Jelajah ke Benteng Fort Rotterdam, Let’s Go!

Pariwisata Indonesia

PariwisataIndonesia.id – Berkunjung ke Makassar, rasanya kurang lengkap kalau belum berfoto dan menikmati sunset di Pantai Losari, salah satu ikon Kota Daeng tersebut. Namun, sebelum pergi ke pantai ini, ada baiknya Sobat Pariwisata mengunjungi salah satu lokasi wisata sejarah yang hanya terletak sekitar 1,7 km dari Pantai Losari. Lokasi tersebut bernama Fort Rotterdam atau Benteng Rotterdam.

Mendengar kata Rotterdam, kita akan teringat pada salah satu kota di Negara Kincir Angin, Belanda. Padahal, benteng ini berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Lalu, kenapa dinamakan Benteng Rotterdam, ya?

Benteng Rotterdam memiliki sejarah yang cukup panjang. Awalnya, benteng yang ada di lahan seluas 2,5 hektar ini, dibangun oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung (Raja Gowa ke-9) pada tahun 1545 dari bahan tanah liat. Pada masa Sultan Alaudin (Raja Gowa ke-14), benteng ini mulai direkonstruksi dengan pembangunan ulang yang menggunakan batuan padas yang berasal dari Pegunungan Karst di Maros.

Benteng terbesar dari 17 buah benteng Kerajaan Gowa-Tallo ini, awalnya bernama Benteng Ujung Pandang. Masyarakat menyebut benteng yang menjadi markas Pasukan Katak Kerajaan Gowa ini dengan sebutan Benteng Panyyua. Hal ini dikarena jika dilihat dari udara, Benteng Ujung Pandang memang berbentuk seperti penyu yang merangkak hendak menuju lautan.

Sobat Pariwisata, ternyata pemilihan bentuk penyu ini juga memiliki arti. Penyu digambarkan sebagai hewan yang kuat karena mampu hidup di daratan dan lautan. Hal ini menggambarkan Kerajaan Gowa-Tallo yang mampu berjaya di darat dan lautan.

Benteng yang memiliki 5 buah bastion (pertahanan) di setiap sisinya ini, pernah hancur karena menahan gempuran pasukan Belanda yang kala itu datang untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Sulawesi Selatan. Setelah setahun menghadapi gempuran, tepatnya tanggal 18 November 1667, Kerajaan Gowa-Tallo melakukan Perjanjian Bongaya dengan pihak kolonial Belanda. Salah satu poin perjanjian itu adalah penyerahan Benteng Ujung Pandang kepada pihak pemerintah Belanda.

Sejak saat itu, Benteng Ujung Pandang berganti nama menjadi Fort Rotterdam. Diambil dari kota kelahiran Cornelis Janzoon Speelman, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada saat itu. Nah, inilah awal mula nama Rotterdam yang sama seperti salah satu kota di Belanda, Sobat Pariwisata.

Selama 200 tahun lebih, Fort Rotterdam berada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda sebagai pusat pemerintahan Belanda di wilayah timur, benteng, hingga penjara. Benteng yang juga digunakan untuk menampung rempah-rempah itu juga mulai direkonstruksi. Jadi, saat Sobat Pariwisata memasukinya, akan kental sekali bangunan bergaya gotik khas Eropa abad pertengahan.

Fort Rotterdam juga pernah menjadi penjara terakhir Pangeran Diponegoro. Kala itu, salah satu pahlwan Indonesia yang membuat penjajah ketar-ketir itu, dijebak dan kemudian ditangkap oleh pemerintah Belanda. Salah satu pewaris Kesultanan Yogyakarta itu diasingkan bersama istri, anak, dan beberapa orang pengikutnya.

Setelah sempat dipenjara di Manado, Pangeran Diponegoro pun diam-diam dipindahkan ke Makassar, pada tahun 1933, dengan alasan keamanan. Beliau pun berada di Benteng Rotterdam selama 21 tahun lebih, hingga tutup usia di tanggal 8 Januari 1955.

Saat berkunjung ke Fort Rotterdam, Sobat Pariwisata bisa mengintip dari jendela, ruangan yang digunakan untuk mengurung Pangeran Diponegoro. Di dalamnya terdapat peralatan sholat, Al-Quran, juga tempat tidur yang menemani hari-hari Sang Panglima Perang Jawa.

Benteng yang terletak di Jalan Ujung Pandang, Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar ini buka setiap hari sejak pukul 09.00-18.00. Sobat Pariwisata hanya perlu membayar tiket sebesar 5.000 rupiah untuk melakukan tapak tilas sejarah di Fort Rotterdam. (Nita/Kusmanto)