Namanya fahombo atau hombo batu atau lompat batu Suku Nias (Foto : assets.pikiran-rakyat)

Mau Dianggap Dewasa? Lompat Batu Dulu!

Fahombo Nias: antara Tradisi, Latihan, dan Mistis

Fahombo Nias: antara Tradisi, Latihan, dan Mistis

Halo, Gaes!

Pastinya lo udah tahu, dong, bahwa dewasa adalah salah satu step dalam kehidupan manusia. Penanda kedewasaan ini berbeda-beda sesuai dengan perspektif masing-masing. Ada yang menjadikan perubahan fisik sebagai penanda kedewasaan, ada juga yang menjadikan umur sebagi patokan.

Selain umur dan perubahan fisik, ternyata ada juga cara lain untuk menentukan kedewasaan, loh. Seperti yang dilakukan oleh Suku Nias, salah satu suku di Sumatera Utara.

Namanya fahombo atau hombo batu atau lompat batu Suku Nias. Lo pasti udah enggak asing dengan tradisi yang satu ini, kan? Selain pernah menjadi gambar di uang pecahan seribu lama, fahombo juga menjadi tradisi yang sudah mendunia. Banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang sengaja datang ke salah satu destinasi Pariwisata Indonesia yaitu Nias untuk menyaksikan tradisi ini.

Tidak semua daerah di Nias melakukan tradisi fahombo ini. Nah! Untuk menyaksikan lompat batu ini lo bisa datang ke destinasi Pariwisata Indonesia yang ada di Sumatera Utara, salah satunya di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan.

Bawomataluo berarti bukit matahari. Nama ini diambil karena desa ini memang terletak di atas bukit dengan ketinggian 400 mdpl. Untuk masuk ke desa ini, lo bahkan harus menaiki 77 anak tangga. Perjuangan lo tentunya bakal terbayar dengan panorama alam dari atas bukit serta vibes budaya yang masih kental banget.

Meskipun merupakan tradisi, enggak semua orang di Desa Bawomataluo melakukan fahombo, Gaes! Lompat batu ini hanya dilakukan oleh kaum pria. Pada masa dulu, keberhasilan melakukan fahombo dapat menjadi bukti kedewasaan dan kematangan secara fisik serta membuat pemuda tersebut bisa ikut andil dalam perang.

Belum ada catatan pasti kapan fahombo pertama kali dilaksanakan. Tapi diduga, tradisi ini dilakukan untuk persiapan dan ujian perang dimana para prajurit nantinya harus melompati benteng musuh. Meski di masa sekarang perang antar suku udah enggak lagi, tradisi fahombo tetap dilestarikan sebagai bagian dari kebudayaan Suku Nias Selatan.

Dalam tradisi fahombo, pelompat harus melompati susunan batu dengan permukaan datar yang tingginya sekitar 1,8-2,2 meter dengan lebar 1 meter dan ketebalan 40 cm. Pelompat dikatakan berhasil jika dapat melompat tanpa menyentuh bagian batu.

Melompati batu dengan ketinggian tadi bukan hal yang mudah, ya Gaes ya. Bahkan kalo gagal, ada resiko cedera ringan hingga patah tulang. Makanya, para pemuda Suku Nias Selatan sudah berlatih sejak usia 7 tahun. Mereka menggunakan tali, anggota tubuh teman, hingga susunan batu dengan ukuran yang lebih kecil.

Pelompat dikatakan berhasil jika dapat melompat tanpa menyentuh bagian batu. (Foto : awsimages.detik.)

Konon keberhasilan dalam melakukan fahombo enggak cuma ditentukan oleh latihan, Gaes. Tapi ada juga faktor keturunan dan pengaruh hal-hal mistis. Oleh karena itu, sebelum ada yang ingin melakukan fahombo biasanya seorang tetua adat akan melakukan ritual untuk meminta izin kepada roh-roh leluhur dan para pendahulu yang pernah berhasil melompati susunan batu itu.

Keberhasilan dalam melakukan fahombo merupakan suatu kesuksesan besar. So, jika ada yang berhasil melakukan lompat batu ini maka akan digelar upacara adat untuk merayakannya. Keluarga akan mempersiapkan jamuan sedangkan para pemuka adat akan memberikan penghormatan.

Fyi, rekor fahombo tertinggi pernah dipecahkan pada tahun 2012 dengan ketinggian 2,55 meter oleh Derius Bu’ulolo dari Desa Bawomataluo. Ini melampaui rekor dunia lompat tinggi yang dipecahkan Javier Sotomayor dari Kuba pada pada tahun 1993 dengan ketinggian 2,45 meter. Keren banget, kan?

Oh ya, Gaes. Pada tahun 2020, fahombo juga sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Gimana, Gaes? Penasaran dengan tradisi fahombo? Kalo berlibur ke destinasi Pariwisata Indonesia di Nias, jangan lupa mampir ke Desa Bawomataluo dan jajal langsung lompat batu yang mendunia ini? Semoga berhasil!

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022