Pariwisata Indonesia, Badik Lampung!

Selayang Pandang Badik Lampung, Pusaka dan Simbol Kejantanan Pria Lampung dapat terlihat dari Senjata Tradisional. Konon badik-badik tua memiliki warangan atau racun bacem kodok. Orang-orang zaman dahulu kerap melumuri bilah badik mereka dengan racun yang berasal dari jenis kodok tertentu. Pelengkap ini membuat badik zaman dulu menjadi salah satu senjata yang mematikan. Diyakini luka sabetan yang dihasilkan, sangat sulit untuk disembuhkan. Bahkan jika sabetan tersebut mengenai pohon, maka pohon tersebut dipastikan akan mengering dan mati. Simak ulasan lengkapnya, berikut ini!
Badik Lampung, Senjata Tradisional Lampung, Senjata Tradisional Nusantara, Pariwisata Indonesia, Media PVK, Umi Kalsum, Kebudayaan Indonesia, pariwisata, budaya lampung, pariwisataindonesia, pariwisata indonesia

Berbicara tentang senjata, mayarakat Lampung memiliki satu senjata yang telah digunakan sejak abad ke-12 tepatnya saat kekuasaan Kerajaan Tulang Bawang. Senjata itu bernama badik. Badik Lampung sangat mirip dengan Badik Bugis, dari bentuk maupun fungsi. Diduga, Kerajaan Bone dan Gowa di Sulawesi Selatan memperkenalkan badik pada Kerajan Tulang Bawang di Lampung. Namun, menurut para tetua di Lampung, badik Lampung adalah senjata asli mereka. Berdasarkan perbedaan ini, maka belum bisa dipastikan daerah mana sebenarnya badik berasal.

Meskipun begitu, badik merupakan senjata tradisional yang dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Lampung baik di desa maupun kota. Badik umumnya digunakan dalam pekerjaan sehari-hari, seperti berkebun. Pada masa lalu, badik dijadikan simbol kejantanan para pria Lampung. Mereka sering menyelipkan badik di pinggang dan membawanya ke mana pun. Namun, kebiasaan itu tidak lagi dilakukan seriring dengan himbauan pemerintah untuk tidak membawa senjata tajam.

Badik adalah senjata tajam berbentuk golok dengan bagian ujung yang bengkok, sehingga terlihat seperti membentuk huruf J atau L. Seperti badik Sulawesi Selatan, bilah badik Lampung juga memiliki bentuk bilah asimetris dan meruncing.

View this post on Instagram

Badik tua…sarung kemuning

A post shared by badik lampung (@lampungbadik) on

Terdapat dua jenis badik berdasarkan ukurannya, yaitu badik besar atau siwokh yang memiliki panjang mata pisau 19 cm dan lebar 2 cm serta badik kecil yang memiliki panjang mata pisau 11 cm dan lebar 2 cm. Siwokh sendiri terbagi menjadi dua, yaitu siwokh bebai yang memiliki lubang pada bilahnya dan biasanya digunakan oleh kaum perempuan serta siwokh ragah yang tidak memiliki lubang dan digunakan oleh kaum laki-laki.

Pada proses pembuatan badik, diperlukan material dasar berupa baja berkualitas untuk mata pisau dan kayu untuk gagangnya. Sementara sarung badik dibedakan berdasarkan status sosial. Masyarakat biasa umumnya menggunakan sarung badik berbahan kayu, sedangkan para raja, bangsawan, dan sesepuh menggunakan bahan gading gajah yang dilapisi emas sebagai sarung badik.

Pembuatan badik pada zaman dahulu diyakini lebih rumit dan membutuhkan jiwa seni, ketelitian, dan pengetahuan. Hal itu berkaitan erat dengan pamor (hiasan) yang biasanya ditemukan pada badik-badik tua. Pamor atau bercak ini diakibatkan percampuran bahan logam yang digunakan dalam penempaan badik.

Selain itu, konon badik-badik tua ini memiliki warangan atau racun bacem kodok. Orang-orang zaman dahulu kerap melumuri bilah badik mereka dengan racun yang berasal dari jenis kodok tertentu. Pelengkap ini membuat badik zaman dulu menjadi salah satu senjata yang mematikan. Diyakini luka sabetan yang dihasilkan, sangat sulit untuk disembuhkan. Bahkan jika sabetan tersebut mengenai pohon, maka pohon tersebut dipastikan akan mengering dan mati. Hal ini memnyebabkan badik tua dianggap sebagai pusaka khas Lampung.

Pada masa kini, badik dibuat dengan lebih sederhana, tanpa menggunakan pamor. Karena pengetahuan tentang arti masing-masing motif pamor sudah jarang dimiliki oleh masyarakat Lampung. Meskipun tidak sebaik badik tua, para pandai besi Lampung tetap bisa menghasilkan badik yang berkualitas. Sobat Pariwisata bisa menemukan senjata ini hampir di seluruh wilayah Lampung. (Nita/Kusmanto).