Pengusaha Travel Banting Setir Jual Kopi di Pulau Belitung

Siswanto Pemilik Bilitone Coffee / Dok. Website Pariwisata Indonesia

PariwisataIndonesia.id – Menyambangi kedai kopi berukuran 12 x 13 m2, bernama Bilitone Coffee terletak di Jl. Depati Gegedek No.50, tidak jauh dari Bundaran Tugu Satam, Tanjungpandan, Belitung, kental nuansa anak muda zaman now.

Banyaknya peminat dan pencinta kopi dari berbagai kalangan menciptakan peluang usaha baru dan itu ditangkap cepat oleh pria bernama Siswanto yang akrab dipanggil Iwan, konsep ‘Bilitone Coffee’ tak lagi seperti awal berdirinya kedai kopi di zaman dulu.

Jangan heran, menemukan seperti headphone, headset, earphone, dan handsfree di kepala berpadu laptop, pemandangan itu terlihat di sejumlah orang yang asik duduk di pojokan sembari mengerjakan tugas sekolah atau alasan zoom, perangkat tersebut mulai banyak dipakai untuk rapat hingga kuliah dari tempat nongkrong dan juga mulai tren di kota ini.

Bilitone Coffee adalah salah satu potret kedai kopi yang hadir di Bangka Belitung dan tanpa kita sadari akhir-akhir ini menjadi sebuah gaya hidup masyarakat di Indonesia.

Iwan berhasil merebut hati pelanggannya. Dirinya terbilang sukses tepis stigma kedai kopi cuma dikunjungi orang dewasa atau usia sudah uzur, karena Bilitone Coffee adalah sebuah kedai kopi kekinian yang kehadirannya disukai semua kalangan.

Selain itu, terdapat kisah inspiratif dari kehidupan pribadinya yang jarang disorot. Pasalnya, ia tak patah arang. Meski Virus Corona telah meluluhlantakkan bisnis travel miliknya, nyatanya, tetap eksis melewati krisis tersebut dan bangkit kembali.

“Pandemi COVID-19 memukul bisnis saya. Dengan berat hati, travel agent yang telah lama dirintis sulit untuk bertahan. Akhirnya, terpaksa tutup,” jelasnya kepada Redaksi Pariwisata Indonesia, pada Jumat (11/6)

Dia melanjutkan ceritanya, “Saat itu, penjualan turun drastis karena sejumlah tamu cemas untuk bepergian. Saya mengakui, tahun tersebut sungguh memprihatinkan, diperparah lagi, banyak tamu membatalkan liburan. Sementara, kita sudah mengatur segala keperluan mereka jauh-jauh hari,” kenangnya.

Tetap memaksakan menjual paket pariwisata ke Bangka Belitung, malah semakin banyak kocek dikucurkan juga berhadapan dengan etika dan nilai moral. Lagi juga, sambung Iwan usahanya dulu terkendala masalah lain, yakni pembatasan kewilayahan di sana-sini, singkatnya usaha tersebut gulung tikar.

Iwan lahir pada 16 November 1984, dan telah berkeluarga dengan memiliki tiga orang anak, di balik musibah usahanya terdampak akibat pandemi COVID-19, malah tak kapok.

Diungkapkannya, curhat ini semoga menginspirasi orang banyak untuk selalu optimis di tengah pandemi COVID-19, dan ia bersedia membagikan kisah hidupnya kepada redaksi Pariwisata Indonesia.

“Dari sisa uang yang tersisa, ditambah lagi dengan dukungan partner bisnis yang mempercayakan modal kepada saya, langsung memutuskan untuk segera banting setir. Syukur Alhamdulillah, terwujudlah kafe untuk kongkow anak muda sekarang ini,” bebernya.

Dengan pertimbangan matang dan penuh kehati-hatian; berangkat dari naluri bisnis, Iwan meyakini untuk menetapkan dengan nama baru, memiliki implikasi yang lebih besar dan sangat beresiko.

Bilitone Coffee adalah sebuah brand lokal yang dikantongi Iwan mengusung tema generasi milenial. Beralih dari usaha lamanya dengan mendirikan kedai kopi di tengah pandemi COVID-19.

Bila kita mengamati usahanya, sosok Iwan memiliki integritas tinggi dan profesional; segmentasi pasarnya menyasar semua kalangan, antara lain generasi muda; kalangan keluarga; hingga pensiunan. Diyakininya, semua kalangan berpotensi menghasilkan pundi-pundi rezeki, pasar ini disosor Iwan.

“Saya tak sekedar menerapkan prinsip bisnis tapi harus juga memanjakan tamu dengan meyakinkan tempat usaha ini telah aman serta nyaman. Untuk menjamin itu, saya memastikan untuk konsisten menerapkan protokol kesehatan (Prokes) ketat di sini,” tambahnya. (Ay/Indah Ms/Eh)

Selanjutnya >>> Di Balik Nama Bilitone Coffee, Tersingkap Pesan Perjuangan Hidup