Rumah Kembar Tuan Kentang, Wisata Sejarah yang Wajib Dikunjungi

Bangkitkan nasionalisme sobat pariwisata dengan menyambangi ke salah satu destinasi wisata bersejarah yang melegenda di kota Palembang. Tempat ini memiliki nilai historis. Rumah Kembar Kentang, wisata yang asyik dan wajib untuk dikunjungi. Simak ulasan lengkapnya!
Rumah Kembar Tuan Kentang, Griya Kain Tuan Kentang, H.M Mahmud bin Tedjo, Wisata Sejarah, Pariwisata Palembang, CSR Bank Indonesia, Kelompok Usaha Bersama Tuan Kentang, Pemprov Sumatera Selatan, Kadispar Kota Pariwisata Palembang, Pariwisata Indonesia, Umi Kalsum, walikota palembang, harnojoyo
Foto by: Vasa Annisa Indina

View this post on Instagram

. RUMAH KEMBAR TUAN KENTANG . Daerah Sentra Industri Kain Tradisional Tuan Kentang saat ini sudah berbenah dan indah sehingga banyak sekali menarik para pelancong untuk datang menikmati salah satu kawasan tua dan bersejarah Kota Palembang ini. Di sini ikon nya yang sangat terkenal yakni Rumah Kembar, yang didirikan tahun 1918 oleh Bpk.H.M. Mahmud bin Tedjo yang saat itu adalah seorang saudagar ternama di kawasan Tuan Kentang. Pembangunannya sendiri memakan waktu 8 tahun dan selesai pada tahun 1926. Rumah ini merupakan kediaman keluarga besar H.M. Mahmud yang hingga saat ini masih dihuni oleh generasi ke-3 hingga ke-5 dari keluarga H.M. Mahmud. Dinamakan Rumah Kembar karena rumah ini terdiri dari dua rumah yang menyambung di bagian belakang dengan desain arsitektur yang identik. Pada awal berdiri, rumah besar ini adalah rumah panggung yang mengadopsi paduan yang indah antara arsitektur Eropa dan rumah tradisional Palembang. Sentuhan Eropa nampak dari ornamen-ornamen eksteriornya. Sementara elemen interiornya banyak didominasi dengan ukiran kayu khas Palembang yang disepuh dengan emas. (Sumber: palembang-tourism.com) . #rumahkembartuankentang #tuankentang #pariwisatapalembang #charmingpalembang #palembangemasdarussalam #kotapalembang #pesonapalembang #pesonasumsel #pesonasriwijaya #pesonaindonesia . #Repost @musikreatifindonesia . Produser Eksekutif : @rianermanda Produser Pelaksana : @rifqimardhani Kameramen : @valahh Drone : @valahh Editor : @tomy.tl Crew : @vebiko @aprido13 @adipilogenic Produksi : @musikreatifindonesia . #musikreatifindonesia

A post shared by Dinas Pariwisata Palembang (@pariwisata.palembang) on

PariwisataIndonesia.id – Bila ke Palembang, belum lengkap jika belum mengunjungi rumah kembar Tuan Kentang. Bangkitkan nasionalisme Sobat Pariwisata dengan menyambangi ke salah satu destinasi wisata bersejarah yang melegenda di kota Palembang dan tempat ini memiliki nilai historis. Rumah Kembar Kentang, wisata yang asyik dan wajib untuk dikunjungi.

Rumah Kembar Tuan Kentang, Griya Kain Tuan Kentang, H.M Mahmud bin Tedjo, Wisata Sejarah, Pariwisata Palembang, CSR Bank Indonesia, Kelompok Usaha Bersama Tuan Kentang, Pemprov Sumatera Selatan, Kadispar Kota Pariwisata Palembang, Pariwisata Indonesia, Umi Kalsum, walikota palembang, harnojoyo
Destinasi Wisata Rumah Kembar Tuang Kentang

Dibukanya wisata rumah kembar Tuan Kentang sebagai tempat wisata adalah bukti bahwa Palembang sebagai kota yang ramah peninggalan sejarah. Bangunan tua ini berkonsep rumah panggung yang besar dan berdiri kokoh, tetap terjaga orisinalitas-nya. Bahkan, masih kuat dan menyimpan banyak memori.

Rumah bersejarah ini mulai didirikan pada tahun 1918, dan butuh delapan tahun (Tahun 1926) untuk finishing. Rumah kembar Tuan Kentang merupakan kediaman H.M. Mahmud bin Tedjo. Ia pengusaha ekspor kulit ular dan tersohor sebagai saudagar terkemuka di wilayah Tuan Kentang.

Kediaman rumah sejarah ini dihuni oleh generasi ke-3 hingga ke-5 dari keluarga H.M. Mahmud. Lokasi wisata rumah kembar Tuan Kentang terletak di Jalan Aiptu A Wahab No.4, 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30257.

Mengapa disebut wisata rumah kembar Tuan Kentang?

