Rumah Adat Khas Sulawesi Tenggara

Rumah Adat Laika, Pariwisata Indonesia

Redaksi www.pariwisataindonesia.id mengulas rumah adat khas Sulawesi Tenggara(Sultra), yaitu  rumah adat Laika. Baca ulasan lengkapnya, berikut ini!

Baca Juga:  5 Destinasi Favorit di Sulawesi Tenggara

Kearifan lokal dalam rumah adat

Rumah adat Laika dari suku Tolaki terletak di sekitar kabupaten Kendari dan Konawe, Sulawesi Tenggara. Suku Tolaki berasal dari kerajaan Konawe. Konon, masyarakat Tolaki kehidupannya nomaden. Survive dan handal. Hidup cuma dari hasil berburu dan berladang, hasil-hasil alam. Secara garis besar, masyarakat Tolaki terbilang tradisional. Masih menggantungkan hidupnya dari mengelola sumber daya alam dan bergotong-royong.

Redaksi menampikan dua foto dari postingan instagram, mengisahkan kearifan lokal dan history di masa lalu. Sejarah Sulawesi Tenggara. Fotonya sempurna dan monumental. Ini dia, foto pertama dalam postingan di instagram @tamalaki_kolasara.

View this post on Instagram

#tolaki mekongga

A post shared by TAMALAKI KALOSARA MEKONGGA (@tamalaki_kalosara) on

Dimaknai dari pepatah ‘mombiara pombahora ronga anahoma ano dungu opitu turuna’ artinya secara individu dan 2 kekeluargaan masyarakat adat Tolaki masih berpegang teguh, dengan keyakinan dan tradisinya untuk menjaga serta memelihara kelestarian hutan. Bahkan kepercayaan ini terus diwariskan, kepada para anak cucu. Sampai lapis ketujuh anak cucu, turun menurun mewarisi budaya ini. Hal tersebut terbukti, dengan adanya sistem perladangan, menanam padi dan pembukaan lahan baru, masih kebiasaan turun temurun, caranya selalu sama.

Baca Juga:  3 Pakaian Adat Khas Sulawesi Tenggara

Foto kedua, postingan di instagram@tamalaki_kolasara.

Hingga saat ini, kearifan lokal masyarakat Tolaki masih dipertahankan. Terlihat dari cara perladangan dan pembukaan lahan. Tradisi yang turun temurun sejak leluhur, pranata pengelolaan sumberdaya hutan orang Tolaki, masih berlaku adalah mantra Monda’u. Proses bercocok tanam padi dan pembukaan ladang baru, masyarakat Tolaki, memperhatikan daya dukung adat, tradisi, dan kelestarian hutan. Ritual lisan dan sastra yang akrab dikenal dengan mantra Monda’u wujud kebhinnekaan dalam perspektif budaya. Mempertahankan tradisi, dulunya, di lakukan nenek moyang kita. Masih membudaya, dan belum hilang.

Profil rumah adat

Rumah adat Laika merupakan rumah panggung, berbentuk empat persegi panjang. Berfungsi sebagai tempat berlindung masyarakat setempat. Bangunan berukuran luas dan besar. Berlantai tiga atau empat lantai. Terbuat dari kayu dengan diberi atap dan berdiri di atas tiang-tiang besar yang tingginya sekitar 20 kaki dari atas tanah. Terletak di sebuah tempat yang terbuka di dalam hutan. Dikelilingi, rumput alang-alang. Saat itu, bangunan ini tingginya sekitar 60-70 kaki. Dipergunakan Sebagai tempat bagi raja untuk menyelenggarakan acara-acara yang bersifat seremonial atau upacara adat. Seluruh bangunan dibuat tanpa menggunakan bahan logam seperti paku, dan 100% materialnya berbahan kayu.

Istimewa rumah adat Laika di bagian bawah atau kolong malah tidak ditempati. Struktur bangunan rumah adatnya, di bagian bawah dijadikan sebagai kandang. Hewan peternakan, seperti ayam dan babi  ditempatkan di lantai bawah. Alasan lain untuk menghindari banjir, tempat bersantai, tempat menyimpan alat pertanian. Rumah berkonsep panggung menciptakan sirkulasi angin dan menghadirkan suasana yang dingin. Juga menghindari binatang buas.

Baca Juga:  Tarian Adat Khas Sulawesi Tenggara, Nari, yuk!

