Tari Saman sebenarnya merupakan tarian dari Suku Gayo, yang berasal dari Aceh Tenggara. (Foto : goodnewsfromindonesia)

Tari Seribu Tangan yang Semakin Meng-global

Tari Saman, Salah Satu Magnet Pariwisata Indonesia di Bumi Serambi Mekah

Tari Saman, Salah Satu Magnet Pariwisata Indonesia di Bumi Serambi Mekah

Halo, Gaes!

Aceh bukan hanya terkenal dengan destinasi Pariwisata Indonesia-nya yang masih asri. Provinsi dengan julukan Serambi Mekah ini juga terkenal akan keseniannya. Yup! Salah satu yang terlintas di benak lo pastinya Tari Saman. Tari ini emang identik banget sama Aceh dan kerennya lagi, tari ini udah men-dunia, loh. Nah! Kali ini gue mau ngajak lo buat kenalan lebih jauh dengan Tari Saman.

Tari Saman sebenarnya merupakan tarian dari Suku Gayo, yang berasal dari Aceh Tenggara. Makanya, syair yang dilantunkan untuk mengiringi tari ini menggunakan bahasa Gayo. Selain bahasa Gayo, syair-syair tersebut juga menggunakan bahasa Arab.

Enggak perlu heran, Gaes! Pada awalnya Tari Saman memang digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam. Syair-syair dalam tari ini berisi pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa juga berbagai nasehat dan petuah, misalnya untuk saling hormat-menghormati dan menyayangi.

Karena merupakan media dakwah, dulunya Tari Saman menjadi tarian sakral yang hanya dibawakan di waktu-waktu khusus, seperti Maulid Nabi Muhammad saw. Tapi di masa kini, lo enggak perlu nunggu Maulid untuk melihat pertunjukan Tari Saman, Gaes. Soalnya tari ini sudah bisa digolongkan sebagai tari hiburan yang artinya bisa dinikmati di waktu-waktu yang lain, seperti festival kebudayaan, penerimaan tamu kehormatan, hingga acara pernikahan.

Beberapa literatur memberikan data berbeda terkait asal-usul pengembang Tari Saman. Ada yang mengatakan bahwa pengembang tari tersebut merupakan seorang ulama kelahiran Madinah yang datang ke Aceh pada abad ke-17, tapi ada pula yang mengatakan bahwa orang tersebut adalah ulama asal Gayo yang hidup di abad ke-14.

Meski terdapat perbedaan, tapi semua sepakat bahwa ulama tersebut bernama Syekh Saman. Nama Saman inilah yang disematkan dalam nama tarian khas Aceh tersebut. Syekh Saman juga disebut-sebut mengembangkan Tari Saman dari permainan rakyat bernama Pok Ane yang mengandalkan tepuk tangan dan tepuk di paha. Pada permainan tersebut ditambahkan salam di awal, syair-syair berisi petuah dan nasehat agama, serta kombinasi gerakan penari sehingga terciptalah Tari Saman.

Adapula sumber yang menyebutkan bahwa tepuk tangan dan tepuk dada yang menjadi unsur gerak dasar Tari Saman berasal dari tarian Melayu Kuno yang dipelajari oleh Syekh Saman.

Selain syair yang berisi nasehat, salah satu keunikan Tari Saman adalah tidak adanya musik yang mengiringi, Gaes. Meskipun seiring perkembangan zaman, ada yang mengembangkan Tari Saman dengan menambahkan lagu-lagu rohani atau menggunakan alat musik rebana sebagai pengiring.

Perkembangan Tari Saman juga bisa dilihat dari gender penarinya. Jika di zaman dulu tari ini hanya boleh dibawakan oleh kaum laki-laki, tidak begitu dengan zaman sekarang, Gaes. Perempuan maupun laki-laki bisa membawakan tarian ini. Tapi satu yang pasti, setiap penari harus mengenakan pakaian yang tertutup sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama yang mendasari perkembangan Tari Saman.

Selain syair yang berisi nasehat, salah satu keunikan Tari Saman adalah tidak adanya musik yang mengiringi. (Foto : wikimedia)

Penari pada Tari Saman biasanya berjumlah ganjil dengan minimal tujuh orang. Terkadang ada yang jumlahnya puluhan, ratusan, hingga ribuan. Kebayang, dong, gimana kerasnya latihan yang dilakukan untuk mewujudkan kekompakan dan gerakan yang harmonis dengan jumlah penari yang banyak? Makanya, ini yang jadi salah satu daya tarik Tari Saman.

Kalo dilihat, gerakan para penari memang hanya terbatas pada tepukan tangan, serta gerakan kepala dan tubuh, yang terkadang dilakukan berulang-ulang. Tapi, tempo gerakan yang berubah menjadi cepat dengan tetap mempertahankan kekompakan dari jumlah penari yang banyak, menjadi satu tantangan tersendiri yang membuat tari ini mengundang decak kagum dari para penonton.

Seperti yang udah lo ketahui, decak kagum penonton Tari Saman bukan hanya berasal dari masyarakat Aceh dan rakyat Indonesia. Tari ini juga sudah go internasional dan sering dipertunjukan di luar negeri. Kabar baiknya, tari yang mendapat julukan ‘Tari Tangan Seribu’ ini mendapat sambutan baik dari masyarakat internasional, loh.

Di tahun 2011, Tari Saman mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Keren banget, kan? Selain itu, Tari Saman juga sudah beberapa kali memecahkan rekor MURI dan dunia sebagai tarian dengan jumlah peserta terbanyak yaitu hingga belasan ribu. Wow!

Sebagai orang Indonesia, kita boleh ikut berbangga atas pencapaian prestasi dari Tari Saman dan berharap tari ini bisa ikut menjadi magnet agar Pariwisata Indonesia kian mendunia.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022