Yuk, Ikutan Grebeg Sudiro di Solo!

Imlek Makin Seru di Solo dengan Grebeg Sudiro

Imlek Makin Seru di Solo dengan Grebeg Sudiro

Halo, Gaes!

Kehadiran etnis Tionghoa di tanah air emang udah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan. Makanya enggak heran kalo banyak budaya Tionghoa yang berakulturasi dengan budaya Indonesia, bahkan menciptakan tradisi baru yang menjadi magnet Pariwisata Indonesia di daerah tersebut. Salah satunya adalah tradisi Grebeg Sudiro di Solo.

Grebeg diambil dari bahasa Jawa yaitu gumgrebeg yang artinya ramai atau bergerak bersama. Sementara Sudiro berasal dari kata Sudiroprajan yang merupakan salah satu nama wilayah pecinan (kawasan di luar Tiongok dengan mayoritas penghuni adalah etnis Tionghoa) yang ada di Solo. Sudiroprajan ini juga menjadi daerah lahirnya tradisi grebeg sudiro, Gaes.

Oh ya, Gaes, nama Sudiroprajan juga punya arti, loh. Menurut masyarakat Jawa, prajan bisa dimaknai sebagai kawasan atau wilayah. Sementara Sudiro adalah nama Jawa untuk untuk Sie Jin Kwie, salah satu jenderal terkenal dari Dinasti Tang yang lahir pada tahun 614 di Negeri Tiongkok.

Sie Jin Kwie yang memiliki nama lahir Xue Ren-Gui merupakan kesatria jujur dan memiliki kekuatan seperti macan putih, Gaes. Jenderal besar yang digambarkan selalu berpakaian serba putih ini selalu memperjuangkan dan membela negara tanpa mengenal lelah hingga diangkat menjadi panglima perang. Kisah tentang Sie Jin Kwie didramatisasi dalam berbagai karya fiksi mulai dari novel, drama, hingga tradisi wayang China-Jawa.

Balik lagi ke Grebeg Sudiro, tradisi ini diyakini merupakan pengembangan dari tradisi Sedekah Bok Teko yang terinspirasi dari kejadian yang dialami oleh Pakubuwono X, susuhan atau penguasa dari Kesunanan Surakarta yang memerintah dari tahun 1893 hingga 1939. Diceritakan bahwa suatu ketika Sang Susuhan berkunjung ke Sudiroprajan untuk menikmati teh dengan gula batu yang menjadi ciri khas di wilayah tersebut. Tapi, tutup tekonya jatuh di jembatan yang ada di sana dan sampai sekarang tidak ditemukan. Pakubowono X lalu menamai batu di jembatan tersebut dengan nama Bok Teko.

Selanjutnya setiap tahun menjelang imlek, di tempat itu dilakukan tradisi Sedekah Bok Teko. Dalam tradisi tersebut, masyarakat memanjatkan doa agar rakyat yang disimbolkan dengan teko dan penguasa yang disimbolkan dengan tutup teko, selalu bersatu sehingga tercipta kehidupan bermasyarakat yang tentram dan sejahtera.

Di tahun 2007, beberapa warga Sudiroprajan yaitu Oei Bengki, Sarjono Lelono Putro, dan Kamajaya menggagas tradisi Grebeg Sudiro yang merupakan pengembangan dari tradisi Sedekah Bok Teko. Tradisi ini pun disetujui dan didukung oleh para budayawan, tokoh masyarakat, pemimpin daerah, hingga lembaga swadaya masyarakat. Kemudian di tahun 2010, Grebeg Sudiro pun dinyatakan sebagai event tahunan di Solo.

Grebeg Sudiro disebut-sebut sebagai tradisi yang meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa. (Foto : kompasiana)

Dalam tradisi Grebeg Sudiro yang dilakukan di sekitar kawasan Sudiroprajan akan berlangsung kirab budaya berupa pawai dan arak-arakan gunungan. Gunungan ini sendiri merupakan tradisi Jawa yang kerap dilaksanakan untuk menyambut hari-hari khusus seperti Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, Idhul Fitri, dan Idhul Adha. Di akhir acara, gunungan yang berisi hasil bumi, aneka makanan, hingga kue keranjang ini akan dibagikan kepada para pengunjung secara gratis.

Agar lebih meriah, arak-arakan ini diiringi dengan musik dan tari-tarian tradisional. Uniknya, bukan hanya kebudayaan Jawa dan Tionghoa saja yang menyemarakkan acara yang dilaksanakan seminggu sebelum Imlek ini. Lo juga bisa menyaksikan kebudayaan dan kesenian dari berbagai daerah lain yang ada di Nusantara. Enggak heran kalo Grebeg Sudiro disebut-sebut sebagai tradisi yang meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kebayang, kan, keseruan dan kemeriahan tradisi yang menjadi daya tarik para wisatawan ini? Kalo di daerah lo, tradisi Imlek apa yang bisa menjadi magnet Pariwisata Indonesia? Yuk, sharing di kolom komentar!

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2023