Samsuridjal Djauzi Ingatkan Peran Dokter; Sampai Kapan Gelombang II Covid19 Terus Makan Korban?

FOUNDER DAN CEO PT. PRIMA VISI KREASINDO (PVK) DAN PEMILIK MEDIA PVK GROUP UMI KALSUM, GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA (FKUI). PROF DR DR SAMSURIDJAL DJAUZI SPPD-KAI. FACP,GURU BESAR ILMU PENYAKIT DALAM FKUI PROF. DR. ZUBAIRI DJOERBAN SP.PD-KHOM,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIAN TOURISM WEBSITE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SAMPAI KAPAN GELOMBANG II COVID19 TERUS MAKAN KORBAN?,SAMSURIDJAL DJAUZI,SAMSURIDJAL DJAUZI INGATKAN PERAN DOKTER,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP, / Ilustrasi foto dari Harian Kompas (dok. web. Pariwisata Indonesia)

PariwisataIndonesia.id – Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP, mengingatkan profesi dokter begitu agung, suci dan mulia, namun keteladanan dokter dengan ia kehilangan rasa kemanusiaan tidak bisa disebut sebagai dokter yang baik.

Baca juga :  Jokowi Saat Munas KADIN VIII Terangkan Kunci dari Pertumbuhan Ekonomi Tekan Covid-19 Sampai Tuntas

Dilansir jaringan Media Kompas di bawah naungan Kompas Gramedia (KG), berkat dedikasi dan pengabdian Samsuridjal Djauzi dianugerahi penghargaan tertinggi, disematkan kepadanya sebagai Cendekiawan Berdedikasi Tahun 2021 dari harian Kompas.

Menelisik sosok Samsuridjal, redaksi menelusuri rekam jejaknya.

Hasilnya? Materi dalam kuliah umum dengan mengambil tema “Menjadi Dokter yang Profesional, Berakhlak Mulia dan Mencintai Tanah Air” memiliki nilai-nilai luhur dan prinsip itu senantiasa ia pegang kuat-kuat dan teguh.

Ceramah yang disampaikannya kepada para mahasiswa baru FKUI dalam beberapa waktu lalu, selain untuk ‘ditanamkan’ kepada dokter muda FKUI. Di sisi lain, bak ‘cermin’ kehidupan Samsuridjal Djauzi atau potretnya sehari-hari.

Tak bisa dipungkiri, pengabdian dokter di hari-hari ini menguras pikiran dan tenaga. Sudah pasti menguji kesabaran, karena mereka garda terdepan menolong pasien COVID-19.

Samsuridjal mengingatkan dan tak bosan-bosan disampaikan dalam segala kesempatannya, bahwa menjadi dokter mensyaratkan sikap peduli, empati pada sesama dan tidak diskriminatif.

Selain dia harus profesional, setiap dokter harus bersedia menolong pasien tanpa pilih-pilih. Diwanti-wantinya! Tidak membeda-bedakan manusia dan penyakit.

Tolong diingat, awal mulanya di Indonesia, tepatnya tahun 1980-an, mencatat Human Immunodeficiency Virus (HIV)-Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) terjangkit, menyebar dan merebak.

Kemudian, kala itu, negeri ini ‘tergagap’, dan akhirnya antara lain:
1. Sedikit pengetahuan tentang sindrom defisiensi kekebalan tubuh,
2. Keraguan tenaga kesehatan,
3. Ketakutan masyarakat (Tertularkan.Red)

Terkait hal tersebut, Ibu Pertiwi membutuhkan tenaga kesehatan. Wahai dokter yang agung, suci dan mulia, pengabdian ‘bekerja untuk kemanusiaan’, sudahkah angkat stetoskop saat itu, ‘dok?

Samsuridjal menjadi satu dari sedikit dokter yang siap menyatakan terdepan dan tanpa berpikir panjang, ia langsung menolong dan merawat pasien HIV-AIDS.

Kompas juga menyampaikan, peristiwa sedih pernah menerpa Samsuridjal. Disampaikan, terjadi pada pertengahan tahun 1995.

Diceritakan, ditengarai berbeda pendapat oleh sesama Dokter hingga akhirnya Samsuridjal tidak diizinkan merawat pasien di sebuah rumah sakit swasta tempatnya berpraktik.

Menanggapi ancaman tersebut, ia tak gentar sedikitpun dan peristiwa itu, sempat ramai dibicarakan. Memperoleh reaksi keras dari sesama tenaga medis (Dokter), penggiat dan pasien HIV-AIDS merespons positif sikap Samsuridjal.

Baca juga :  Samsuridjal Djauzi Bekerja untuk Kemanusiaan

Banjir dukungan, dan dibela oleh organisasi profesi, Ikatan Dokter Indonesia.

Pesan untuk dokter muda

“Saya sudah lolos ujian masuk Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tapi agar tidak perlu kos dan meringankan beban orang tua, saya ikut ujian masuk FKUI. Di tingkat II, semua mahasiswa FK ditawari beasiswa dengan syarat setelah lulus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia,” katanya, kutip Redaksi Pariwisata Indonesia, Sabtu (3/7).

Hal itu, ia sampaikan kepada Kompas, dan mungkin saja, ini bagian dari ceramahnya saat memberikan kuliah umum, atau membekali mahasiswa baru FKUI.

