Hari Raya Galungan dan Kuningan, Mau Tahu Bedanya?

Prosesi Upacara Hari Raya Galungan di Bali (Ilutrasi foto tangkapan layar YouTube/Yessy Diana)

PariwisataIndonesia.id – Menjelang Hari Suci Galungan dan Kuningan, ucapan selamat untuk kedua hari besar tersebut kerap disampaikan secara bersamaan.

Padahal, dua hari yang disucikan bagi umat Hindu tersebut memiliki perbedaan satu sama lainnya.

Melansir dari Kompas.com, Nabilla Ramadhian adalah wartawan yang tergabung melalui Kompas Gramedia Digital Group yang beralamat di Jl. Palmerah Selatan No. 22-28, Jakarta 10270, Indonesia, berhasil mewawancarai Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali I Gede Pitana.

Baca juga :  Media Pariwisata Indonesia: Hari Raya Galungan dan Kuningan Mulai dari Makanan hingga 10 Link Twibbon Galungan 2021

Menurut I Gede Pitana, Galungan dan Kuningan berbeda hari perayaannya. Untuk hari raya Kuningan dirayakan 10 hari setelah hari suci Galungan.

Kalimatnya tersebut tidak terputus sampai di situ, dilanjutkan dengan menerangkan, bahwa, walau hari dan tanggalnya berbeda, namun antara Galungan dan Kuningan masih jadi satu rangkaian upacara Galungan. Lantas, apa yang membedakannya?

Galungan, para dewa dan leluhur turun ke bumi

Perbedaan pertama pada dua hari tersebut menurut Pitana terletak pada inti Hari Suci Galungan, di mana umat Hindu merayakan turunnya para dewa dan leluhur ke bumi dan menemui keturunannya.

“Galungan itu dewa-dewa dan leluhur turun, semua atman-atman (roh) yang sudah suci akan turun dari surga menemui keturunannya di dunia,” imbuhnya.

Selanjutnya, Galungan juga hari di mana umat Hindu bersembahyang pada pagi hari ke pura desa masing-masing. Mereka juga akan bersembahyang di pura keluarga hingga pura gabungan keluarga.

Momen Galungan menjadi makna bagi umat Hindu untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali juga menyoroti soal wisatawan mancanegara (wisman) yang antusias melihat semaraknya penjor (atau bambu yang dilengkungkan kemudian dihias) di sepanjang jalan yang berada di kawasan Pulau Dewata.

Dalam keterangannya yang dikutip kembali oleh Media Pariwisata Indonesia dari Kompas.com, Rabu, 14 April 2021, Pitana mengakui, jika wisman kerap berkunjung ke pura untuk menyaksikan jalannya perayaan Hari Suci Galungan.

“Mereka tetap boleh masuk ke pura, asalkan berpakaian sopan atau adat Bali. Kedua, kalau memotret jangan pakai ‘flash’. Lalu, perempuan tidak sedang haid,” katanya.

Kuningan, para dewa dan leluhur kembali ke surga

Perayaan Kuningan jatuh pada hari kesepuluh setelah Hari Suci Galungan. Hari Raya Kuningan dimaksudkan untuk merayakan saat di mana para dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunanya.

“Kalau Kuningan, dewa-dewa leluhur kembali ke surga. Puncaknya tetap di Galungan. Kuningan itu mereka sudah kembali,” terangnya.

Sambungnya, Hari Raya Kuningan juga tidak terlalu dirayakan dengan meriah oleh umat Hindu di Bali. Mengingat, lanjutnya, puncak perayaan tetap pada Hari Suci Galungan.

Pitana menambahkan, wajar jika Kuningan digelar dengan sederhana oleh umat Hindu di Bali maupun di daerah lainnya.

“Kuningan itu kecil. Biasalah, misalnya seperti kita upacara di kantor, dibuka oleh menteri, ditutup pak Lurah, misalnya. Jadi pembukaannya besar, penutupannya sekadarnya saja,” jelas Pitana.

Pengucapan hari raya dapat dipisah

Biasanya, orang akan mengucapkan Selamat Hari Suci Galungan dan Hari Raya Kuningan secara bersamaan pada Hari Galungan.

Akan tetapi, untuk Pitana, dia lebih memilih untuk memisahkan pengucapan selamat tersebut karena jarak antar kedua hari raya.

“Kalau saya lebih sering memisahkannya, karena jarak 10 hari. Sekarang kita sebutkan Selamat Galungan, 10 hari kemudian kita sebutkan Selamat Hari Raya Kuningan, seperti itu,” pungkasnya.