Pariwisata Indonesia Mendunia, Jejak Suku Baduy dalam Tradisi Seba

Selayang Pandang Masyarakat Suku Baduy atau yang sering disebut dengan Urang Kanekes, memiliki ritual khusus yang dinamakan Seba. Pada hari tersebut, masyarakat Baduy berbondong-bondong turun gunung menuju kota. Suku Baduy Dalam yang dipimpin oleh Puun, mengenakan pakaian putih dan menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer berjalan kaki. Sementara Suku Baduy Luar akan mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala biru, dipimpin oleh Jaro. Beberapa Suku Baduy Luar diperbolehkan menempuh perjalanan dengan kendaraan. Namun, ada juga yang mengikuti rombongan dengan berjalan kaki. Hebat, bukan? Simak ulasan lengkapnya, berikut ini!
Pariwisata Indonesia, pariwisataindonesia, Suku Baduy, Tradisi Seba, Potensi dan Kekhasan Budaya Masyarakat Banten Baduy, Masyarakat Baduy, Baduy, Media PVK, Founder dan CEO PVK, Umi Kalsum, Founder dan CEO PVK Umi Kalsum

PariwisataIndonesia.id – Sebagian orang mungkin mengira bahwa warga Baduy Luar bahkan Baduy Dalam tidak akan pernah mau menjejakkan kaki ke daerah kota. Padahal masyarakat Suku Baduy punya hari khusus untuk berkunjung ke kota, loh. Kapan sih, waktunya? Dan kegiatan apa yang dilakukan? Cara Unik Suku Baduy Tampil di Mata Dunia. Simak ulasannya berikut ini! 

Masyarakat Suku Baduy atau yang sering disebut dengan Urang Kanekes, memiliki ritual khusus yang dinamakan Seba. Pada hari tersebut, masyarakat Baduy akan berbondong-bondong turun gunung menuju kota. Suku Baduy Dalam yang dipimpin oleh Puun, akan mengenakan pakaian putih dan menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer dengan berjalan kaki.

Baca Juga:  Pakaian Adat di Provinsi Banten, Suku Baduy

Sementara Suku Baduy Luar akan mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala biru, dipimpin oleh Jaro. Beberapa Suku Baduy Luar diperbolehkan menempuh perjalanan dengan kendaraan. Namun, ada juga yang mengikuti rombongan dengan berjalan kaki.

Sebelum hari Seba dilaksanakan, Suku Baduy akan menjalani ritual yang disebut Ngawalu. Ngawalu berlangsung selama tiga bulan saat musim panen tiba, di mana masyarakat Suku Baduy diharuskan berpuasa selama masa itu. Selain itu, masyarakat Suku Baduy juga tidak diperbolehkan untuk membetulkan rumah dan mengadakan acara selamatan. Pada saat pelaksanaan Ngawalu, orang luar Baduy pun tidak diperkenankan untuk masuk dan berkunjung ke daerah mereka. 

Di akhir pelaksanaan Ngawalu, Suku Baduy akan saling mengunjungi kerabat dan tetangga dalam ritual yang dinamakan Ngalaksa. Dalam kunjungan itu, mereka akan saling membawakan hasil panen masing-masing sebagai bentuk rasa syukur dan untuk lebih merekatkan hubungan silaturahim.

Pasca ritual Ngalaksa, maka akan dilakukan ritual Seba. Seba berarti seserahan. Pada saat pelaksanaan ritual ini, masyarakat Suku Baduy akan menemui para panggede (pejabat daerah atau bupati) baik bapak gede maupun ibu gede. Biasanya pertemuan ini berlangsung di pendopo Kabupaten Lebak. Suku Baduy akan membawa serta hasil panen sebagai seserahan.

Ritual Seba telah berlangsung selama ratusan tahun lalu sejak masa Kesultanan Banten di Kabupaten Serang. Ritual turun temurun ini pun menjadi ritual tahunan wajib. Jika ritual ini tidak dilakukan, masyarakat Baduy percaya bahwa mereka akan mendapatkan kualat (bencana).

Pemberian seserahan kepada pejabat daerah melambangkan rasa syukur Suku Baduy juga usaha untuk menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar. Selain itu, juga sebagai simbol bahwa Suku Baduy mengakui berada dalam kepemerintahan Republik Indonesia. 

Setelah memberikan seserahan, tokoh-tokoh Baduy Dalam dan Luar akan melakukan dialog dengan para panggede. Dialog yang berlangsung biasanya terkait dengan usaha untuk menjaga kelestarian alam dan hutan lindung yang menjadi daerah tempat tinggal Suku Baduy. 

Uniknya, pelaksanaan Seba ini tidak bisa ditentukan oleh kalender yang biasa digunakan oleh masyarakat umum. Suku Baduy memiliki sistem penanggalan sendiri. Selain itu, mereka juga akan menunggu wangsit dan instruksi dari Puun. Jadi, jika ingin menyaksikan Suku Baduy berbondong-bondong ke kota, Sobat Pariwisata harus menunggu pemberitahuan resmi dari pemerintah daerah setempat.

Sayangnya, tahun ini tradisi Seba tidak dilakukan terkait pandemik Covid-19 di area Provinsi Banten. Semoga tahun-tahun mendatang, kita bisa kembali menyaksikan tradisi unik Suku Baduy ini. (Nita/Kusmanto)