Samsuridjal menekankan untuk tidak melewatkan kesempatan bekerja di daerah. Mengapa? Karena, itu merupakan sarana mematangkan diri, belajar, bergaul, dan memahami budaya suku lain serta menjadi pemersatu bangsa.

Dalam wawancaranya kepada Kompas, Samsuridjal mengatakan menjadi dokter bukan cita-cita awal.

Namun, setelah lulus dokter tahun 1969, ia melanjutkan pendidikan Spesialis Penyakit Dalam. Selesai pendidikan pada 1976, Samsuridjal bertugas di Kalimantan Timur.

Meski ditempatkan di Rumah Sakit Wahab Syahrani Samarinda, Samsuridjal lebih memutuskan berkeliling ke rumah sakit kabupaten.

Gelar bergensi ia tanggalkan, bekerja untuk kemanusiaan adalah prioritas hidup dari salah satu pendiri Yayasan Pelita Ilmu (YPI), juga Ketua Yayasan Pelita Desa, sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Orang tersebut bernama Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP.

Segenap Pimpinan dan staf website PariwisataIndonesia.id juga turut ambil bagian memberikan apresiasi setinggi-tingginya dan mendapuk Samsuridjal Djauzi sebagai sosok berdedikasi tinggi pada dunia kesehatan yang digelutinya.

Mengungkit masa silamnya, saat Samsuridjal berumur 5 tahun. Ibunya mengalami kecelakaan, karena tertimpa pohon yang ditebang. Mengakibatkan kepalanya terluka dan jatuh sakit.

Dokter ataupun bidan, jauh dari tempat tinggal mereka. Di usianya segitu, ibunya hanya diobati dengan ramuan dari daun-daunan. Selama sakitnya, Samsuridjal selalu hadir dan sabar mengurusi, menunggui dan menghibur.

Melihat ketulusan anaknya yang lahir sejak masa pendudukan Jepang di Bukittinggi, 3 Mei 1945. Menimbulkan keharuan sang ibu. Lalu, mendoakan supaya kelak di kemudian hari Samsuridjal bisa menjadi seorang dokter.

Semangat bekerja untuk kemanusiaan mendarah daging di keluarga. Putra putrinya, Irfan Wahyudi dan Hilma Paramita, kini sudah menjadi dokter spesialis.

Demikian juga para menantunya. Tiga dari lima cucu memilih belajar di fakultas kedokteran. Cucu pertama telah lulus dari FKUI dan mendaftar untuk internsip di daerah.

Secara terpisah, pemerintah sudah memutuskan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro Darurat (PPKM Darurat), dan berlaku mulai hari ini, 3-20 Juli nanti.

Berkenaan dengan program tersebut, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan, situasi darurat Covid-19 tidak dapat dihentikan hanya oleh tindakan satu dua orang. Situasi ini baru bisa dikendalikan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat dan disiplin.

“Satu tindakan kecil kita berarti ribuan, bahkan jutaan nyawa selamat dan kembali beraktivitas dengan sehat. Mari tunjukkan peran kita sebagai warga negara yang peduli untuk saling melindungi,” ujar dr Reisa dalam pernyataan harian PPKM Darurat yang disiarkan YouTube BNPB Indonesia, Sabtu (3/7).

Sampai detik ini, pandemi COVID-19 bebal tak berkesudahan dan belum tahu kapan berakhir. Sampai kapan, gelombang kedua Covid-19 akan terus memakan korban?

Dimulai dari orang yang bukan siapa-siapa hingga sejumlah tokoh yang dinilai berpengaruh di Tanah Air. ‘Menggulung’ siapapun, tanpa terkecuali. Mari bijak menyikapi hal tersebut.

Wabah ini patut diwaspadai!

Tidak segera dituntaskan penanganan pandemic menyeluruh atau tekan COVID-19 sampai hilang di Indonesia, redaksi memastikan pariwisata di Indonesia belum pulih-pulih. Terpukul!

‘Jatuh-Bangkit kembali’ cuma pepesan kosong dan memuakkan, ‘zonk!’

Indonesia dibangun bersusah payah oleh para leluhur bangsa. Pendahulu kita, tidak sekedar nyawa; Keluarga, harta dan nama baik pun rela dipertaruhkan demi satu kata ‘Indonesia’, benar?

Indonesia adalah negeri yang kita cintai hari ini, meminta Anda jadilah pahlawan untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain. Caranya mudah, satukanlah persamaan yang ada dan lupakan perbedaan yang ada. Dengarkan imbauan pemerintah soal protokol kesehatan di tengah maraknya pandemi COVID-19 ini, dan ajak orang lain melakukan hal yang sama.

Tidak membawa penyakit ke dalam rumah, kalau tidak darurat, di rumah saja lebih aman. Kepada yang meninggal dunia karena penyakit ini semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada mereka, dan keluarga yang ditinggal diberikan kesabaran. Lindungi diri, keluarga dan orang lain dan Anda sudah menjadi pahlawan. Mari disiplin! (Eh)

Selanjutnya >>>  Samsuridjal Djauzi Ingatkan Dokter Bekerja untuk Kemanusiaan; Tolong Pasien COVID19, ‘dok!