3 Gunung di Aceh Dikenal Pendaki Kawakan Cocok Buat Penantang Maut, Wajib Dibekali Segudang Pengalaman dan Ilmu Survival

Pariwisata Indonesia, Taman Nasional Gunung Leuser
Hutan hujan di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser, Provinsi Aceh (Foto: Media PI/Dok.Junaidi Hanafiah)

Aceh merupakan provinsi yang terletak paling barat Indonesia, dan provinsi ini terkenal dengan tariannya, kulinernya, budayanya, tak terkecuali bagi wisatawan yang tertarik pula untuk bertualang ingin mendaki ke gunung-gunung di Aceh.

Mengingat, gunung-gunung di Aceh jumlahnya terbilang banyak, loh!

Gunung-gunung yang tinggi ini tersebar di berbagai Kabupaten di Aceh, khususnya yang berada di kawasan Taman Nasional seperti di Taman Nasional Gunung Leuser.

“Pendaki kawakan” menyebut “3 Gunung di Aceh” ini memiliki resiko kematian buat didaki karena masih alami dan jarang dijamah.

Untuk menuju ke puncak gunung hanya boleh dilakukan buat mereka yang disebut “pendaki profesional”. Jangan nekat, ya!

Selain treknya diakui sulit didaki. Di sisi lain, ketika mengawali pendakian bakal memasuki kawasan hutan belantara. Lantaran hal itu, gunung ini jarang didaki. Penasaran? Berikut ulasannya.

1. Gunung Leuser

Gunung ini memiliki ketinggian 3,466 mdpl, dan banyak mendapat perhatian dunia karena dianggap sebagai cagar biosfer, yang bila sekali batuk, alhasil dapat mempengaruhi iklim di muka bumi, dan kita patut bangga atas hal tersebut.

Menilik dari ketinggiannya, tak ayal gunung ini masuk dalam kategori sangat tinggi, juga merupakan gunung tertinggi kedua di Sumatera setelah Kerinci, dan nama gunung ini pun sangat terkenal di Indonesia.

Tak cuma itu saja, malah jalur pendakiannya terpanjang se Asia Tenggara, sehingga untuk mencapai ke puncak gunung memakan waktu bisa berhari-hari.

Sementara itu, penyematan nama gunung diambil karena lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, sehingga gunung ini disebut Gunung Leuser, persisnya terletak di sebelah tenggara Aceh dekat perbatasan dengan Sumatra Utara.

2. Gunung Bandahara

Gunung ini memiliki ketinggian 3012 Mdpl, dan merupakan deretan gunung tertinggi di provinsi aceh.

Nama gunung kedua ini, tak sesohor seperti Gunung Leuser!

Alasannya, selain medannya terbilang ekstrem, dan meski ketinggiannya masih di bawah Gunung Leuser. Siapapun yang mendaki, patut pula dibekali segudang pengalaman dan ilmu survival.

Di sisi lain, wow, bukan main! Anda harus siap dijejali trek pendakian yang jarang terjamah manusia, benar-benar tak populer karena masih alami dan karena itu jalur pendakian ini jarang didaki sampai ke puncak.

Lokasi Gunung Bandahara berada di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, dan termasuk gunung yang sudah lama tidak aktif loh!

Oh ya! Seorang pendaki harus memahami, bahwa pendakian itu tentang mengenal batas diri, bukan soal menaklukan alam.

Pasalnya, seorang pendaki sejati tak akan pernah meniatkan ke puncak gunung dengan tujuan ingin menaklukan alam. Sebab, alam tak akan pernah bisa ditaklukan. Camkan itu!

Cetek pengalaman, dan Anda tetap ngotot ke Gunung Bandahara? Saran buat pendaki pemula, hanya diizinkan cukup pada ketinggian 2400 mdpl sampai 2900 mdpl. Ingat, keselamatan diri lebih utama, dan Anda diminta jangan keblinger!

3. Gunung Geureudong

Gunung ketiga ini terletak di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, yang memiliki ketinggian 2.885 mdpl, dan Gunung Geureudong juga masuk dalam deretan gunung yang masih alami dan tertinggi di Aceh.

Namun, tak banyak pendaki yang berusaha untuk sampai ke puncak gunung.

Mengapa? Karena, sudah melakukan pendakian yang membutuhkan waktu tak sebentar (diperkirakan untuk sampai menuju puncaknya sekitar 5-7 harian mendaki, red).

Ehh, ketinggian gunung semakin terpaut jauh dari Gunung Leuser.

Sudah begitu, walau dianggap sebagai gunung yang aman. Tetapi, Anda tetap perlu mewaspadai, karena tercatat pernah meletus 5 kali semenjak tahun 1837 sampai 1924.

Jangan kaget pula saat menuju puncak, jalur gunung ini berbentuk “stratovolcano”, yakni curam di bagian puncak dan landai di kaki. Disebabkan, dulu pasca erupsi, aliran lava yang membentuk gunung berapi itu banyak mengandung silika akibat lava dan abu vulkanik yang mengeras.

Sebagai pesan penutup, jika ingin tahu apa alasan setiap orang mendaki, mengapa tak berusaha untuk mencoba olahraga satu ini, maka mendakilah!

Selepasnya, Anda akan mengerti bila fajar itu selalu menjadi harapan bagi semua pendaki.

Tidak hanya jalan terjal yang dihadapi saat mendaki Gunung. Tetapi, ada hutan, sungai, duri, semak belukar.

Semua ini diibaratkan sebuah kehidupan. Lalu, sesampainya di puncak gunung, raga ini boleh jadi menjejakkan di tempat yang paling tertinggi, tapi jangan biasakan hinggap di hati Anda, “rasa sombong yang mendongak ke langit”.

Ingat, di atas awan masih ada awan, atau di atas langit masih ada langit!

Lagi pula, “sebuah bangsa tidak akan kehilangan pemimpin yang bijaksana dan adil, selama para pemuda yang hidup di dalamnya masih menyukai dengan menjelajahi hutan dan mendaki gunung.” – Soe Hok Gie. (Rizky)