Paguyuban Lima Gunung Gelar Ritual “Donga Kali Larung Sengkala”

Cuaca tampak cerah, acara dari awal hingga usai selesai dengan khusyu dan sukses. Supadi Haryanto mengatakan prosesi itu selain sebagai ungkapan kebersamaan para seniman, juga doa dan harapan agar kehidupan bersama yang terasa serba suram dan sulit saat ini, termasuk akibat pandemi COVID-19, segera berlalu dan masyarakat terhindar dari musibah. Baca beritanya.
Paguyuban Lima Gunung, Sejarah dan Budaya Nusantara, Berita Pariwisata, Warta Wisata, Media Pariwisata, Pariwisata di Indonesia
Foto: ANTARA/Anis Efizudin

PariwisataIndonesia.id – Dikutip dari laman antaranews.com(25/11) disebutkan, Para seniman dan sejumlah tokoh yang tergabung dalam paguyuban “Lima Gunung” (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) menyelenggarakan ritual budaya “Donga Kali, Larung Sengkala” di Sungai Progo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sebagai ungkapan harapan berbagai kesulitan hidup bersama, termasuk dampak pandemi COVID-19, segera teratasi.

Ritual budaya ini didukung banyak pegiat seni dan budaya, salah satunya dari sanggar di Kota Magelang yang dikelola dalang setempat, Susilo Anggoro. Mereka terjun melibatkan diri, dimulai dari Pendapa Sasana Pamardi Budaya Kampung Meteseh menuju ke acara Larung Sengkala.

Terlihat peserta di pagelaran ini memakai beragam kostum kesenian dan pakaian adat Jawa, berjalan kaki dari pendapa menuju Sungai Progo yang berjarak sekitar 400 meter.

Beberapa seniman lainnya yang juga ikut dalam prosesi budaya, hadir dengan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan masker, antara lain dari Sanggar Srikandi (pimpinan Lyra de Blaw) dan Sanggar Arum Sari (pimpinan Sri Rumsari Listyorini).

Turut serta, Sutanto Mendut (budayawan dan pendiri paguyuban), Supadi Haryanto (selaku ketua), Riyadi, Ismanto, Sujono Bandongan, Pangadi, Sih Agung Prasetyo, Singgih Aljawi, Nabila Rivani, Khoirul Mutaqin, Agus, dan Handoko.

Kekidungan dan suluk dikumandangkan oleh peserta ritual diiringi bunyian perkusi serta bende dalam prosesi yang sakral. Pagelaran “Donga Kali, Larung Sengkala” juga menaburkan kembang mawar dalam prosesinya lalu melarung properti berupa dua sosok wayang berwujud dedemit sebagai simbol “sengkala” di Sungai Progo.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Susilo Anggoro, di tepi Sungai Progo, tampak melakukan pemotongan secara simbolis rambut lima putri, dan memasukkan ke periuk untuk kemudian dilarung di sungai.

Cuaca tampak cerah, acara dari awal hingga usai selesai dengan khusyu dan sukses. Supadi Haryanto mengatakan prosesi itu selain sebagai ungkapan kebersamaan para seniman, juga doa dan harapan agar kehidupan bersama yang terasa serba suram dan sulit saat ini, termasuk akibat pandemi COVID-19, segera berlalu dan masyarakat terhindar dari musibah.

Ritual ini juga mengajak pesertanya untuk bermunajad doakan keselamatan bagi masyarakat di kawasan Gunung Merapi yang saat ini sedang menghadapi peningkatan aktivitas vulkanik sehingga sebagian mereka, khususnya kalangan lansia, perempuan, dan anak-anak, dievakuasi ke berbagai tempat pengungsian dalam konsep “Desa Bersaudara”.

Usai prosesi ritual budaya di Sungai Progo, semua kembali ke Pendapa Sasana Pamardi Budaya Kampung Meteseh untuk mengikuti acara berikutnya berkonsep sarasehan, simbol kehidupan dan peradaban umat manusia.

“Agar terhindar (dari bencana erupsi Merapi, red.), kita bisa aman. Semoga doa harapan ini didengar Tuhan sehingga semua selamat, sehat, terhindar dari marabahaya, dan diberi ketenteraman lahir dan batin,” kata Supadi kepada wartawan antaranews.com, pada Rabu(25/11).

Salah satu seniman yang juga tergabung dalam paguyuban Lima Gunung, Susilo Anggoro, menjelaskan bahwa ritual dimaksudkan sebagai bentuk keprihatinan para seniman atas situasi kehidupan bersama akhir-akhir ini, antara lain terkait dengan pandemi COVID-19, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, dan persoalan akhir-akhir ini yang terkesan mengancam persatuan serta kesatuan bangsa.

“Kalau dalam pewayangan Betari Durga punya prajurit setan, jin. Itu yang mengganggu manusia. Ini kita ritual budaya, kita kemas, lalu kita larung di Sungai Progo, harapannya ini sudah ‘lerem’ (pulih) keadaan, masyarakat bisa senang, bahagia, bisa menikmati tenang dan tenteram,” kata Susilo.

Artikel ini telah tayang di laman Antaranews.com(25/11). Silakan baca juga: Komunitas Lima Gunung Selenggarakan “Larung Sengkala” di Sungai Progo