Tradisional Baby Carrier

Bening, Wujud Cinta Anak dari Suku Dayak Kenyah
Pariwisata Indonesia

Tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang ibu. Bahkan di tengah kesibukan akan pekerjaan, seorang ibu selalu ingin hadir untuk buah hatinya. Bahkan jika memungkinkan, sang ibu ingin selalu membawa serta anak mereka ke lokasi pekerjaan.

Kira-kira seperti itulah gambaran para ibu Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Utara. Kegiatan bekerja di ladang atau sekedar melakukan pekerjaan di rumah, tidak menghalangi mereka untuk selalu berada di dekat anak, terutama yang masih kecil. Suku ini bahkan membuat satu alat khusus untuk memfasilitasi hal tersebut.

Pariwisata Indonesia

Bening, demikian nama alat yang telah digunakan oleh Suku Dayak Kenyah secara turun temurun sejak zaman dahulu. Alat ini digunakan untuk menggendong bayi yang sudah bisa duduk tegak, atau berusia sekitar 6 bulan hingga 1,5 tahun. Pada masyarakat modern, Bening hampir serupa dengan baby carrier.

Alat ini dilengkapi dengan dua buah tali yang dikaitkan di masing-masing lengan ibu. Bening diletakkan di bagian punggung, seperti menggunakan tas ransel. Sementara bayi duduk di dalam Bening dengan posisi menghadap punggung ibu. Dengan demikian, sang bayi akan mencium aroma, merasakan suhu tubuh, serta mengikuti gerak-gerik ibunya.

Bening terbuat dari kayu pulai yang terkenal kuat dan ringan serta mudah untuk dibentuk. Kayu sepanjang 38-40 cm ini kemudian dipotong lalu dikeringkan sekitar 2 hingga 3 bulan agar lebih kuat. Kayu pulai ini nantinya berfungsi sebagai rangka utama. Di bagian bawah kayu pulai dipasang papan berbentuk setengah lingkaran yang berfungsi sebagai tempat dudukan. Kemudian di bagian kiri dan kanan diberi anyaman rotan yang berfungsi sebagai tali pengikat.

Setelah rangka Bening selesai, proses selanjutnya adalah pemberian manik-manik dengan motif lukisan khas Dayak. Pemberian hiasan ini bermakna bahwa anak adalah anugerah dari Tuhan yang harus dijaga dan dijunjung tinggi. Umumnya, motif manik-manik yang diberikan adalah motif pohon kehidupan, motif dedaunan, dan motif manusia.

Motif pohon kehidupan memiliki makna harapan agar anak di dalam Bening hidup sehat dan panjang umur. Motif dedaunan memiliki makna harapan agar sang anak memiliki sifat rendah hati. sedangkan motif manusia melambangkan roh nenek moyang yang menjadi penjaga.

Motif lain yang diberikan menjunjukan tingkat sosial masyarakat. Keturunan para bangsawan (paren) biasanya memiliki manik-manik berbentuk wajah manusia atau harimau. Bening tersebut juga diberi hiasan gigi-gigi harimau atau beruang. Sementara masyarakat biasa menggunakan manik-manik dengan motif anjing tanpa hiasan gigi harimau atau beruang. Beberapa Bening juga dilengkapi dengan berbagai hiasan lain seperti kerang laut dan uang koin.

Selain digunakan untuk menggendong bayi, Bening juga sering digunakan sebagai hiasan di rumah maupun dekorasi pernikahan Suku Dayak Kenyah. Keunikan dan keindahan Bening Dayak Kenyah, Kalimantan Utara, menjadikan gendongan ini disetujui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2016. Bening juga kerap diberi hiasan berupa taring harimau, taring beruang, uang logam, serta anyaman manik-manik.(Nita)