Biasanya paduka raja dan ratu permaisuri bertempat tinggal di lantai satu atau kedua. Sementara di lantai tiga, digunakan sebagai tempat penyimpanan beragam benda pusaka yang dimiliki paduka Raja. Lalu bagaimana untuk rumah adat Laika, berkonsep 4 lantai? Peruntukan di lantai 4, buat area ibadah. Bisa juga untuk bersemedi. Saat hadir dan berlibur mengunjungi ke rumah adat provinsi Sulteng satu ini, tampak di bagian kanan dan kiri lantai, terlihat ruang tenun untuk membuat pakaian tradisional.

Tampak dalam aksi fotonya, Netizen Aswandi Posudo Wonua, mantan Duta GenRe Provinsi Sultra ’18 dan Duta Pemuda Sultra ’19. Rasa cinta dan bangganya kepada kampung halaman, ia memposting di akun instagram rumah adat Laika.

View this post on Instagram

Rumah Adat Tolaki (Laika Aha) yang terletak di kompleks Koburuuha Mokole Lakidende, di Kelurahan Rahabangga, Kecamatan Unaaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).. . . Secara Universal rumah tinggal dikalangan suku Tolaki disebut Laika (Konawe) dan Raha (Mekongga), ada beberapa istilah yang dikenal dalam pembuatan Rumah Adat Tolaki, diantaranya: . . 1. O’Tusa atau Tiang Bangunan tradisional Tolaki adalah bangunan bertiang, yaitu tiang rumah yang bentuknya bulat dan untuk rumah papan (kataba) tiangnya berbentuk balok (segi empat). tiangnya terletak diantara tiang yang satu dengan yang lainya disebut totoro (tiang pendukung) tiang penopang yang disebut o’suda (Posudo). . . 2. Ohoro atau Lantai Sebelum Ohoro (lantai) dipasang ada beberapa susunan dibawah lantai yaitu; Powuatako , kayu yang dipasang pada bagian bawah sebagai tempat pemasangan Ohoroi (lantai). . . 3. Orini atau Dinding Dinding Rumah umumnya terbuat dari bambu yang dianyam (salabi) atau disusun, kayu-kayu kecil, tangkai sagu (tangge ndawaro), kulit kayu dan papan (odopi). Dinding disini dianalogikan sebagai kulit karena merupakan bagian terluar dari sebuah rumah yakni rumah dianggap sebagai analog dari Tubuh manusia. . . 4. Pintu atau Otambo Pintu juga disebut Otambo yakni pintu yang pada umunya berbentuk persegi panjang.(Melamba 67) Pintu depan rumah adalah analogi dari mulut dan pintu belakang adalah analog dari dubur. Pada pintu depan di tempatkan sedikit kesamping agar orang luar tidak dapat langsung masuk ke rumah. . . 5. Lausa atau Tangga Tangga terdiri dari kayu bulat yang ditarik beberapa tingkatan (biasanya 5(lima) sampai dengan 7(tujuh) tingkatan) menurut tinggi rendahnya rumah. Pada umumnya tangga menghadap ke jalan umum. Tiang tangga berbentuk bulat atau pipih. Menurut tradisi anak tangga jumlahnya ganjil, bilangan genap kurang baik. . . 6. Lomba-Lomba atau Jendela Dimanfaatkan sebagai penyinaran dan tempat mengintai musuh. Pada Laika Mbu’u berjumlah 6-7 lubang jendela. Rumah orang Tolaki berjumlah 4(empat) lubang yang dianalogikan dua unsur o’biri telinga dan dua unsur totopa ketiak. . . #sulawesitenggara #tolaki #budayatolaki #explorbudaya #sukutolaki #indonesia

A post shared by 𝔸𝕤𝕨𝕒𝕟𝕕𝕚 ℙ𝕠𝕤𝕦𝕕𝕠 𝕎𝕠𝕟𝕦𝕒 (@aswanditawakal25) on

Filosofi rumah adat

Makna bangunan adat memiliki filosofi. Tampak di bagian depan rumah, berbentuk simetris. Makna yang tersirat menggambarkan rumah ini horizontal, bersifat formil. Sedangkan asimetris, artinya dinamis. Sehingga bagian depan ini filosofinya menjelaskan sifat orang Tolaki dinamis dan formal.

Bagian bangunan bawah atau rangka dan lantai, dianalogikan sebagai dada dan perut manusia. Bagian loteng atau bagian atas dianalogikan punggung manusia. Sedangkan penyangga dianalogikan sebagai tulang punggung manusia. Selanjutnya pada bagian atap, rambut atau bulu menggambarkan wajah dan panggul manusia.

