Pulau Bira, ‘Surga’ Tersembunyi di Jakarta

Pulau Bira di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Sumber Foto : Tribunnews.com

Pariwisata Indonesia—Hai Gaaees!

Pulau Bira dan Pulau Kayu Angin Bira, ibarat surga kecil yang jatuh di bumi. Keindahannya yang menakjubkan sungguh menggoda. Lautnya yang jernih dengan ribuan ikan di terumbu karang dapat dengan mudah dinikmati dari atas kapal. Kalo kamu bermukim di Jakarta, lokasinya gak jauh dari rumah. Di salah satu kepulauan seribu di wilayah utara Jakarta.

Akhirnya sampai juga setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari dermaga Pulau Harapan, kaki dapat langsung merasakan hangatnya hamparan pasir putih di Pulau Bira.

Dermaga dengan air laut jernih, kolam ikan hiu dan bandeng yang dangkal, sejenak memanjakan mata kami. Tidak ada kapal dari Pelabuhan Muara Angke yang langsung ke Pulau Bira. Beberapa tahun lalu, ada kapal cepat yang bisa mengantarkan langsung ke Pulau Bira karena dahulunya pulau ini merupakan pulau resort yang dikelola dengan baik, sebelum akhirnya ditutup oleh pengelolanya.

Panorama yang disajikan Pantai Bira mengagumkan. Pantai pasir putihnya yang bersih terlihat cantik, kontras dengan warna biru air laut. Menyegarkan setiap mata yang memandang.

Saat ini, Pulau Bira mulai dipadati banyak pengunjung. Kebanyakan wisatawan yang datang menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai di pantai atau pun berenang. Setelah jepret sana jepret sini dan mengelilingi Pulau Bira, kami bersiap untuk bersnorkeling.

Pulau Kayu Angin Bira adalah pulau tak berpenghuni yang luasnya hanya 500 meter persegi. Pantainya berpasir putih lembut dengan hutan di tengah pulau. Benar-benar terasa hanya kami yang berada di pulau ini saking menikmati suasana dan panoramanya.

Setelah berkeliling pulau saya kembali ke kapal untuk melaut, snorkeling. Kami ke Pulau Bira Kecil yang masih dalam gugusan Pulau Bira. Memakai peralatan yang telah disediakan, kami satu-persatu berenang, menyelam di laut.

Hati selalu rindu menikmati indahnya alam ini. Pikiran terus terbayang pemandangan indah di Utara Jakarta. Dari perjalanan ini pula saya berkenalan dengan orang-orang ‘gila jalan’ yang sulit untuk disembuhkan. Rela untuk tidak sembuh lebih tepatnya.