PariwisataIndonesia.ID – Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Mengawalinya, Saptoto Nugroho selaku pendiri grup musik Toto & Stars langsung mencurahkan uneg-unegnya.
Selain, merasa prihatin, ia juga beranggapan, sesama anak bangsa akan sulit menemukan titik temu bila mereka telah menghilangkan nilai-nilai budi pekerti.
Saptoto Nugroho, Sosok Penting di Balik Nama Toto & Stars (Seri-1) <<< Baca artikel sebelumnya
“Dihilangkan, nek diselamur menjadi mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila, red) atau PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, red). Padahal, pendidikan budi pekerti adalah dasar untuk menemukan kemerdekaan itu sendiri,” curhatnya kepada PariwisataIndonesia.ID, Kamis (19/8/2021).
Ia juga berpandangan, Indonesia bisa merdeka seutuhnya jikalau semua pihak mesti sadar dan jangan bertengkar. Lanjut Toto, “karena nilai-nilai yang terkandung dalam budi pekerti akan kembali pada diri kita sendiri.”
“Dalam dekade per dekade membudayakan kebaikan di tengah masyarakat, adakalanya kembang kempis. Timbul tenggelam, bangkit, terpuruk lagi. Begitu terus berulang-ulang. Oleh karena itu, saya mempunyai pandangan untuk hal tersebut. Tapi mohon dicatat, ini menurut hemat saya loh ya.”
Kalau pemahaman budi pekerti sudah tertanam dan dipegang erat-erat. Maka sudah bisa dipastikan sesama anak bangsa akan hidup berdampingan dengan rukun dan damai.
“Kita mengerti dan sadar, ya kalau itu menyangkut agama tentu akan membicarakan akhlakul karimah atau apa sajalah itu. Saya tidak paham, karena bukan ahli agama. Namun yang jelas, benang merah keperibadiaan setiap orang yang sudah tertanam nilai-nilai budi pekerti. Anda tak perlu lagi bertanya soal agama, suku dan budaya serta lainnya. Alasannya, kita ini semua sama. Iya, sama-sama manusia.”
PariwisataIndonesia.ID, juga mengulik perjalanan karirnya sebelum ngehits seperti sekarang, dan Toto tidak sungkan membagikan kisah hidupnya dalam menapaki setiap ‘anak tangga’ untuk berhasil meraih kesuksesan seperti sekarang ini.
Sebelum menjawabnya, kata Toto, “semoga secuil pengalaman saya ini bisa berguna dan bermanfaat bagi generasi muda yang akan meniti karir lewat jalur musik. Saya mendoakan mereka, Insya Allah akan jauh lebih hebat dari grup musik Toto & Stars.”
“Saya ini cuma seorang pengamen. Pernah sekolah SMA (Sekolah Menengah Atas, red) dan tidak lulus. Setelah itu, beli ijazah SMA. Berbekal ijazah tadi, bisa keterima di kampus. Itu pun, tidak lulus. Akhirnya, saya beli lagi ijazah kuliah.”
Keberadaan ijazah bisa dibeli tentu ini mengundang rasa tanya, sudah tentu pula, mengusik pikiran PariwisataIndonesia.ID dan siapapun juga pasti bertanya-tanya.
Menjadi sangat wajar, untuk kembali meminta kepada Toto agar pernyataannya itu, mohon ditafsirkan dengan makna filosofis yang mudah untuk dicerna..
Apakah sekedar guyonan atau benar-benar menjadi realita dalam kehidupannya?
“Itu betul, karena Indonesia terlalu lentur seperti bambu. Ijazah saja bisa dibeli, ya saya beli. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1990-an. Saya beli saja untuk mendapatkan Ijazah tersebut. Tidak menampik, long life education saya memang besar di jalanan.”
Keusilan Toto karena ingin membuktikan “kebenaran” bahwa ijazah dapat dibeli dengan uang. Meski harus merogoh dari kocek sendiri. Kendatipun itu ilegal, “nyata-nyatanya ‘diperjualbelikan’ di Indonesia.”
“Saya akui memang membeli ijazah itu. Ehh, kok dilalahnya bisa untuk kuliah. Ya sudah, saya lewati prosesnya. Tetapi, kalau bicara tentang ilmu. Apa yang diperoleh saya adalah pengalaman hidup. Sebab, pengalaman hidup adalah ilmu yang sesungguhnya.”
“Ilmu tidak bisa dijalani tanpa kita menjalani perjalanan hidup itu sendiri. Kita hanya mengerti teori. Kita memahami taktisnya tetapi anda tidak akan menemukan benar dan salahnya saat menjalani kehidupan. Memahami itu benar, sudah pasti karena kita melewati salah.”
Kala itu, ia memulai karirnya dari mengamen sampai mengadu nasib ke Jakarta. Kemudian, terlibat dengan banyak kolaborasi bersama untuk mensupport musisi Indonesia yang jumlahnya sudah tak terbilang lagi, kata Toto, saking banyaknya.
Seiring waktu, Toto pun memperoleh kesempatan dan memiliki panggung sendiri. Singkat cerita, “Perjalanan hidup yang saya geluti hingga sekarang ini, menjadi musisi dan seniman.”
Sebelum menutup wawancara, PariwisataIndonesia.ID juga menanyakan, musisi yang sangat legendaris di Indonesia versi Toto?
“Ibu saya, dong,” jawabnya.
Alasannya? “Beliau membesarkan saya dan mengajarkan tentang musik itu sendiri sampai sekarang.”
PariwisataIndonesia.ID kembali mengulang pertanyaan, khawatir salah persepsi. Pertanyaannya dibikin mengerucut dengan meminta penilaiannya untuk menyebutkan nama musisi di Indonesia yang paling legendaris versi Toto.
Tetap saja, Toto bersikukuh kembali, “ibu saya.”
“Musisi legendaris itu relatif. Sebab, bicara legend karena dia sudah bisa berkarya dan diakui oleh khalayak ramai. Disebut legend karena sering diputar dan diperdengarkan. Akhirnya, terkenal. Kemudian, publik menyebut itulah yang disebut musisi legend.”
“Sementara makna dari legend berasal dari kata legenda. Sangat pantas jika menyebutkan musisi yang melegenda dan berpengaruh dalam kehidupan maupun kepribadiaan saya, tentu Ibu saya dong. Mengapa? Karena Ibu saya sinden di keraton Jogjakarta, penyanyi dengan suara yang sangat merdu,” pungkasnya. (Soet/Ss/Eh)







































Leave a Reply