Istimewa lain dari rumah adat ini, terletak pada bahan yang digunakan untuk membangun. Rumah adat Laika tidak menggunakan bahan logam. Dalam proses pembangunannya, rumah adat dibangun tapi tidak menggunakan paku untuk menggabungkan satu komponen dengan komponen yang lain. Bagaimana cara bangunan rumah adat ini berdiri kokoh tanpa ada komponen penyambung?

Sebagai pengganti paku, menggunakan berbagai bahan yang tersedia di alam. Pada bagian atapnya, suku Tolaki biasa membuatnya dari rumbai alang alang ataupun nipah. Sedangkan balok kayu, digunakan sebagai tiang penumpu hunian. Lalu untuk membuat dinding, dibangun menggunakan papan kayu. Semua material tersebut, disatukan menjadi sebuah bangunan.

Dalam layar video di channel youtube Sultra News, Presiden Joko Widodo menggunakan bahasa daerah Tolaki menyapa masyarakat Sulawesi Tenggara. Saksikan videonya, yuk!

Hingga saat ini, suku Tolaki menjaga sekali kearifan lokal. Indonesia sangat kaya dengan budaya, adat istiadat dan alamnya cantik nan memesona. Negara kita adalah terdiri dari banyak kepulauan. Dan tiap pulaunya, wow, sungguh luar biasa. Banyaknya pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke melahirkan kebudayaan yang kaya dan beragam. Inilah Kebhinnekaan dan manifestasi dari kebudayaan warisan leluhur kita dulu. Kamu harus bangga menjadi anak bangsa. Negri ini harus kita bangun dan menjaganya bersama. Mari, kita lestarikan. Salam Pariwisata Indonesia!

View this post on Instagram

Falsafah yang terkandung dalam makna Bhinneka Tunggal Ika adalah keberagaman. ‘Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu’ dan semboyan ini tertulis pada lambang negara Indonesia. ⁣⁣ ⁣⁣ Perbedaan mewarnai Indonesia, dan menjadikan negri ini punya corak dalam keragaman budaya, bahasa, adat istiadat, bahkan pemikiran.⁣ Indonesia negara yang masyarakatnya berwarna-warni. Memberikan keunikan, dan merupakan tantangan bagi masyarakat Indonesia sendiri, untuk tetap bersatu dalam keberagaman. ⁣⁣ ⁣ Masa lalu, saat ini dan masa mendatang, seperti apa nantinya? Kita harus jelaskan, Pancasila adalah harga mati. Tidak pernah akan tahu, masa depan! Tetapi kita sebagai anak bangsa sejak sekarang harus memperkokoh persatuan.⁣ Semangat kebangsaan, rasa nasionalisme dan patriotisme, cinta tanah air. Siapa lagi menyuarakan ini, kalau bukan kita-kita sebagai anak bangsa. ⁣⁣ ⁣⁣ Jika kita mau sedikit flash back, melihat histori, maka, makna ‘Bhineka Tunggal Ika’ bukan sekedar slogan. Semboyan negara, memiliki falsafah ilmu yang teramat dalam, tinggi. Dan bermanfaat sekali dalam cara membangun hubungan sosial dan kemasyarakatan yang heterogen, majemuk dan pluralistik. ⁣⁣ ⁣⁣ Indonesia terdiri dari ragam kultur budaya, adat-istiadat, dan terlebih agama, sudah semestinya menjadi contoh bahwa didalam keberagaman terdapat kekuatan ‘PERSATUAN’ yang justru menjadi kekuatan untuk tetap bersama dan menjadi negara yang lebih kokoh. ⁣⁣ Sejak awal berdiri, Indonesia adalah bangsa yang sangat bhinneka. Sangat beragam, sangat majemuk. ⁣ ⁣ Konteks pariwisatanya dimana? Rasanya kita semua pasti cerdas membaca itu, tentu kita tidak lagi menjual destinasi aja. tapi kita sedang ingin menjadikan Indonesia sebagai role model keberagaman. Mengajak minat negara lain, berkunjung dan belajar dari Indonesia tentang budaya, demokrasi, keberagaman suku, persatuan dan toleransi dalam beragama.⁣⁣ ⁣⁣ #indonesia #kebudayaan #culture #pariwisata #keberagaman #pariwisataindonesiaofficial #pariwisataindonesia #kebudayaanindonesia #tariantradisionalindonesia #situspariwisataindonesia #jagaindonesia #negaraketuhanan #bhinnekatunggalika #mediapvk

A post shared by Pariwisata Indonesia (@pariwisataindonesiaofficial) on

(Dian/Erwin)