Gubernur Bali Jadi King Maker! Jurus Pamungkasnya, “Malu Kalau di Bali Ada Dua ASITA”

Silang pendapat DPD ASITA Bali versus DPD ASITA 71 Bali, berhasil dimediasi Gubernur Bali dan didukung mediator yang ikut serta menengahi konflik dualisme ASITA Bali berujung happy ending.
PariwisataIndonesia
Gubernur Bali Jadi King Maker! Jurus Pamungkasnya, “Malu Kalau di Bali Ada Dua ASITA” / Foto: Ist

PariwisataIndonesia.ID – Konflik dualisme kepemimpinan yang menerpa Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Agen Tur dan Travel Indonesia (ASITA) atau Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies Bali selesai di tangan Gubernur Bali, I Wayan Koster

“Dua Asita di Bali harus bersatu, bagaimanapun caranya,” tegasnya, saat menerima Ketua DPD ASITA yang dipimpin oleh Komang Takuaki Banuartha. Satu pihaknya lagi, menyebut DPD ASITA 71 di bawah komando Putu Winastra Pande. Mereka diterima secara bersamaan di Rumah Dinas Gubernur Bali, Jaya Sabha, Senin (1/3).

“Asita bersatu mutlak harus dilakukan, jika Asita bersatu maka pelaku usaha akan merasa nyaman,” sambungnya.

Kepiawaian Gubernur Bali sebagai ‘king maker’, DPD Asita Bali semula terpecah dua. Setelah dimediasi langsung oleh Politisi PDIP Wayan Koster, kedua pihak tak lagi mengklaim sebagai pengurus yang sah. Mereka diminta untuk berdamai, kembali bersatu. Jurus pamungkasnya, “malu kalau di Bali ada dua Asita.”

Pernyataan orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, sekaligus mengingatkan jika asosiasi yang menaungi pelaku pariwisata di Bali carut marut akan berimplikasi pada citra pariwisata Pulau Dewata yang saat sekarang tengah pemulihan untuk bangkit kembali akibat dihantam badai tsunami COVID-19, kian terpuruk lagi.

“Begitu sebaliknya jika ekosistem pariwisata bagus, maka wisatawan pasti akan datang ke Bali, maka dari itu Asita bersatu mutlak harus dilakukan,” tandasnya.

Walhasil, upaya sang Gubernur tersebut memicu kesepakatan. Keduanya pun mulai bekerja sama dengan menyingkirkan egonya masing-masing. Singkatnya, dinamika perbedaan pendapat harus disikapi secara arif dan bijak sebagai anugrah yang disyukuri.

PariwisataIndonesia
Gubernur Bali Jadi King Maker! Jurus Pamungkasnya, “Malu Kalau di Bali Ada Dua ASITA” / Foto: Ist

Terciptanya perdamaian itu tak lepas dari peran mediator yang berasal dari Bali maupun Jakarta. Pasalnya, Wayan Koster juga mengundang sejumlah pihak yang ikut menengahi silang pendapat antara DPD ASITA Bali dan DPD ASITA 71 Bali.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster berharap agar asosiasi kepariwisataan bisa berjalan sejalan dengan visi dan misi Pemprov Bali untuk bersama-sama menata Pariwisata Bali, tidak terjebak pada hal-hal yang kontraproduktif.

Merespons pernyataan Gubernur Bali, Ketua Umum DPP ASITA Nunung Rusmiati langsung mengucapkan rasa terima kasihnya dan mengapresiasi kepedulian Gubernur Bali yang mau turun langsung dalam memediasi permasalahan yang terjadi di ASITA Bali sebagai dampak kekisruhan ASITA secara nasional.

Melihat hal itu, Komang Takuaki Banuartha tak tinggal diam, ia langsung menyatakan, pihaknya beserta pengurus menerima dengan legowo semua keputusan yang tujuannya baik dan bermanfaat untuk kepentingan yang lebih besar. Banuartha, menegaskan kembali sikapnya, siap untuk menjalankan semua arahan Gubernur Bali.

Sambungnya, ingin menggarisbawahi, bahwa perjuangan selama ini adalah untuk mempertahankan marwah asosiasi ASITA di bawah kepemimpinan Nunung Rusmiati selaku DPP ASITA.

“Saya dari dulu sudah bilang bahwa saya ada di sini untuk menjaga marwah ASITA Bali dan nasional. Saya tidak ada ambisi sama sekali, karena buat apa berebut? Dan apa yang diperebutkan? Sekarang Ibu Ketum sudah mengambil sikap untuk menyelesaikan permasalahan ini secara nasional, saya dan pengurus tidak masalah asalkan semuanya untuk kepentingan yang lebih luas,” ucapnya, penegasan Ketua DPD ASITA Bali sudah tentu menimbulkan suasana kebatinan yang penuh keharuan.

Tak mau ketinggalan, Ketua Asita 71 Bali, Putu Winastra ikut angkat bicara, kata Winastra, secara prinsip sangat setuju untuk mempersatukan DPD Asita Bali dan siap akan melaksanakan apa yang telah diinstruksikan Gubernur.

Setelah itu, Gubernur Bali menutup dengan mengatakan, “semua pelaku usaha perjalanan wisata yang ada di bawah Asita harus saling berteman,” pinta Gubernur Bali.

“Silakan buat Musdalub tapi sebelum Musdalub, silakan berembuk dulu mulai dari pengurus terbatas untuk menemukan titik temu kemudian baru disampaikan ke anggota, supaya Musdalub yang dilaksanakan bisa berjalan lancar,” tambahnya.

Redaksi mencatat, di penghujung pertemuan tersebut dilakukan penandatanganan hitam di atas putih terhadap proses perdamaian kedua belah pihak yang berseteru. (eh)