Kopiah Riman

Peci Bangsawan Pidie, Aceh
Pariwisata Indonesia
foto: naratif,id

Sobat Pariwisata, sebagai Bumi Serambi Mekah, kebudayaan masyarakat Aceh sangat kental dengan nilai ajaran Islam. Penggunaan pakaian muslim hingga aksesorisnya menjadi kebiasaan yang telah diwariskan turun termurun. Salah satunya kopiah riman.

Kopiah riman berasal dari daerah Pidie, Aceh. Penutup kepala ini merupakan kerajinan tangan peninggalan masa Sultan Iskandar Muda, raja terbesar Kesultanan Aceh yang memimpin dari tahun 1607-1636. Pada masa tersebut, kopiah ini kerap digunakan oleh para bangsawan Pidie.

Pariwisata Indonesia
foto: sinarpidie,co

Menurut catatan sejarah, keberadaan kopiah riman sempat menghilang. Pada tahun 1985, salah satu keluarga mulai membuat kembali kopiah riman. Awalnya, pembuatan ini ditujukan untuk keperluan pribadi. Namun, minat masyarakat yang tinggi membuat kegiatan kerajinan tersebut berkembang. Saat ini, sentra pengrajin kopiah riman terdapat di Kabupaten Pidie, Nangroe Aceh Darusalam.

Disebut kopiah riman karena sejatinya kopiah ini berasal dari serat pohon riman yang pada masa itu tumbuh subur. Seiring perkembangan zaman, keberadaan pohon riman mulai langka. Oleh karena itu, para pengrajin menggantinya dengan pohon aren yang memiliki struktur yang hampir mirip.

Pariwisata Indonesia
foto: kompasiana,com

Pembuatan kopiah riman bisa berlangsung selama sebulan lebih. Tahap awal yang dilakukan memperoleh serat-serat aren dengan cara memukul-mukul pelepah aren untuk menghilangkan hingga ampas serat. Serat-serat tersebut lalu diambil dengan menggunakan jarum. Dari proses ini, akan didapatkan serat halus yang digunakan untuk bagian luar kopiah dan serat kasar yang digunakan untuk bagian dalam kopiah.

Setelah terkumpul, serat-serat tersebut kemudian direbus dalam panci beralas daun keladi dengan campuran tumbuhan seperti daun peono, daun bunga tanjung, dan putik kelapa sebagai pewarna alami. Setelah proses perebusan yang berlangsung sekitar 10 jam, serat-serat aren kemudian direndam dalam lumpur.

Pariwisata Indonesia
foto: naratif,id

Serat yang telah siap kemudian dirajut menjadi sebuah kopiah. Motif dan ukuran kopiah menjadi faktor yang menentukan lama pengerjaan. Beberapa motif yang biasanya digunakan dalam kopiah ini antara lain corak pintu Aceh, ucok rebung, bungong keupula (bunga kupula), bungong tron, bungong puten, rantai, pagar, kaki kepiting, dan bunga tembak.

Pada masa sekarang, kopiah riman tidak hanya digunakan oleh kaum bangsawan Pidie, tapi juga oleh masyarakat biasa dan para pejabat Aceh. Kopiah ini juga sangat popular sebagai cinderamata dari Aceh, khususnya daerah Pidie.

Dengan proses pengerjaan yang rumit, sebuah kopiah riman dihargai mulai dari 80.000 hingga 500.000 rupiah. Meskipun harganya tinggi, kopiah ini memiliki banyak peminat, mulai dari konsumen domestik hingga manca negara seperti Malaysia.

Pada tahun 2014, kopiah riman ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indenesia dari Provinsi Nangroe Aceh Darusalam.