Nama bekakak diambil karena dalam upacara ini terdapat ritual penyembelihan korban, yaitu manusia. (Foto : Fransiskus Kurniawan)

Saparan Bekakak

Halo, Gaes!

Terkenal sebagai Kota Wisata, Yogyakarta enggak cuma ngandelin keindahan alamnya. Kota Gudeg ini juga punya banyak gelaran budaya yang menjadi magnet Pariwisata Indonesia. Salah satunya adalah Upacara Saparan Bekakak.

Nama saparan diambil karena upacara selamatan yang digelar setiap tahun ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 10 hingga 20 bulan Safar atau bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Sedangkan nama bekakak diambil karena dalam upacara ini terdapat ritual penyembelihan korban, yaitu manusia.

Eits! Tenang aja! Manusia yang disembelih dalam upacara ini hanyalah manusia tiruan atau boneka, kok. Boneka-boneka tersebut berwujud sepasang pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung beras ketan dan sirop gula merah.

Upacara Saparan Bekakak sering juga disebut sebagai Saparan Gamping karena lokasinya memang berada di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Gamping, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Fyi, Gunung Gamping merupakan monolit terbesar di Pulau Jawa, Gaes. Dulunya gunung ini adalah bukit kapur yang terbentuk pada masa eosin atau sekitar 50 juta tahun yang lalu. Karena masifnya aktivitas penambangan, bukit kapur ini hanya menyisakan sebongkah batu kapur besar dengan tinggi sekitar 10 meter.

Seperti kebudayaan lain di Nusantara, Upacara Saparan Bekakak juga punya cerita tersendiri, Gaes. Menurut catatan sejarah, kisah ini bermula di tahun 1755 ketika Keraton Yogyakarta sedang dibangun. Pada saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono tinggal di pesanggrahan atau tempat peristirahatan yang ada di Ambarketawang. Seluruh abdi dalam sultan, termasuk Kiai Wirosuto dan keluarganya, juga ikut pindah.

Kiai Wirosuto adalah salah satu abdi dalam penangsong atau abdi dalam yang bertugas memayungi Sultan Hamengkubuwono I kemana pun sang sultan pergi. Kiai Wirosuto juga disebut-sebut sebagai abdi dalem kesayangan sultan, loh.

Saat pembangunan keraton sudah selesai, sultan dan seluruh abdi dalem pun pindah, kecuali Kiai Wirosuto beserta istri dan keluarganya. Kiai Wirosuto memohon pada Sultan Hamengkubuwono I agar bisa tetap tinggal di Gamping. Sultan pun mengijinkan.

Akan tetapi, seperti kata pepatah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Suatu Jumat di Bulan Safar, Bukit Kapur Gamping mengalami longsor yang menyebabkan Kiai Wirosuto dan keluarganya hilang. Hingga sekarang, konon jasad mereka belum ditemukan, loh.

Setelah tragedi tersebut, longsor-longsor lain juga ikut terjadi, terutama di Bulan Safar. Untuk menenangkan warga yang resah, Sultan Hamengkubuwono I pun memerintahkan untuk menggelar Upacara Saparan Bekakak. Selain untuk menghormati arwah Kiai Wirosuto dan istrinya, upacara ini dilangsungkan untuk meminta perlindungan kepada Tuhan agar dihindarkan dari bencana, terutama longsor di Gunung Gamping.

Upacara ini memiliki rangkaian yang cukup panjang, yang dimulai dengan pelaksanaan malam midodareni bekakak (Foto : Infopublik)

Upacara ini memiliki rangkaian yang cukup panjang, yang dimulai dengan pelaksanaan malam midodareni bekakak yaitu malam dimana para bidadari turun dari kahyangan untuk memberi restu pada pengantin. Seperti malam midodareni untuk pengantin sungguhan, pada malam itu diadakan tahlilan, tirakatan, hingga pertunjukan wayang kulit dan reyog.

Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan kirab atau arak-arakan. Selain bekakak dan gunungan (berbagai hasil bumi yang disusun menyerupai gunung), pawai ini juga diikuti oleh prajurit, demang, hingga barisan berkuda. Arak-arakan akan berjalan menuju tempat penyembelihan yaitu di samping Gunung Gamping.

Upacara penyembelihan diawali dengan pembacaan doa dan diakhiri dengan pembagian bekakak kepada masyarakat yang hadir. Masyarakat meyakini bahwa bekakak pengantin tersebut akan membawa keberkahan. Selain bekakak, gunungan berupa hasil bumi pun dibagikan kepada para pengunjung yang hadir.

Oh ya, Gaes, sejak tahun 2015 Upacara Saparan Bekakak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalo penasaran dengan Upacara Saparan Bekakak, jadwalin kunjungan lo ke destinasi Pariwisata Indonesia yang satu ini di bulan Safar, ya Gaes ya…

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023