Kuburan Batu di Kampung Adat Ratenggaro

PariwisataIndonesia.id – Desa Adat Ratenggaro di Umbu Ngedo, Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu pilihan destinasi wisata alam dan budaya yang menarik.

Penampilan ‘gerbang’ depan kawasan Desa Adat Ratenggaro bentuknya berupa kuburan batu besar. Bila diperhatikan secara seksama, menyerupai menhir yang dilengkapi ukiran aksara kuno.

Desa Adat Ratenggaro, terletak di dekat bibir pantai wilayah Desa Umbu Ngedo. Letaknya, sekitar 40 kilometer dari Tambolaka, ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya.

Waktu tempuh menuju ke objek wisata ini, diperkirakan 1,5 hingga 2 jam. Di sini ini, belum didukung moda transportasi umum, sehingga wisatawan yang mau berkunjung terpaksa sewa kendaraan terlebih dulu saat berada di Tambolaka.

Ketika memasuki Desa Adat Ratenggano, wisatawan akan disuguhkan pemandangan rumah-rumah adat dengan bentuk yang unik dan eksotik. Deretan rumah adat bernama Uma Kelada ini tertutup jerami dengan tinggi rendahnya atap dibuat berdasarkan status sosial.

Pada dasarnya rumah-rumah di Desa Adat Ratenggano di Sumba adalah rumah panggung yang terdiri dari empat tingkat. Lantai paling bawah digunakan sebagai kandang hewan peliharaan, tingkat kedua menjadi tempat tinggal pemilik rumah, dan tingkat ketiga adalah tempat menyimpan hasil panen.

Seorang warga Kodi Bangedo, Samuel, mengatakan keberadaan makam yang berjejer itu sesuai dengan nama desa adat tersebut.

“Ratenggaro terdiri dari kata Rate yang berarti kuburan dan Garo yang artinya orang-orang Garo,” kata Samuel, seperti dilansir dari situs tempo.co.

Terlepas dari sejarahnya yang cukup seram, nyatanya Desa Adat Ratenggaro menyimpan beraneka macam keindahan alam dan keragaman budayanya.

Lokasinya berada di Ujung Selatan Pulau Sumba dan menyuguhkan pesisir pantai yang begitu cantik dan indah.

Menjejakkan kaki di sini, jangan lewatkan kesempatan untuk duduk di pinggiran pantai sambil menyaksikan rumah-rumah tradisional Desa Adat Ratenggaro, serasa di suatu negeri di dunia antah berantah, bikin takjub dan benar-benar eksotik.

Desain arsitektur tradisional dapat terlihat dengan jelas bahkan dari jarak yang cukup jauh sekalipun. Hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan utama masyarakat Desa Adat Ratenggaro yaitu marapu. Marapu menjadi kepercayaan pemujaan terhadap para leluhur yang masih sangat dipegang teguh.

Rumah penduduk didesain dengan konsep rumah panggung dan memiliki menara atap yang menjulang tinggi. Bahkan rumah adat Ratenggaro menjadi rumah adat tertinggi di Pulau Sumba.

Menara yang menjulang tinggi tersebut merepresentasikan status sosial dan bentuk penghormatan terhadap arwah para leluhur sehingga fungsi rumah selain sebagai tempat tinggal juga berfungsi sebagai sarana pemujaan.

Meski perjalanannya membutuhkan waktu yang tak sebentar. Namun, setibanya nanti, setimpal dengan keindahan alamnya yang memesona dan eksotik. Apalagi, kebudayaan yang disuguhkan oleh Desa Adat Ratenggaro. Dijamin seru dan asik.

Maka tidak heran bila Desa Adat Ratenggaro banyak diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Jangan lupa, tersedia aneka suvenir, makanan tradisional, naik kuda,dan sambil berselfie ria sembari mengenakan baju adat Sumba. Tertarik untuk datang ke Kampung Adat Ratenggaro?