Wayang telah menjadi salah satu kekayaan kesenian bangsa Indonesia. Wayang Kulit bahkan mendapat pengakuan UNESCO sebagai Warizan Budaya Tak Benda Dunia. Selain memiliki Wayang Kulit dan wayang Golek di Pulau Jawa, Indonesia juga memiliki ragam wayang lain yang berasal dari Kepulauan Riau. Wayang ini bernama Wayang Cecak.
Kesenian yang berupa sastra lisan dengan media wayang ini berasal dari Pulau Penyengat, salah satu pulau yang berada di gugusan Kepulauan Riau. Wayang yang berupa boneka tangan dan terbuat dari bahan kain ini merupakan akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu. Wayang-wayang ini pun dimainkan oleh sang dalang dalam kotak berukuran 2×3 meter yang menjadi latar panggung.
Wayang Cecak pertama kali dimainkan oleh Khadijah Terung, seniman wanita pada masa Kesultanan Melayu yang menimba ilmu kebatinan tinggi. Konon, jampi-jampi yang dimiliki beliau sangat manjur dan bisa membuat para penonton terperangah.
Hingga tahun 1940-an, Khadijah memainkannya secara tertutup untuk kalangan terbatas. Kala itu, penontonnya hanya kalangan bangsawan dan anak-anak Tionghoa. Hal ini membuat Wayang Cecak tidak dikenal dan tersebar luas.
Pertunjukan Wayang Cecak biasanya memakan durasi 10 hingga 90 menit. Beberapa lakon yang kerap dimainkan yaitu syair Siti Zubaidah, yang menceritakan tentang perjalanan Zainal Abidin untuk menjumpai Siti Zubaidah dan akhirnya menjadikannya istri. Lakon lain yang juga sering dimainkan yaitu cerita Engku Putri, Cerita Hang Jebat, serta Selindung Delima.
Tokoh-tokoh yang dalam wayang Cecak biasanya memiliki karakter yang baik dan buruk. Cerita yang ditampilkan pun berkisah seputar kegiatan sehari-hari. Wayang Cecak bisa menjadi media pembelajaran dan pembentukan karakter bagi para generasi muda karena kisah-kisahnya mengandung nilai-nilai kehidupan.
Dari awal hingga akhir, pertunjukan Wayang Cecak biasanya diiringi lantunan musik dari biola, akordion, gendang, dan gong. Lantunan alat musik tersebut sangat kental dengan budaya Melayu.
Alunan musik nan merdu, dipadu dengan pertunjukan wayang yang menghibur dan sarat makna membuat Wayang Cecak menjadi salah satu kesenian yang layak untuk terus dijaga.
Sayangnya, kesenian Wayang Cecak sudah jarang dipertunjukan bahkan terancam punah. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Kota Tanjungpinang, dan Badan Bahasa sedang mengupayakan untuk merevitalisasi Wayang Cecak, karena berkaitan dengan pendidikan karakter dan mengandung kearifan lokal. Selain itu, beberapa komunitas juga berusaha untuk terus menjaga keberlangsungan kesenian tradisional khas Kepulauan Riau ini.
Kita berharap, Wayang Cecak akan terus lestari dan menjadi salah satu kekayaan bangsa Indonesia. (Nita/Kusmanto)
Follow: @pariwisataindonesiaofficial, #pariwisataindonesiaofficial







































Leave a Reply