Tulup Suku Sasak

Senjata Tradisional yang Ramah Lingkungan
Pariwisata Indonesia

Setiap wilayah di Nusantara memiliki senjata khas masing-masing yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya sumpit. Menurut KBBI, sumpit atau sumpitan adalah pembuluh (dari buluh, logam, dan sebagainya) untuk melepaskan damak (panah pendek) dengan jalan ditiup. Senjata tradisional ini masih kerap digunakan di berbagai wilayah di pedalaman Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Papua, hingga Nusa Tenggara Barat. Di provinsi ini, sumpit yang digunakan masyarakat dikenal dengan nama Tulup.

Pariwisata Indonesia

Tulup merupakan senjata jarak jauh yang memiliki jangkauan tembak sekitar 10 hingga 15 meter ini biasanya digunakan untuk berburu hewan. Pada masa sekarang, senjata ini masih digunakan oleh masyarakat yang tinggal di dekat hutan, misalnya hutan di Lombok. Mereka menggunakan tulup untuk berburu hewan liar, seperti babi hutan dan kera (trachypithecus auratus kohlbruggei).

Selain sebagai senjata tradisional, tulup juga dianggap sebagai benda keramat yang memiliki nilai magis sehingga kerap diberi jampi-jampi. Menurut masyarakat, tulup adalah senjata yang membantu mereka dalam mencari rejeki, maka patut dihormati dan dihargai. Jampi-jampi ini dilakukan sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar tulup tersebut bisa menghasilkan banyak hewan buruan.

Pariwisata Indonesia

Tulup Suku Sasak terdiri dari tiga komponen yang harus selalu dibawa dalam setiap perburuan, yaitu:

1. Gagang Tulup

Gagang tulup merupakan merupakan tongkat sepanjang sekitar 160 cm dengan diameter 3 cm. Gagang tulup terbuat dari kayu meranti dan memeliki bentuk yang hampir sama dengan tombak. Tongkat ini dibuat dengan cara melubangi bagian tengahnya dengan diameter sekitar 1,5 cm atau ukuran yang sesuai dengan pelurunya sehingga menghasilkan daya lesat bisa maksimal.

2.Ancar

Ancar merupakan anak panah kecil yang terbuat dari pelepah pohon enau yang berfungsi sebagai peluru. Selain mudah didapatkan, pohon enau lebih mudah dibentuk dan tidak mudah goyang saat diterpa angina. Ancar memiliki panjang sekitar 16-17 cm dengan diameter 0,5 cm. Bagian runcing atau mata ancar dibuat sepanjang 4,5 cm.

Batang enau yang telah dipotong-potong sesuai ukuran akan dihaluskan menggunakan pisau. Batang yang belum dihaluskan dan masih memiliki banyak serat bisa menghambat laju ancar. Biasanya mata ancar yang telah dibuat akan dicelupkan dalam adonan racun yang berasal dari getah pohon tatar yang telah diangin-anginkan terlebih dahulu agar menghasilkan kualitas racun yang baik. Getah ini sangat ampuh untuk membuat hewan buruan lumpuh dan mati dengan cepat. Biasanya, dibutuhkan waktu sekitar 15-30 menit hingga seekor kera mati. Sedangkan untuk babi memerlukan waktu sekitar dua hari.

3.Terontong

Terontong merupakan alat yang terbuat dari bambu dan berfungsi untuk menyimpan ancar. Terontong dibuat seperti teko air tradisional dengan tutup yang diikatkan ke badan terontong.

Tulup merupakan senjata tradisional yang ramah lingkungan karena terbuat dari material-material alam yang bisa dengan mudah ditemukan. Masih ada beberapa kelompok masyarakat yang menggunakan senjata ini meskipun jumlahnya tidak lagi banyak karena pemerintah telah melarang perburuan terhadap kera yang termasuk dalam deretan hewan yang harus dilindungi.

Jumlah pemburu tradisional pun mulai banyak berkurang. Kita juga berharap agar pemburu modern tidak mengambil kesempatan ini dan mengisi kekosongan posisi para pemburu pengguna tulup.(Nita)