Dinamakan rumah kembar, karena terdapat dua rumah panggung letaknya berdekatan, dan saling terhubung. Ditambah lagi, bangunan bersejarah ini tampak jelas desain arsitek dominan identik.

Dan mengapa melekat nama ‘Tuan Kentang’? Tuan Kentang adalah nama kampung, bukan nama orang. Lokasi kampung ‘Tuan Kentang’ berada di tepi Sungai Ogan Palembang. Tepatnya di pertemuan Sungai Musi dan Sungai Ogan. Konon, ‘Tuan Kentang’ memang ada. Ia adalah saudagar Tionghoa yang dulu, memiliki bisnis besar di sepanjang muara sungai dan dimakamkan di kampung ini.

Kampung ‘Tuan Kentang’, dulunya, tak begitu populer. Dulu sekali, wisatawan yang berkunjung lebih familiar dengan “Jalan Aiptu A.Wahab Kecamatan Seberang Ulu 1- Kota Palembang.”

Untuk menuju kampung Tuan Kentang, Sobat berpatokan pada Jembatan Ampera ke arah Timur. Setibanya di perempatan jembatan layang, lanjutkan dengan belok ke Selatan arah Kertapati. Tepat sebelah kiri jalan sebelum Jembatan Kertapati di Seberang Ulu 1, disitulah letak kampung Tuan Kentang.

Secara terpisah, Bank Indonesia berperan penting untuk kemajuan pariwisata di Indonesia, khususnya destinasi wisata rumah kembar Tuan Kentang. Lewat program CSR Bank Indonesia membantu untuk renovasi bangunan bersejarah ini. Dan sejak dibangun hingga kini, rumah panggung yang sarat nilai historis tampil cantik dan bikin kagum. Kehadiran program CSR Bank Indonesia demi menjaga kelestarian budaya, dan memajukan wisata berbasis potensi lokal.

Wisata ini menyuguhkan rumah panggung mengkolaborasi berbagai ornamen arsitektur Eropa dipadukan dengan arsitektur rumah tradisional Palembang. Nuansa arsitektur Palembang terlihat pada ukiran kayu yang menjadi ciri khasnya Palembang, kayu-kayu dibagian sisi dalam bangunan dominan warna keemasan. Rumah panggung yang besar ini, juga mengadopsi arsitektur Eropa, sentuhan Eropa pada ornamen-ornamen eksterior bangunan menampilkan kesan elegan.

Nilai historis yang tercatat sebagai sejarah, pada masa penjajahan Jepang dulu, rumah panggung ini berfungsi sebagai tempat persembunyian pejuang kemerdekaan Indonesia dari kejaran tentara Jepang, juga pernah dijadikan dapur umum bagi pejuang.

Rumah ini pernah dikunjungi tokoh-tokoh nasional, salah satunya adalah Presiden Republik Indonesia ke-7, Ir. H. Joko Widodo. Istimewanya wisata rumah kembar Tuan Kentang, pengunjung akan melihat benda-benda warisan yang berada di dalam rumah ini, dan mengenali struktur bangunan zaman dulu yang masih berdiri kokoh tetap cantik walau berusia ratusan tahun.

Desain arsitek yang mengagumkan, menyimpan memori perjuangan bangsa ini. Peristiwa masa penjajahan dulu, diharapkan menguatkan rasa cinta tanah air dan menggelorakan semangat nasionalisme dalam berbangsa. Tempat ini wajib untuk wisatawan kunjungi.

Dijamin Sobat Pariwisata betah berlama-lama, selain itu pengunjung dapat menikmati panorama lain yang bikin hati terasa damai, rasakan sensasi suasana luar untuk berada di pinggiran Sungai Ogan, anak Sungai Musi dan sungai terpanjang ketiga di Sumatera Selatan. Beristirahat sambil mengamati pemandangan pinggir sungai, sungguh indah dan menyenangkan.

View this post on Instagram

. Bapak Walikota Palembang @harno.joyo dan Ibu Hj. Selviana Harnojoyo sedang menikmati indahnya suasana Sentra Industri Kain Tradisional Palembang TUAN KENTANG. Daerah Sentra Industri Kain Tradisional Tuan Kentang saat ini sudah berbenah dan indah sehingga banyak sekali menarik para pelancong untuk datang menikmati salah satu kawasan tua dan bersejarah Kota Palembang ini. . Di sini ikon nya yang sangat terkenal yakni Rumah Kembar, yang didirikan tahun 1918 oleh Bpk.H.M. Mahmud bin Tedjo yang saat itu adalah seorang saudagar ternama di kawasan Tuan Kentang. Pembangunannya sendiri memakan waktu 8 tahun dan selesai pada tahun 1926. Rumah ini merupakan kediaman keluarga besar H.M. Mahmud yang hingga saat ini masih dihuni oleh generasi ke-3 hingga ke-5 dari keluarga H.M. Mahmud. Dinamakan Rumah Kembar karena rumah ini terdiri dari dua rumah yang menyambung di bagian belakang dengan desain arsitektur yang identik. Pada awal berdiri, rumah besar ini adalah rumah panggung yang mengadopsi paduan yang indah antara arsitektur Eropa dan rumah tradisional Palembang. Sentuhan Eropa nampak dari ornamen-ornamen eksteriornya. Sementara elemen interiornya banyak didominasi dengan ukiran kayu khas Palembang yang disepuh dengan emas. Pada masa penjajahan Jepang, rumah ini pernah digunakan untuk menyembunyikan pejuang kemerdekaan Indonesia dari kejaran tentara Jepang. Rumah ini pernah dikunjungi tokoh-tokoh nasional, salah satunya adalah Presiden RI ke-7, bapak Ir. H. Joko Widodo. . ————————————- #harnojoyo #selvianaharnojoyo #griyakaintuankentang #rumahkembartuankentang #pariwisatapalembang #charmingpalembang @charmingpalembang

