Ngeri dan Mendebarkan

Peresean, Sambutan Selamat Datang dari Suku Sasak
Pariwisata Indonesia

Artikel berkode ‘R(Restricted)’ Terbatas. Redaksi perlu mengingatkan, anak-anak berusia di bawah 17 tahun membutuhkan pendampingan orangtua, dan orang dewasa saat membaca. Tulisan mengandung unsur kekerasan, konten dewasa seperti aktivitas orang dewasa, bahasa, fotografi, grafis dan video, maupun sejenisnya. Peruntukan untuk kategori usia pembaca dewasa.

Pariwisata Indonesia

Ada berbagai cara yang dilakukan oleh kaum laki-laki untuk menunjukan ketangkasan dan keberanian mereka. Demikian juga yang dilakukan di Nusa Tenggara Barat, khususnya Suku Sasak. Para pria ini memiliki cara khusus yang dinamakan tradisi Peresean.

Peresean adalah seni bertarung antara dua orang pria dari Suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kedua petarung yang dinamakan pepadu itu dibekali dengan dua senjata. Pertama, tongkat rotan yang disebut penjalin, yang digunakan untuk memukul lawan. Oleh karena itu, di luar negeri Peresean disebut sebagai stick fighting.

Senjata kedua berupa perisai atau pelindung keras dan tebal yang disebut ende. Ende ini terbuat dari bahan kulit kerbau. Para pepadu tampil dengan bertelanjang dada, hanya memakai bawahan kain sasak dan sebuah penutup kepala bernama capuk. Pepadu bisa berasal dari penonton yang mengajukan diri atau dari pilihan wasit.

Biasanya tradisi Peresean dilakukan dilapangan terbuka, di mana ada jarak lebar antara pepadu dengan para penonton. Hal itu untuk menghindari para penonton terkena serangan nyasar dari para pepadu. Dalam adu pukul tersebut pepadu akan diawasi oleh dua orang wasit, yaitu wasit pinggir (pakembar sedi) yang bertugas untuk mencari dan mencocokan lawan pepadu serta wasit tengah (pakembar teqaq) yang bertugas untuk memimpin pertandingan.

Peraturan dalam peresean sangat sederhana. Setiap peserta tidak boleh memukul bagian bawah atau kaki lawan. Masing-masing pepadu hanya diperbolehkan menyerang bagian atas, terutama kepala, pundak, dan punggung. Pertandingan akan berlangsung sepanjang lima ronde, dengan masing-masing ronde selama 3 menit. Kemenangan pepadu akan ditentukan dari nilai yang dikumpulkan sepanjang lima ronde ini.

Pariwisata Indonesia

Selain itu, pepadu juga dinyatakan kalah jika bagian atas tubuhnya mengeluarkan darah, meskipun masih sanggup untuk melanjutkan pertandingan. Selain itu, pepadu juga boleh mengibarkan bendera putih jika dianggap tidak sanggup untuk melanjutkan pertandingan. Luka-luka berdarah para pepadu akan diobati oleh minyak khusus yang tidak akan menimbulkan rasa perih.

Selama peresean berlangsung, berbagai alat musik tradisional seperti gong, gendang, rincik, serta suling, akan menjadi musik pengiring yang akan menambah semangat para pepadu dan untuk memeriahkan suasana. Selain itu, juga dilantunkan tembang-tembang beraura mistis yang selain menambah semangat, konon juga bisa mengurangi rasa sakit akibat sabetan rotan dari lawan.

Pariwisata Indonesia

Salah satu hal unik dalam tradisi ini adalah bagian akhir di mana kedua pepadu harus saling berjabat tangan dan berpelukan sebagai tanda bahwa telah saling memaafkan, menerima hasil pertandingan, dan berdamai. Sehingga nantinya, tidak ada dendam yang terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari. Tradisi unik Suku Sasak ini mengandung banyak nilai seperti keberanian, ketangguhan, ketangkasan, rendah hati, dan tidak pendendam.

Tradisi Peresean telah berlangsung seja abad ke-13. Konon, pada awalnya Peresean dilakukan dalam upacara adat untuk memohon turun hujan di musim-musim kemarau. Pada masa Kerajaan Lombok, Peresean digunakan sebagai cara untuk melatih ketangkasan para prajurit untuk melawan penjajah. Selain itu juga menjadi cara untuk meluapkan emosi para prajurit karena berhasil melawan musuh.

Dalam perkembangannya saat ini, tradisi Peresean menjadi salah satu hiburan yang ditampilkan untuk menyambut tamu dan wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Meskipun ngeri dan mendebarkan, Peresean menjadi salah satu pertunjukan yang diminati para wisatawan, loh!(Nita)