Popy Widiarti Taubari atau Poppy Taubari (Foto: Istimewa)

Poppy Taubari: Semua Pihak Di Tengah Pandemi COVID-19 untuk Tetap Bersabar

“Walau sedikit, terpenting rezeki saya berkah. Nyanyi itu hobby saya, walaupun 3L, ‘letih-lelah-lesu’ harus bisa memahami konsekuensinya. Namanya juga kerja. Tapi saya, happy-happy saja. Malahan bisa bantu meringankan orang tua,” ujarnya, bangga.

Teman-teman Poppy bingung, mereka tanya resep. Dijawab Poppy singkat, “kerja dari apa yang kita cintai. Apalagi itu hobby,” jelasnya.

Meski gagal di IKJ, hidup selalu ada jalan wujudkan mimpi lain, “Saya hanya yakin pertolongan Allah SWT,” imbuhnya.

Saat itu, ceritanya seperti, “anugerah terindah yang pernah kumiliki. Saya pun lulus dari Universitas PGRI Program Studi Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik.Red) memang sempat tertunda sedikit-sedikit tapi selesai juga akhirnya. Alhamdulillah, perjuangan banget,” kenang Poppy.

Album Poppy duetkan dua pesan. Pesan pertama, ajakan kepada sesama saling menyemangati meski sendirian di suatu tempat dan merasakan susah malah mungkin, menderita.

Kedua, pendirian dari wanita berzodiak virgo sudah berkomitmen teguh ingin melestarikan musik melayu.

Dikatakannya, musik melayu sudah ada sejak nenek moyang sehingga warisan kebudayaan dari para leluhur bersifat turun temurun tersebut patut dijaga dan dilestarikan.

Poppy berharap semua pihak di tengah pandemi COVID-19 untuk tetap bersabar, bertahan, harus optimis menatap masa depan.

Saatnya nanti, semua akan berakhir. Yakinlah, semuanya itu akan indah pada waktunya.

“Mudah-mudahan lagu ini dapat mewakili perasaan para perantau dalam suasana pandemi Covid 19. Mengingat, banyak sekali para perantau berada pada kondisi seperti yang tercurah dalam lirik lagu,” harapnya.

Menutup wawancaranya, dia tidak menampik. Ada saatnya kita menangis karena rindu. Terlebih lagi, hari raya Idul Adha 2021/1442 H, 20 Juli nanti.

Sedih, tak bisa langsung tatap wajah ibu dan ayah sampaikan ‘kangen’. Rasa itu, sulit dilukiskan. Mengganjal dan terbungkam, sembunyikan sesuatu. Lebaran kali ini, mungkin, kembali tak pulang kampung, seperti lirik di akhir lagunya.

Cahya terang tertutup awan
Tujuh purnama mendung tak reda
Hendak mengadu tidak bertempat
Nasib badan dirantau orang

Hanya foto maupun chit chat dari pesan di handphone sebagai kenangan menguatkan. Doa-doa mereka bisa memberi kita cahaya terang. Satu pesan penutup dari Hang Tuah, ‘Tak kan melayu Hilang dibumi, Bumi bertuah Negeri beradat’.

Dari Poppy, si pelantun lagu ‘Di Rantau’. Lagu dan musiknya, Melayu banget, bukan? Silakan komen di bawah ini, Sob! (Raja Pitu/eh)