A post shared by Dinas Pariwisata Palembang (@pariwisata.palembang) on

Wisata bersejarah ini juga menawarkan jasa persewaan baju tradisional di masa itu, dan tersedia kain songket khas Palembang yang bisa dibeli. Silakan menginap disini, biaya kamar sudah berikut sarapan pagi. Tiap sudut pada bangunan, baik itu dibagian dalam rumah maupun luar, jika pandai mengambil momen foto di rumah kembar, gambar yang dihasilkan terlihat dramatik. Sobat serasa kembali ke zaman jadul. Sudut-sudut yang instagramable, kesan klasik dan tren fashion kembali ke zaman dulu akan menambah deretan galery media sosial, Sobat Pariwisata!

Sayang jika melewatkan momen indah ini, tanpa cekrekcekrek. Setelah puas berwisata, ada istimewa lain lagi, jika berkunjung disini.

Kampung ini, sebagian besar warganya hidup dari perajin kain tradisional. Adapun kain yang mereka produksi, seperti: kain songket, blongsong, tajung, pelangi, atau jumputan. Kualitas kain yang dihasilkan, cukup bagus.

Ini produksi rumahan dan mereka berkelompok. Produksi kain dari kampung Tuang Kentang, juga memasok ke beberapa galeri dan toko terkenal yang berada di kawasan kain Tangga Buntung, di Palembang.

Dari pagi hingga petang hari, kampung Tuan Kentang menghadirkan bunyian yang khas. Suara itu, tak pernah sepi, terdengar bunyi ‘kletak-klotok’ dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) perajin. Masyarakatnya, banyak memproduksi kain jumputan, kain tajung, kain blongsong, dan songket.

Kain jumputan paling favorit dan banyak dicari konsumen, walau begitu perajin memproduksi tak cuma kain jumputan saja. Bikin dicari dan paling favorit, karena pada warna kain jumputan terlihat ngejreng dan mencolok. Beraneka ragam motif kain jumputan, dan warnanya unik. Ini tidak ditemukan di daerah lain. Jumputan Palembang bisa disebut sebagai kain pelangi. Kain jumputan dibuat flexibel dan unisex. Bisa untuk laki dan perempuan, cocok sebagai busana resmi maupun santai.

Merajut geliat potensi ekonomi ‘Tuan Kentang’ terus bertumbuh maju, Pemerintah Daerah Kota Palembang mengajak Bank Indonesia untuk membangun sebuah galeri yang bisa menampung produksi mereka. Nama galery tetap mempertahankan identitas ‘kampung Tuan Kentang.’

Akhirnya diberi nama, “Griya Kain Tuan Kentang” dan diresmikan pada tahun 2017. Kini, Griya Kain Tuan Kentang menjadi destinasi wisata belanja menarik di kota Palembang. Galeri ini tak cuma menjual kain, pakaian, tapi juga aksesoris khas Palembang.

Kehadiran Griya Kain Tuan Kentang, sangat membantu pemasaran produksi rumahan ‘Tuan Kentang’ karena sebelumnya mereka harus keliling pasar untuk menjual hasil karya. Kini pemasaran lebih bisa terorganisir dan telah terbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tuan Kentang.

Program ini terbukti sukses dan mampu memajukan ekonomi masyarakat setempat dan rasa percaya diri para perajin makin kuat. Hingga kini, KUB Tuan Kentang beranggotakan 200-an perajin.

Buat Sobat Pariwisata, untuk ke lokasi ini, akses jalan dan lingkungan sekitar sudah tertata baik. Gapura Tuan Kentang hingga ke kantor Lurah 15 Ulu sudah dicor dan dapat dilalui kendaraan roda empat.

Suasananya bersih, terang, dan teratur. Termasuk rumah-rumah panggung yang berdiri di pinggir sungai. Griya Kain Tuan Kentang berjarak 100 meter dari gapura. Jika tak ada halangan, dan dalam waktu tidak berapa lama lagi. Pemda berencana membuka akses ke tempat ini lewat sungai(berperahu).

(Penulis: Nilia Andrini/Kusmanto)