Pariwisata Indonesia: Gamolan Pekhing Lampung

Selayang Pandang Gamolan Pekhing atau Cetik adalah salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Lampung, khususnya daerah Liwa, Lampung Barat. Gamolan berasal dari kata gumulan yang dalam Bahasa Melayu berarti berkumpul. Alat musik ini menggunakan bambu sebagai materialnya. Namun, bambu yang digunakan bukanlah bambu biasa melainkan Bambu Betung (Dendrocalamus asper) yang hanya bisa didapatkan di hutan daerah Lampung Barat. Bambu jenis ini adalah bambu yang memiliki lingkar batang yang besar. GAMOLAN PEKHING LAMPUNG, Alat Musik Pukul Warisan Leluhur. Simak ulasan lengkapnya, berikut ini!
Alat Musik Tradisional Lampung, Gamolan Pekhing, Gamolan Pekhing Lampung, alat musik nusantara, media pvk, pariwisata indonesia, umi kalsum

PariwisataIndonesia.id – Bambu menjadi salah satu tumbuhan yang memiliki tempat khusus di hati rakyat Indonesia. Istilah bambu runcing menjadi simbol kebanggaan atas cerita kepahlawanan para pejuang dalam mengusir penjajah. Di beberapa wilayah, bambu juga digunakan sebagai material untuk membuat sandang (pakaian) berupa kain dari serat bambu, pangan (makanan) seperti rebung muda, dan papan (rumah).

Selain untuk kebutuhan sandang, pangan, dan papan, bambu ternyata juga bisa digunakan untuk hiburan, seperti alat musik. Di beberapa provinsi yang ada di Indonesia, Sobat Pariwisata bisa melihat penggunaan batang bambu untuk alat musik tiup, seperti suling dan sordam. Namun, ada yang unik di Lampung. Bambu disulap sebagai alat musik pukul. Kok, bisa?

Gamolan Pekhing atau Cetik adalah salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Lampung, khususnya daerah Liwa, Lampung Barat. Gamolan berasal dari kata gumulan yang dalam Bahasa Melayu berarti berkumpul. Alat musik ini menggunakan bambu sebagai materialnya. Namun, bambu yang digunakan bukanlah bambu biasa melainkan Bambu Betung (Dendrocalamus asper) yang hanya bisa didapatkan di hutan daerah Lampung Barat. Bambu jenis ini adalah bambu yang memiliki lingkar batang yang besar.

Untuk mendapatkan Bambu Betung yang berkualitas, maka harus dicari bambu yang mati temegi atau bambu sudah tua (berusia enam tahun atau lebih) dan mati dengan sendirinya. Setelah didapatkan, batang-batang bambu tersebut akan dipotong, direndam, dan dikeringkan, selanjutnya disusun berjajar dengan menggunakan senar yang dirancang khusus sebagai perekat. Sebagai pelengkap, dipersiapkan sebuah kayu yang berfungsi sebagai alat pemukul.

Selain pembuatannya yang sulit dan memakan waktu lama (lebih dari 6 bulan), cara memainkan gamolan bisa dibilang tidak mudah. Dibutuhkan keterampilan khusus yang hanya bisa diperoleh dengan latihan rutin untuk dapat memainkan alat musik ini dengan baik dan menghasilkan nada-nada yang sesuai. Gamolan termasuk ke dalam alat musik pentatonis yaitu alat musik yang memiliki tujuh buah nada. Nada yang dihasilkan alat musik ini, memiliki ciri khas tertentu yaitu menggambarkan suasana kesederhanaan, keluguan, dan kemurnian.

Gamolan dipercaya telah ada sejak abad ke-4 dan mengalami puncaknya pada abad ke-5 Masehi. Para antropolog percaya bahwa gamolan adalah cikal bakal dari alat musik gamelan yang menggunakan material besi dan kuningan. Gamolan diyakini dibawa ke Pulau Jawa seiring masuknya pengaruh Sriwijaya pada Dinasti Syailendra. Hal itu terlihat dari adanya gambar gamolan pada relief Candi Borobudur (abad ke-8). Memang sih, kedua alat musik ini memiliki bentuk dan cara memainkan yang mirip.

Sebelum tahun 1990-an gamolan hanya dimainkan saat pelaksanaan upacara adat atau penyambutan tamu. Alat musik tradisional ini pun terlupakan dan hanya dikenal di kalangan tertentu karena tidak adanya standar baku dalam penataan nada. Syafril Yamin, seorang pengrajin dan seniman gamolan, berupaya untuk mengangkat alat musik tradisional ini kembali ke permukaan. Ia pun membakukan notasi dalam gamolan, juga mulai memperkenalkan alat musik ini dengan skala yang lebih luas.

Saat ini, gamolan menjadi salah satu materi kesenian dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah di Provinsi Lampung. Selain itu, alat musik ini juga ikut mengiringi permainan musik tradisional lainnya. Dalam Festival Krakatau, gamolan kerap dimainkan sebagai salah satu kekayaan seni dan identitas Provinsi Lampung. Sejak tahun 2014, Gamolan Pekhing telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. (Nita/Kusmanto).