Mengembangkan Wisata dan Literasi dari Becak

MMengembangkan pariwisata daerah tidak harus muncul dari tangan pemerintah saja, inovasi dari warga kecil juga mampu membawa perubahan besar
Foto: Goodnewsfromindonesia.com

Siapa yang senang berkeliling kota menggunakan becak? Atau ada yang senang naik becak saat berwisata di Yogyakarta?

Apa yang kamu rasakan saat menaiki becak, asyik banget ya sampai dunia serasa milik berdua, uhhuy gak tuh. Tapi, pernah gak sih kalian naik becak sambil disajikan buku-buku yang keren dari si tukang becak.

Di dunia perwisataan Yogyakarta, tentu tidak asing lagi dengan yang namanya becak pustaka. Sebuah becak yang dirancang khusus untuk menghibur para pelancong selama di perjalanan mengelilingi Yogyakarta.

Foto: Persmaporos.com

Adalah Sutopo, sosok mulia di balik becak pustaka ini. Mengutip dari Jawa Pos, Senin 30 November 2020, Becak yang dipakai untuk mengais rezeki setiap harinya itu, berbeda dengan becak lainnya. Karena, selain untuk mengangkut penumpang, becak itu didesain sebagai perpustakaan.

Rak-rak buku ditempatkannya di tengah, memanfaatkan ruangan yang kosong supaya tak mengganggu kenyamanan penumpangnya.

Sementara di bagian lain dari Becak Pustaka ini, diberinya dengan beberapa tulisan dengan berbagai warna. Tujuannya, supaya lebih meriah dan menarik perhatian orang yang menjumpainya.

Sutopo awalnya tak memimpikan bahwa profesinya sebagai pengayuh becak ini juga digunakannya untuk berbagi kemanfaatan melalui membaca buku. Usai pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kodim 0734 Jogjakarta pada 2003 silam, ia mengaku hanya ingin meneruskan kegiatannya yang gemar berolahraga.

Foto: Goodnewsfromindonesia.com

“Mengapa saya memilih becak, karena dari segi kesehatannya. Kebiasaan saya saat dinas di Kodim Jogja selalu berolahraga lari, renang, aerobik. Itu sudah jadi kebiasaan dan kebiasaan. Ini harus saya lanjutkan, jadi saya memilih becak kayuh,” ujarnya dengan penuh semangat.

Selama setahun ia menyewa becak untuk mencari tambahan pendapatan. Setiap hari, ia berangkat dari rumahnya di Cokrodiningratan, RT 40/8, Kecamatan Jetis, Kota Jogjakarta, pada pukul 07.00 WIB. Ia menanti penumpang di depan bangunan bekas SMA 17-1, Jalan Tentara Pelajar, Kecamatan Jetis, Kota Jogjakarta, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

“Selama setahun saya menyewa. Kemudian saya membeli becak sendiri. Supaya tidak kepikiran harus setor uang sewa. Jadi saya lebih bebas,” katanya.

Pada waktu senggangnya menunggu penumpang, laki-laki yang akrab disapa Topo itu mengisinya dengan kegiatan membaca buku. Buku apa saja ia baca. Karena memang sudah menjadi hobinya sejak ia kecil. “Hobi saya sejak kecil itu membaca. Dulu ketika masih SD (Sekolah Dasar) saya menjadi anggota perpustakaan di beberapa tempat di Jogja,” ungkapnya.

Foto: Tribunnews.com

Kegiatan membaca yang dilakukannya ketika menanti penumpang ini, tak sengaja menarik perhatian salah seorang pelanggannya. Sutopo ditawari apakah berkenan ketika diberi beberapa buku oleh seorang ibu.

“Saya disumbang dua puluh buku, kemudian hari berikutnya banyak ibu-ibu yang nyumbang. Jumlahnya ada lima puluh buku, lalu saya buat rak. Saat Juli 2017, dari surat kabar lokal di Jogja meliput saya dengan gambar dan ceritanya. Dari situ banyak yang mendatangi saya dan menyumbang buku,” jelasnya.

Hal itu membuat dirinya semakin semangat menjadikan becaknya sebagai Becak Pustaka. Banyak penghargaan maupun prestasi yang disabetnya dari berbagai lomba yang diikutinya. Buku-buku koleksinya pun terus bertambah dan beragam. Dari mulai buku agama, kisah sukses, hingga untuk bacaan anak-anak.

“Kitab agama, dari Islam; Budha; Katolik ada di perpustakaan saya. Saya pikir, pembaca saya pasti beranekaragam agama. Selain itu, juga tentang orang sukses di dunia. Hanya buku untuk anak-anak saja yang mulai habis. Karena anak-anak suka pinjam tapi tidak dikembalikan,” timpalnya sambil terkekeh.

Semua buku-buku tersebut, diperbolehkan untuk dinikmati para penumpangnya secara gratis. Hal itu dilakukannya, hanya karena ingin berbagi manfaat dari buku kepada orang-orang di sekitarnya. “Intisarinya sesuatu yang baik juga akan memberikan manfaat bagi kita. Karakter kita akan terbentuk dari buku yang kita baca. Selain itu juga sebagai media belajar. Saya pribadi sudah bisa bahasa Inggris dari membaca buku, jadi kalau menghadapi penumpang dari turis bisa fasih,” ucapnya.

Hayo, buat kamu yang belum pernah mencoba keseruan keliling Yogyakarta sambil membaca buku dari becak pustaka Pak Sutopo, kamu wajib mencobanya barang sekali saat liburan ke Yogyakarta.