Jokowi Saat Berpidato di Global Covid-19 Summit, Beberkan 3 Hal Ini…

Pariwisata-Indonesia, Jokowi Saat Berpidato di Global Covid-19 Summit Beberkan 3 Hal Ini
Presiden Jokowi berpidato secara virtual pada Global Covid-19 Summit yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis, (12/5/2022). Dalam pidatonya Presiden mendorong semua negara untuk bekerja sama mengatasi pandemi serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. (Foto: Media PI/Dok. BPMI Setpres/Laily Rachev)

PariwisataIndonesia.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan bahwa setidaknya diperlukan tiga hal untuk membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat, yakni akses kesehatan yang inklusif, akses pembiayaan yang memadai, dan pemberdayaan.

Baca juga :  Dijamu Makan Malam Presiden Biden di Gedung Putih, Jokowi Sematkan Pesan di Buku Tamu Kenegaraan: See you in Bali for G20

Dalam keterangan resminya menyampaikan, pandemi Covid-19 memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi dunia, yakni ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan dunia terhadap pandemi ternyata tidak cukup kuat.

Bahkan, tatkala penanganan hal tersebut tidak teratasi dengan baik. Tak ayal, harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Akibatnya, jutaan orang kehilangan nyawa. Lebih jauh lagi, perekonomian dunia pun mengalami keterpurukan.

Baca juga :  Di Sela-sela Jamuan Santap Siang, Jokowi Ingatkan Anggota Kongres AS Soal Perang di Ukraina

Oleh karena itu, saat berpidato secara virtual pada Global Covid-19 Summit yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis (12/5/2022). Presiden Jokowi mendorong semua negara untuk bekerja sama mengatasi pandemi serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

“Untuk mengatasi pandemi, percepatan vaksinasi harus dilakukan untuk menjangkau 70 persen penduduk setiap negara. Momentum turunnya jumlah kasus saat ini harus dimanfaatkan untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap Covid-19,” kata Jokowi mengawali pidatonya di Global Covid-19 Summit, dalam keterangan tertulis Presiden, Jumat (13/5/2022).

Baca juga :  Jokowi Bertemu CEOs AS: Tekankan Kerja Sama, Mesti…

Pidato Presiden juga menyinggung soal vaksin, Jokowi menilai hal itu agar disegerakan menjadi vaksinasi. Hal lain yang dijelaskan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta di forum tingkat global itu, setidaknya diperlukan tiga hal untuk membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

Pertama, akses kesehatan yang inklusif. Menurutnya, seluruh masyarakat tanpa terkecuali harus memiliki akses terhadap layanan kesehatan dasar.

“Kolaborasi kita harus menjembatani tantangan vaksinasi, mulai dari pembiayaan, logistik, dan sumber daya manusia,” ujar Presiden.

Tak terkecuali infrastruktur kesehatannya, ini yang malah Jokowi wanti-wanti, harus memadai dan mesti siap dalam menghadapi pandemi.

“Di tingkat global, setiap negara besar maupun kecil, kaya maupun miskin, harus memiliki akses yang setara terhadap solusi kesehatan,” imbuhnya.

Kedua, akses pembiayaan yang memadai. Terkait hal itu, Presiden Jokowi mendorong perlunya mekanisme pembiayaan kesehatan baru yang melibatkan negara donor dan bank pembiayaan multilateral karena tidak semua negara memiliki sumber daya untuk memperbaiki infrastruktur kesehatannya.

“Dukungan pembiayaan kesehatan harus dilihat sebagai sebuah investasi dan tanggung jawab bersama mencegah pandemi,” lanjutnya.

Ketiga, pemberdayaan. Presiden Jokowi memandang bahwa kapasitas kolektif harus diupayakan dan kerja sama antarnegara menjadi kuncinya. Menurutnya, kerja sama riset, kerja sama transfer teknologi, dan akses ke bahan mentah harus diperkuat.

“Tidak boleh ada monopoli rantai pasok industri kesehatan. Diversifikasi pusat produksi obat, vaksin, alat diagnostik dan terapeutik harus dilakukan. Dengan kapasitasnya, Indonesia siap menjadi hub produksi dan distribusi vaksin di kawasan,” tegasnya.

Di akhir pidatonya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa presidensi Indonesia di G20 memberikan perhatian besar terhadap kerja sama kesehatan secara inklusif. Untuk itu diperlukan peran dan keterlibatan semua negara, serta penguatan peran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan multilateralisme.

“Tidak boleh ada yang tertinggal dalam upaya kita membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. Recover together, recover stronger,” pungkasnya. (soet)