Apkasindo: Politisasi Bansos Melukai Masyarakat

Apkasindo Organisasi Sawit
Apkasindo Organisasi Sawit

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) meradang dan jengkel. Menepis isu dan menilai informasi yang beredar tidak sesuai fakta di lapangan, cenderung tendensius. Petani-petani kelapa sawit meminta bantuan sembako (Bansos) kepada pemerintah karena terancam kelaparan adalah tidak benar.

ketua apkasindo
Foto Ketua Apkasindo, H. Gusdalhari Harahap tampak kiri simbolis serahkan pada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

Apkasindo adalah organisasi yang didirikan pada tanggal 28 Oktober 2000 di Palembang dan diprakarsai oleh utusan-utusan petani kelapa sawit dari seluruh Indonesia. Berbadan hukum tetap legitimisanya diakui pemerintah dan ada di 22 provinsi di Indonesia.

Sekjen DPP Apkasindo, Rino Afrino, marah dan mengecam keras. Dalam situasi wabah Corona, semua pihak mengimbau agar tidak mengeluarkan pernyataan kontroversial dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Kalau ada petani buah kelapa sawit sawit yang dikenal dengan sebutan Tandan Buah Segar (TBS) meminta bantuan sembako kepada pemerintah karena terancam kelaparan adalah tidak benar. Rino menyebutkan jangan politisasi bantuan sosial dari pemerintah pusat. 

“Mereka yang bicara tadi mungkin bukan petani dan tidak punya kebun sawit. Selain itu, mereka hidup bukan dari TBS sawit,” tegas Rino.

Rino menuturkan kondisi harga TBS kelapa sawit di awal Ramadan tahun ini rata-rata berkisar Rp 1.250 – Rp 1.700/kg. Harga ini jauh lebih baik dibandingkan harga TBS di awal Ramadan tahun 2019 yang berkisar Rp 800–Rp 1.350/kg.

Rino tidak menampik pernah mendapatkan harga jauh lebih bagus dari sekarang. Tetapi mempolitisasi bansos sungguh adalah melukai masyarakat. ‘Kurang arif,” sebut rino.

Aktivitas petani di perkebunan kelapa sawit masih berjalan normal dan kehidupan ekonomi petani sehari-hari tetap berjalan baik.

Berdasarkan pantauan Apkasindo terhadap kondisi petani sawit Apkasindo di 22 provinsi dan 117 kabupaten/kota hingga hari ini, belum ditemukan adanya petani sawit yang berteriak ekonominya anjlok akibat turunnya harga TBS sebagai dampak Covid-19. 

Sujarno, petani sawit Rokan Hilir, Riau, berpendapat bahwa pernyataan yang menyebutkan petani sawit terancam kelaparan sangat menyesatkan karena petani di daerahnya sedang bersemangat merawat tanaman kelapa sawit dari program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

“Kami yang sedang proses replanting saja gak kelaparan, tetapi malahan diisukan ekonomi petani sawit amblas. Harga TBS kami di Rokan Hilir juga bagus di kisaran Rp1.420/kg. Lalu, kenapa ada pihak yang mengatakan petani terancam kelaparan?” ungkap Jarno dengan heran.

Dorteus Paiki, petani sawit di Manokwari, Papua Barat mengatakan kondisi petani tetap baik dan semua petani sepakat untuk mencegah penularan Covid-19. Paiki juga menjelaskan bahwa tidak ada petani yang kelaparan. Bahkan, petani sawit di Papua Barat malah membantu masyarakat lain yang bukan petani sawit yang terdampak wabah corona.

“Kami di Papua Barat tetap hidup aman dan sehat walaupun ada ancaman pandemi corona. Sebagai petani sawit di Papua Barat, mohon semua pihak jangan memanfaatkan situasi saat ini untuk kepentingan pribadi atau ‘pesanan’. Jangan pula menjadi pengkhianat bangsa,” tegas Paiki.

Jafar, petani sawit asal Bengkulu, menjelaskan, kendati terjadi penurunan harga TBS dalam seminggu terakhir, petani masih sejahtera. Jafar merasa tersinggung apabila ada pihak yang mengatasnamakan petani, lalu menyebarkan informasi ancaman kelaparan ini.

“Kalau pabrik sawit sampai tutup di saat corona ini, barulah ekonomi petani bisa terganggu. Namun, kami tidak terima jika dikatakan terancam lapar karena kami petani sawit banyak juga yang mengembangkan budi daya tanaman lainnya,” tegas Jafar.

Kasriwandi, petani sawit dari Muara Bulian, Jambi mengemukakan bahwa aktivitas kebun sawit tetap berjalan lancar dan normal dengan petani yang tetap mengikuti arahan pemerintah seperti pembatasan sosial. Tidak benar jika dikatakan petani mengalami kelaparan karena hingga saat ini harga TBS masih mampu memberikan penghasilan yang baik kepada petani meskipun sempat terjadi penurunan harga pada bulan sebelumnya.

“Petani sawit itu sangat teruji dengan turun naiknya harga sawit. Justru di saat corona ini, harga TBS kami lebih cantik sebelum ada corona tahun lalu. Jadi, harga turun naik itu biasa. Kalau kelaparan, sangat tidak mungkin, di saat harga TBS Rp800/kg saja kami bahagia apalagi rerata harga TBS petani swadaya saat ini Rp1.500/kg. Sementara itu, harga petani mitra atau plasma sekitar Rp1.681/kg. Strategi petani saat turun harga biasanya mengurangi pemupukan, tidak ada itu istilah petani kelaparan. Mungkin narasumber berita tersebut yang kelaparan,” ujar Kasriwandi.

Hal yang sama juga disampaikan Ali, petani sawit di Kalimantan Utara (Kaltara). Ia menjelaskan bahwa justru dengan adanya perkebunan kelapa sawit di Kaltara dapat membuat perekonomian di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia ini mampu bertahan terutama Kabupaten Nunukan dan lainnya. “Bahkan, petani sawit Apkasindo di Nunukan berpartisipasi membantu warga tidak mampu di desa saya sebanyak 200 sak beras. Bantuan ini terus berlanjut lagi bulan depan. Jadi, bagaimana mungkin kami kelaparan?” ungkap Ali.

Andi Kasruddin, petani sawit asal Sulawesi Barat ikut menjelaskan bahwa sepanjang pabrik sawit tetap beroperasi, penghasilan petani tetap aman dan kelaparan tidak akan terjadi. “Bagi kami, petani sawit sudah teruji dan tahan lapar selama membangun kebun sawit dari nol sampai menghasilkan,” jelasnya.

Ketua Harian DPP Apkasindo, H. Gusdalhari Harahap, menjelaskan bahwa hubungan antara petani, pabrik sawit, dan pemerintah sangat baik bahkan saling mendukung khususnya saat pandemi Covid-19 ini. Sebaiknya, semua pihak menahan diri untuk tidak “bermain” dan membuat sensasi melalui isu-isu yang merusak situasi saat ini ketika semua fokus mitigasi corona.

“Kita elemen masyarakat Indonesia harus bekerjasama menjaga situasi dan iklim ekonomi khususnya perkebunan sawit, apalagi di tengah pandemi wabah corona. Upaya ini sangat dibutuhkan supaya ekonomi Indonesia dapat bangkit dan kuat terutama di saat sulit seperti sekarang,” harapnya.