“Mungkin, alam ini tengah bekerja. Kita tidak mungkin melawan alam. Nampaknya oleh sang pencipta, bumi lagi diistirahatkan,” ungkapnya.
Dia pun menyinggung soal cara kita dalam mengelola alam, “harus lebih arif dan bijaksana sehingga tak terjadi lagi bencana-bencana seperti sekarang,” tambahnya.
Harmonisasi antara alam, masyarakat, dan sang pencipta patut dijaga keseimbangannya. Masyarakat dan sang pencipta harus dijaga secara harmonis, hutan lestari, mata air terawat dengan baik, laut dan danau lestari. Sehingga, sambungnya, memberikan kesejahteraan bagi semua mahluk di muka bumi.
Terkait pada tema yang diangkat melalui PKB ke 43, yakni “Purna Jiwa: Prananing Wana Kerthi”, diterjemahkan jiwa yang paripurna merupakan nafas pohon kehidupan.
Putu dengan penuh kehati-hatian menjawabnya, bahwa sebagai bentuk imbauan dengan mengajak pemuliaan flora fauna dan seluruh keragaman hayati.
Kemudian, menebarkan semangat konservasi dan hidup harmoni dengan alam untuk menyembuhkan peradaban dengan cara “Gering Agung”.
Dijelaskan Putu, “Gering Agung” adalah salah satu upacara adat Hindu di Bali yang digelar khusus guna meminta perlindungan Tuhan dari pandemi COVID-19 yang disebut sebagai Gering (Bencana.Red) Agung dan masyarakat di Bali menyebutnya pagebluk (Wabah.Red).
“Inilah jalan niskala (Spiritual.Red) umat Hindu di Bali guna menyampaikan permohonan agar jagat menjadi rahayu (Damai.Red),” terangnya.
Di satu sisi, niskala adalah imbauan pemerintah yang patut untuk kita laksanakan bersama-sama. Namun, di sisi lain, Putu juga membahasakan dengan makna sederhana pengertian Gering Agung, yaitu:
“Supaya kita harmonis dengan mengaturkan suksma (Terima kasih.Red) kepada Ida Betara Ida Sanghyang Widhi Wasa. Tidak saja untuk manusia, tetapi alam semesta,” ulasnya.
Wawancara berlanjut ke baju adat Bali yang dikenakan Kepala Negara saat pembukaan PKB ke-43, pada 12 Juni 2021.
“Busana tersebut adalah pakaian raja-raja Bali di Denpasar dan Badung. Dikenakan sang raja ketika menghadiri pertemuan-pertemuan penting, seperti terima tamu-tamu kerajaan yang diagungkan,” imbuhnya.
Di akhir wawancara, ia mengajak pelaku pariwisata di Bali, “Saat pandemi berakhir dan normal, Bali akan bangkit dan pulih kembali. Untuk itu, kita harus tabah menghadapi semua ini, wabah yang terjadi bukan hanya di Bali, dan Indonesia tapi masyarakat dunia turut merasakan dampaknya,” kata Putu Astawa.
Redaksi mencatat, Presiden Jokowi tidak bosan-bosan mengatakan bahwa pemerintah masih fokus pada upaya percepatan pemulihan kesehatan dan ekonomi. Keduanya harus berjalan beriringan dengan menjaga keseimbangan.
Bahkan Jokowi terang benderang seraya mewanti-wanti dalam pidato kenegaraan yang disiarkan melalui saluran di kanal YouTube Sekretariat Presiden saat meresmikan pagelaran PKB tersebut.
Presiden menegaskan, kunci utama dari pemulihan ekonomi Bali adalah kemampuan kita dalam menangani pandemi di mana disiplin terhadap protokol kesehatan harus terus diterapkan, vaksinasi dilakukan secara cepat dan masif, serta PPKM mikro berbasis banjar dan desa adat di Bali harus diefektifkan untuk mencegah penularan virus corona lebih meluas.
Pada saat peresmian festival kesenian tahunan yang sebelumnya sempat terhenti karena tsunami COVID-19, kita patut bangga. Pasalnya, baik presiden dan menteri pariwisata sama-sama mengenakan busana lengkap adat Bali.
Hal ini, patut dicermati semua pihak sebagai sikap nasionalisme yang ditunjukan oleh tokoh berpengaruh di negeri ini. Mereka saja bangga mengenakan busana nusantara, bagaimana dengan kita? (Indah Ms/Ayu/Soet)








































Leave a Reply