat bentuk silang dari batang rotan untuk bagian bawah atau dasar. Selanjutnya, rotan lalu dijalin dan dianyam sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Untuk memberikan warna, biasanya digunakan getah pohon jernang yang dapat menghasilkan warna merah muda.

Dikedua sisi ambung diberi kulit kayu pohon Nilai atau kain selendang yang berfungsi sebagai tali pegangan. Cara membawa Ambung yaitu dengan meletakan tali ikatannya di kepala. Namun, ada juga yang meletakkan talinya di kedua bahu seperti tas ransel.

Menurut ukurannya, Ambung terbagi menjadi dua yaitu Ambung kecil dan Ambung besar. Ambung berukuran kecil biasanya digunakan untuk membawa berbagai perlengkapan, seperti makanan, minuman, kain, hingga parang. Sementara Ambung berukuran besar digunakan untuk membawa kayu bakar, hasil pertanian, hingga untuk menggendong anak.

Pariwisata Indonesia
Foto: riaumagz.com

Tidak ada catatan pasti kapana pertama kali Ambung dibuat. Namun, tas rotan ini sudah ada di masa colonial Belanda. Hingga saat ini, Ambung masih terus digunakan terutama oleh masyarakat Melayu jambi yang mayoritas berprofesi sebagi petani atau pekebun. Selain untuk pergi ke sawah atau ke ladang, Ambung juga kerap digunakan untuk pergi ke pasar.

Sobat Pariwisata, pada tahun 2017, Ambung Orang Rimbo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Jambi. Yuk, belajar menjaga lingkungan dari Ambung khas Jambi.(Nita)