Dari mana bisa terka itu? Sebab, 404 anggota yang resmi tercatat. Selepas dilakukan pemutakhiran data, jumlah yang tersisa 250. Malah yang kemarin ikut MUSDA, hanya 179 anggota. Saya menduga, mereka belum aktif atau jangan-jangan sudah tutup.
Ketiga, terkait program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Saya ingin memastikan penerapan sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability) adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, destinasi pariwisata, dan produk pariwisata lainnya.
Hal tersebut, menjadi perlu untuk memberikan kepastian, bahwa berwisata aman, nyaman bagi wisatawan selama berada di Bali terhadap pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan. Jangan lupa, CHSE ini menjadi salah satu panduan yang dipersyaratkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19.
Berikutnya, dampak wabah virus corona membuat bisnis dan usaha teman-teman saya, ikut terpukul. Tidak sedikit, pelaku pariwisata di Bali yang tergabung melalui DPD ASITA Bali sebagian masih wait and see, terpaksa menjual aset demi usaha tetap bertahan, melakukan PHK, hingga menutup usaha.
Hingga saat ini, jumlah anggota di tingkat Dewan Pengurus Wilayah (DPW) yang telah menerapkan CHSE, baru 100. Namun, khawatir salah, kita akan “Cross Check” ulang. Program kerja lainnya, ikut menggalakkan program Pemerintah, seperti mengingatkan stakeholder pariwisata Bali agar karyawannya telah divaksinasi, dan menggunakan aplikasi PeduliLindungi.
(T) Ada lagi yang mau disampaikan?
(J) Setelah pengurus mendapat SK (Surat Keputusan), langkah kerja selanjutnya harus bergerak cepat dengan melakukan sejumlah audiensi untuk menyampaikan hasil penetapan MUSDA XIV Tahun 2021. Baik bersama Pemerintah Kabupaten/Kota maupun Provinsi.

Diharapkan, dari berbagai pertemuan tersebut, tercipta program yang dapat disinergikan dengan kami di ASITA. Di kesempatan ini, saya kembali tegaskan, bahwa DPD ASITA Bali mendukung penuh segala upaya pemerintah dalam memulihkan pariwisata Bali dan pariwisata Indonesia.
Untuk itu, mengapresiasi Penerbangan internasional di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, pada 14 Oktober 2021 lalu, telah dibuka kembali.
Kebijakan itu, menandai wisatawan mancanegara (wisman) dibolehkan berlibur di Bali asalkan sudah sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan. Wsman belum datang, itu persoalan lain.
Saat sekarang, momentum tersebut patut direspons positif karena memberikan secercah harapan bahwa Bali membuka wisman, dan Bali siap menyambut wisman, itu dulu yang terpenting.
Saya pun setuju, langkah kehati-hatian Pemerintah dalam menekan penyebaran pandemi COVID-19 lebih meluas tetap diprioritaskan. Di sisi lain, nasib pelaku pariwisata di Bali pun tak lantas diabaikan, toh!
Harapan saya sebagai Ketua DPD ASITA Bali, bisa berjalan secara paralel, sebagai permisalan, stimulasi bantuan modal kerja, misalnya.
Maupun, upaya lain bangkitkan kembali pelaku pariwisata di Bali patut pula didukung oleh sejumlah kementerian terkait kesempatan program-program eksibisi ke luar negeri baik yang digelar secara daring dan offline, termasuk mengundang sebanyak mungkin lewat berbagai even berskala internasional yang dilangsungkan di Bali.
(T) Redaksi Media Pariwisata Indonesia telah menduga, Anda melenggang mulus menuju kursi satu ASITA DPD Bali. Pertanyaannya, tidak menyasar ke hal itu. Melainkan pada tiga rival Anda. Tolong dijawab, diabaikan atau rangkul? Mohon Anda berikan penjelasan.
(J) Pertanyaan ini memiliki bobot yang istimewa, dan ini bukan soal rangkul atau diabaikan. Sejak awal saya pun telah menegaskan dalam setiap kesempatan. Mereka bukan kubu lawan atau musuh, tetapi teman-teman saya. Oleh karena itu, selepas terpilih sebagai Ketua DPD ASITA Bali kemarin, langsung membangun komunikasi.

Lagi pula, semuanya memiliki tujuan yang sama, seperti ingin memajukan pariwisata, dan memajukan asosiasi ini. Lalu, kepada teman-teman yang kemarin berselisih paham, saya kira itu adalah hal lumrah dan sudah biasa dalam banyak organisasi. Sekali lagi, saya kira itu adalah bagian dari demokrasi.
Jawaban saya berikutnya, semoga bisa memuaskan semua pihak, jika boleh pilih, akan lebih bagus tidak menjadi pemimpin saat sekarang. Mengapa? Tidak hanya di organisasi, tetapi perusahaan yang saya miliki juga memerlukan tenaga, pikiran dan energi untuk itu.
Sejujurnya, siapapun yang memimpin ASITA Bali saat ini bukan perkara mudah, tantangan ke depan cukup berat, karena masih dalam suasana di tengah pandemi COVID-19.
Baca ke halaman berikutnya.. “







































Leave a Reply