Buya Sabe

Kain Sutra Khas Donggala
Pariwisata Indonesia

 

Selain terkenal dengan keindahan pantainya, Provinsi Sulawesi Tengah juga terkenal dengan salah satu kerajinan tangan bernama Kain Tenun Donggala atau Buya Sabe. Rasanya, perjalanan ke provinsi yang beribukota di Palu ini kurang lengkap jika belum membeli Buya Sabe atau berkunjung langsung ke sentra pengrajinnya yang berada di Kabupaten Donggala seperti Desa Limboro, Salu Bomba, Tosale, Towale, Watusampu, Kabonga Kecil, Loli, dan Kolakola.

Pariwisata Indonesia

Donggala merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah yang terletak sekitar 40 km dari Kota Palu. Pada zaman dahulu, daerah ini dijadikan sebagai pelabuhan niaga dan penumpang oleh pemerintah kolonial Belanda. Dari daerah inilah Kain Tenun Donggala berasal.

Pada masa lalu, para wanita di Donggala menjadikan menenun sebagai salah satu kegiatan sambil menunggu suami mereka pulang dari melaut. Keterampilan ini juga diwariskan kepada anak cucu sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang.

Buya Sabe atau Kain Donggala, bukanlah kain biasa. Kain ini terbuat dari bahan sutra, yang membuatnya istimewa. Pada zaman dahulu, Buya Sabe merupakan barang mewah. Hanya Madika dan Maradika (sebutan untuk kalangan bangsawan Kaili) yang boleh mengenakannnya. Seiring perkembangan zaman, kain ini pun mulai dikenakan oleh berbagai kalangan, terutama dalam upacara adat seperti pesta pernikahan maupun kematian.

Pariwisata Indonesia

Selain bahannya yang istimewa, Buya Sabe juga memiliki motif-motif indah berupa motif geometris, motif flora, hingga motif fauna. Namun, tidak ada Buya Sabe yang memiliki motif manusia karena bagi masyarakat lokal, motif manusia adalah motif tabu.

Ciri khas Buya Sabe terletak pada warna-warnanya yang ‘berani’ atau gelap, seperti kuning, hijau, biru, merah hati, hitam, atau biru tua. Kain ini juga memiliki tekstur agak kaku karena karakter benang yang digunakan serta murni terbuat dari hasil kerajinan tangan.

Proses penenunan Buya Sabe dilakukan secara konevensional dengan menggunakan alat tenun tradisional. Hal ini membuat waktu pengerjaan Buya Sabe cukup lama, sekitar dua minggu hingga berbulan-bulan, tergantung pada kerumitan motif.

Beberapa motif Buya Sabe antara lain pelekat garusu, buya sura, buya bomba, buya subi, tangga-tangga, bunga roses, bomba kota, serta buya awi. Dari motif-motif tersebut, motif buya bomba merupakan motif yang paling terkenal karena memiliki perpaduan warna yang berani, tapi terlihat anggun.

Keindahan motif, keistimewaan bahan, serta kerumitan penenunan membuat Buya Sabe dihargai tinggi. Selembar kain ini bisa dihargai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Meskipun begitu, Buya Sabe sangat diminati, baik oleh konsumen domestik maupun luar negeri. Pada tahun 2015, Buya Sabe ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Sulawesi Tengah.

Pengrajin Buya Sabe sempat mengalami penurunan karena tidak adanya regenerasi. Banyak generasi muda yang kurang bersemangat menekuni kerajinan menenun kain khas Donggala ini. Selain itu, bahan baku yang diperlukan semakin sulit untuk didapatkan. Namun, beberapa pihak terus berupaya agar kain tradisional ini terus lestari. Bukan sekedar untuk alasan ekonomi, tapi untuk menjaga budaya yang merupakan warisan nenek moyang dan kebanggaan generasi akan datang.(Nita)