Pariwisata Indonesia Tampak di Kesenian Debus [Bacaan 17+]

Selayang Pandang Kesenian Ekstrem yang Butuh Keahlian Khusus, Kesenian Debus. Apa itu, ya? Kesenian Debus merupakan penggabungan dari petunjukan ilmu kebal dan pencak silat. Dalam penampilannya kerap dipertunjukan atraksi-atraksi berbahaya. Misalnya, berguling di atas pecahan kaca (beling), makan beling, makan bara api, menaiki susunan golok tajam, menusukkan jarum kawat menembus lidah atau pipi, mengiris bagian tubuh, hingga menusukan senjata tajam (tombak) ke bagian-bagian tubuh, seperti perut tanpa terluka dan mengeluarkan darah. Jikapun berdarah, maka luka tersebut akan sembuh dalam waktu singkat. Hebat, bukan? Simak ulasan lengkapnya, berikut ini! [Bacaan 17+]
Kesenian Debus, Ilmu Kebal dan Pencak SIlat, Pariwisata Indonesia, Kebudayaan Indonesia, Kesenian Indonesia, Media PVK, Umi Kalsum, pariwisataindonesia, Debus, Pariwisata Indonesia Tampak di Kesenian Debus, Founder PVK

Artikel berkode ‘R(Restricted)’ Terbatas. Redaksi perlu mengingatkan, anak-anak berusia di bawah 17 tahun membutuhkan pendampingan orangtua, dan orang dewasa saat membaca. Tulisan mengandung unsur kekerasan, konten dewasa seperti aktivitas orang dewasa, bahasa, fotografi, grafis dan video, maupun sejenisnya. Peruntukan untuk kategori usia pembaca dewasa.

PariwisataIndonesia.id – Apa sih, yang Sobat Pariwisata pikirkan saat mendengar kata Debus? Ilmu kebal, keahlian fisik, adegan berbahaya, atau benda tajam? Kesenian asal Provinsi Banten ini memang memiliki ciri khas seperti yang disebutkan tadi. Dalam pertunjukannya, kesenian ini menampilkan keahlian khusus yang ekstrem dan cenderung berbahaya jika dilakukan secara sembarangan oleh masyarakat umum.

Kesenian Debus merupakan penggabungan dari petunjukan ilmu kebal dan pencak silat. Dalam penampilannya kerap dipertunjukan atraksi-atraksi berbahaya. Misalnya, berguling di atas pecahan kaca (beling), makan beling, makan bara api, menaiki susunan golok tajam, menusukkan jarum kawat menembus lidah atau pipi, mengiris bagian tubuh, hingga menusukan senjata tajam (tombak) ke bagian-bagian tubuh, seperti perut tanpa terluka dan mengeluarkan darah. Jikapun berdarah, maka luka tersebut akan sembuh dengandalam waktu singkat. Hebat, bukan?

Mendengar dan melihat rangkaian atraksi yang berbahaya tersebut, penonton umumnya mengira bahwa kesenian Debus mengandung atau berhubungan erat dengan ilmu hitam. Namun, jangan salah! Kesenian yang juga menyebar hingga daerah Aceh dan Sumatera Barat ini ternyata justru sarat akan nilai religius, loh.

Debus berasal dari Bahasa Arab yang berarti senjata tajam berupa tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Debus diyakini pertama kali dipertunjukan pada masa kepemimpinan Maulana Hasanuddin (1532-1570) dari Banten. Pada saat itu, Debus digunakan oleh para ulama sebagai media penyebaran agama Islam di Banten. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692), debus bahkan dijadikan pemompa semangat rakyat yang saat itu sedang berjuang melawan penjajahan pemerintah Kolonial Belanda.

Kentalnya nilai-nilai agama bisa dilihat dalam pertunjukan Debus. Sepanjang pertunjukan, sholawat dan ayat-ayat Al-Qur’an akan dilantunkan oleh seorang mursyid atau guru tasawuf. Semua itu bertujuan untuk meminta perlindungan dari Allah agar para pemain senantiasa mendapat keselamatan selama pertunjukan berlangsung.

Kesenian Debus tidak dilakukan secara sembarangan. Perlu latihan khusus selama bertahun-tahun di padepokan khusus yang terdapat di daerah Banten. Seminggu hingga dua minggu sebelum melakukan Debus, para pemain juga harus menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, seperti minum alkohol, mencuri, atau berjudi. Bahkan, para pemain juga dilarang untuk behubungan dengan istri mereka.

Pada masa sekarang, kesenian Debus kerap ditampilkan dalam upacara adat (pernikahan, khitanan) maupun acara festival sebagai hiburan. Gimana Sobat Pariwisata? Berani menonton kesenian ektrem ini? (Nita/Kusmanto).

View this post on Instagram

Anak dari Gubes Tapak Debus Banten 🙏

A post shared by Tapak Debus Banten (@tapakdebusbanten) on

Catatan:  Adegan berbahaya. Jangan ditiru!  Hanya bisa dilakukan oleh orang-orang profesional. Adegan dan ‘Seni DEBUS’ tidak boleh dilakukan sembarangan harus ada pendampingan ahli.